Apakah Kita Butuh Traveling?

Pernah nggak sih, kita terpengaruh dengan ajakan teman untuk berlibur atau menjelajah ke suatu tempat karena melihat foto-foto pemandangan, pengalaman, dan ‘pencerahan’nya? Atau justru kita iri dan dongkol setengah mati karena si teman tadi kok bisa-bisanya berpetualang, dibandingin kita yang cuma duduk di belakang meja kerja, atau di rumah seharian?

Tenang aja.
Gue beberapa kali pernah berada di posisi itu. Mending kita high-five dulu sebelum gue lanjutin. Supaya senasib, yekaaan.

(SO CALLED) MILLENIAL TRAVELER

Best5 Steller

Akhir-akhir ini, kita sibuk banget dengerin (dan pura-pura ngerti) jargon kayak ‘Kaum Millenial’, ‘Generasi Y’, kan? Padahal ujung-ujungnya itu adalah satu kata yang bernama ‘kekinian’.
Singkatnya, generasi yang lahir tahun 1980-2000 lah yang patut dapet julukan ini. Yang menurut gue dan beberapa orang-yang-masih-diragukan-kebenarannya, merupakan generasi pembosenan, nggak setia, dan gampang berubah.

Trus, hubungannya dengan traveling apaan?

Sekarang ini gampang banget ditemui di kota-kota besar, ataupun kota-kota nanggung, kaum kekinian ini akan mudahnya membentuk komunitas. Sebarannya semakin menjadi-jadi dan tampak kurang solid. Mau contoh? Liat aja komunitas anti kopi sachetan, komunitas acroyoga, komunitas Anak EDM, komunitas musik indie, sampai ke komunitas para pejalan. Karena masih nggak yakin dengan pilihan yang dibuat sendiri, satu-satunya kegemaran mereka akan dibungkus dengan kata : “penikmat”

Agak bikin kesel, ngakunya penikmat, tapi sok taunya melebihi orang yang ahli. Ngakunya nggak terlalu menggemari sampai fanatik, tapi kalo giliran merisak orang-orang awam, dianya paling di depan. Sama seperti hobi jalan-jalan sebagian orang.

Bermula dari hobi yang sama, mengunjungi tempat-tempat wisata aduhai indahnya, para penikmat jalan-jalan ini pun mau nggak mau akan mencari dan membentuk himpunan dengan sendirinya. Kegiatan yang semula berbagi pengalaman semakin berubah menjadi menjijikan ketika semuanya berbagi kesombongan. Walapun udah dimanis-manisin, tetap akan kelihatan kayak : “Lu sirik, aja kan? Gue udah pernah ke sini loh.” Kan, ngehek.

SEJAK KAPAN TRAVELING JADI KOMPETISI?

IMG_7393 Steller

Sama seperti mereka yang tiba-tiba menyukai kopi arabika diseduh dengan suhu sekian-sekian, mendadak berpose yoga dengan badan dilipet-lipet, menggemari dan pergi ke acara-acara festival musik yang asing (semakin banyak orang yang nggak ngerti musiknya, maka akan dianggap keren) —-
maka seperti itulah yang terjadi di dunia traveling-travelingan zaman sekarang. Hampir semuanya sibuk berkompetisi. Gue aja lelah ngeliatnya.

Kalau mereka yang menggemari kopi, ada aja perlombaannya. Yang suka yoga pun, ada kejuaraannya. Begitu juga kegiatan seperti freeeletic atau night run yang memang ada patokannya. Yang membingungkan dari traveling adalah, ukurannya apa? Apakah ada semacam badge yang disematin ketika kita berhasil menjelajah ke puluhan destinasi wisata? Ataukah ada piala bergilir untuk mereka yang bisa berpetualang dengan dana seminimal mungkin? Ujung-ujungnya kan, masalah pengakuan yang dateng dari pembuktian, dan kadarnya gak bisa diperkirakan.

Nggak ada salahnya kok, jika kita memang menggemari sesuatu dan menganggap itu adalah oke… passion. Cuma nggak usah juga ikut menyepelekan orang lain yang nggak tau-tau dan nggak mau tau dengan minat apa yang kita miliki sekarang.

Bahkan ada kalimat yang dipake dan dijadiin template, lebih kurang isinya kayak gini “Nggak usah cerita seberapa tinggi elu sekolah, tapi lebih penting seberapa banyak elu jalan-jalan.” Blah.

KETIKA TEMAN CURHAT

Best10 Steller

Suatu waktu, ada temen baik gue tiba-tiba curhat.

Dia dibilang nggak gaul, nggak berpikiran terbuka, nggak bisa gabung sama orang baru, nggak bisa ina ini itu. Terakhir, dia dibilang kurang piknik, kurang jauh maennya. Yang ngatain itu adalah teman baiknya, bukan siapa-siapa, yang juga seorang pejalan mandiri. Gue sedih dengernya.

Karena gue kenal teman baik ini, gue jadi ikut ngeradang ada orang lain ngomongin dia seperti itu. Dan bukan sekali aja kejadiannya, tapi berkali-kali. Dan bukan ke satu orang aja, tapi ke orang yang nggak tau-tau tentang traveling, dan kemudian dijejekin pola pikir seperti ini.

Egotrap bikin semuanya jadi amburadul. Bepergian kemana-mana itu adalah pilihan, tapi mengolok teman yang nggak pernah kemana-mana itu keterlaluan.

DAFTAR DOSA DAN KALIMAT INDAH TRAVELER

IMG_5075 Steller

Jangan Di Rumah Aja, Indonesia Itu Indah.
Emangnya kenapa, kalau gue lebih suka tinggal di rumah? Kalau ternyata rumah gue sendiri udah nyaman, nawarin kehangatan dan keterbukaan, ngapain harus kemana-mana. Rumah gue indah kok. Gue bisa jalan-jalan dengan koleksi buku yang gue baca, dan gue nikmatin itu.

Traveling Itu Mencari Jati Diri
Kalau emang bener, yaudah, elu aja cari jati diri sendiri, ngapain ajak-ajak? Yang bermasalah itu kan, elu.

Hari Gini Gak Pernah Traveling?
Ini ejekan kesekian dari penganut jalan mandiri low budget. Jawab aja : So what?

Traveling Mengubah Karakter
Menjadi apa? Seorang snob yang rajin banget pamer foto-foto liburan ke media sosial? Mending nggak usah.

Jangan Lupa Bahagia
Yang bener aja? Sejak kapan bahagia itu menjadi semacam imbauan? Terus, kalau jalan-jalan begitu, langsung bahagia?

Ada Rumah Yang Dirindukan
Berarti ujung-ujungnya, para traveler ini kan rinduin rumah yang ideal, bukan?

Resign aja, kalau mau jalan-jalan.
What The Fcuk?!! Apa kabar tagihan, Njing? Lo aja ama keluarga-keluarga lo yang resign.

Oke, tenang. Para pejalan tipe ini memang dodol bukan maen.

MASLOW TALKS

Ada satu bacaan yang pernah gue baca, di dalamnya ada gambar ini :

137fc3d7f0b799f63bfc3d2814638106

Bahasa Inggris pas-pasan? Tenang, gue juga. Makanya, gue belajar. Pada gambar di atas, disebutkan bahwa manusia itu punya beberapa kebutuhan. Mulai dari kebutuhan dasar, hingga kebutuhan puncak. Mulai dari kebutuhan psikologis, rasa aman, cinta, harga diri, hingga aktualisasi diri. Hirarki Kebutuhan ini diciptakan oleh Abraham Maslow, bukan bokap elu.
Next…

Setiap orang butuh ruang yang berbeda-beda. Kalau kita menganggap traveling adalah gaya hidup seperti orang-orang di luar sana dan ikut sadar dan melestarikan lingkungan, benar-benar bergabung dengan orang lokal, menjelajah setiap jengkal daerah dan mematuhi kearifan lokalnya, ya itu bagus sekali. Tapi coba ditahan dulu keinginannya untuk merendahkan orang lain yang nggak seragam dengan minat traveling kita.

Aktualisasi diri pada setiap orang nggak pernah sama persis. Dan bukan hak kita untuk nyeragamin semuanya. Kalau itu terus elu lakuin, apa yang elu dapet dari kegiatan traveling, Nyet?

EVERYONE SHOULD TRAVEL?

IMG_7461 Steller

Bisa iya, bisa juga nggak. Setiap orang punya prioritas hidup masing-masing. Pertanyaan seperti : ‘Apakah semua orang itu harus traveling?’ sama kadarnya dengan ‘Apakah kita butuh kopi untuk tetap berkonsentrasi dalam keseharian kita?’, atau ‘Apakah kita butuh menikah untuk mendapatkan hubungan seks?’, atau ‘Apakah kita butuh gelas untuk dapat minum air?’ dan lain sejenisnya.

Kebutuhan yang nggak mutlak jadi sebuah keharusan.

Para pejalan memang berhak untuk ngejar mimpinya kemana-kemana secara pribadi, tapi sama sekali nggak ada hak untuk ngebunuh mimpi-mimpi orang lain.

Kata-kata ajaib dari Saint Augustine, buku-buku traveling, blog/situs tentang jalan-jalan, dan postingan di media sosial dengan kuote bikin baper (yang keseringan nggak nyambung) memang ramuan yang ajaib banget buat ngegerakin kaum millenial sekarang menuliskan satu lagi kegemaran di bio profil mereka , yaitu traveling.

Persetan dengan alasan mengenalkan wisata tersembunyi suatu daerah, ngajarin lebih berempati, atau tercerahkan karena perjalanan spiritual omong kosong lainnya, toh kalau ujung-ujungnya bohong ama diri sendiri.

Jujur emang jawaban paling bener deh. Kenapa sih sulit mengaku kalo kita adalah orang yang kebetulan mempunyai bisnis travel, penulis yang sering mengulas suatu tempat wisata, atau bekerja di dunia pariwisata yang mengharuskan untuk datang ke berbagai tempat, atau sedemikian kayanya sehingga bisa bepergian ke berbagai tujuan menarik di dunia, dibandingkan dengan mengatakan kalimat-kalimat inspiratif penuh pencerahan?

Sederhananya begini, jika elu sering melakukan traveling dan masih melakukan daftar dosa seperti yang gue bilang di atas, berarti kemungkinan besar elu sendirilah yang punya banyak masalah. Dan semakin ngeyakinin kalau traveling bukanlah satu-satunya jalan dan kebutuhan setiap orang.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Selamat memaafkan.

DSC_0086 Steller

Bacaan lain:
di sini
di sini juga
di sini ada lagi

Iklan

6 comments

  1. Hahaha lumayan juga daftar dosanya ya. Paling sebel kalo udah dibilangin, “heh di rumah aja, gak jalan-jalan?”

    Njir, dikira pelesiran bisa modal godong hwhwhw

  2. tulisan yg cadas sekali.. fakta saat ini..

    jujur aq yg suka jalan2 aja ga suka kalo ada orang yg meneriakan slogan “jgn sampe kerjaan mengganggu jalan2mu atau resign aja deh, indonesia itu indah atau bla bla bla lainnya”.. makanya disetiap tulisan blogku tak sempatkan nulis bahwa aq adalah orang yg profesional dalam pekerjaan, bahkan aq rela kehilangan duit 2 kali lipat demi bisa beli tiket pulang yg harganya melambung gegara hari libur agar keesokan harinya bisa kembali bekerja dan gak bolos.. jgn kaya tetangga sebelah yg sering tereak2 gue donk resign (katanya sih) demi bisa keliling indonesia eeh trus endingnya beberapa bulan kemudian binggung nyari kerjaan gegara modalnya udah habis, fiyuuuh..

    akhir kata, kebutuhanku saat ini adalah pasangan hidup om ton, iya aq butuh itu.. eeh malah curcol, hihihi..

    • Itu sih, Kak. Biasanya yang bilang gitu, ya mereka-mereka yang ngaku kerjaannya adalah profesional freelancer (nggak tau lagi mau ngomong pake sebutan apa, soalnya. Hahaha)

      Menurutku, adek Agus udah ngelakuin hal yang tepat, karena meletakkan kepentingan utama (pekerjaan) di atas kepentingan sekunder. Ini masalah tanggungjawab.

      Dan karena adek Agus bisa mengeksekusi pilihannya dengan baik, seharusnya sih bisa menemukan pasangan hidup yang baik dan melengkapi hidup adek Agus (sambil usap-usap kepala) :)))

  3. Tp lu masih inget mimpi waktu kecil?kalau jalan jalan terutama ke luar negri adalah salah satu mimpinya?segelintir orang punya pemikiran kalau bisa jalan jalan atau liburan itu adalah ukuran kesuksesan seseorang,memotivasi sama mencela jd beda tipis yak mas

    • Gue masih inget, dan bersyukur udah pernah, Nyet. Semakin ke sini (baca:tua) ukuran kesuksesan kan bukan diliat dari jumlah jalan-jalan. Pemikiran gitu yang dangkal banget. Bisa banyak faktor. Mapan secara finansial, kesehatan yang baik, keluarga penyayang, rumah nyaman, apa kabarnya?

      Sampai jumpa di Jakarta, ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s