Amazing Misool from Nut Tonton Homestay

Perjalanan ke Misool, Raja Ampat tak pernah murah dan mudah. Kombinasi keduanya hampir gak ada. Kecuali kalau kamu adalah penduduk tempatan di sana, atau pejabat yang punya koneksi di mana-mana. Well, awal Februari lalu, saya ke Misool. Catatan, saya bukan siapa-siapa, dan nggak nyiapin apa-apa. Selain, ya… modal nekat tadi.

Kembara slebor, nggak pake rencana, sering banget bikin kita kelayapan kemana-mana, dan ketemu siapa saja. Salah satunya adalah Mas Thalib, yang dengan baik hati menawarkan untuk tinggal di homestay miliknya di sebuah pulau kecil bernama Nut Tonton. 30 menit perjalanan dari kampung Usaha Jaya dan terletak di gugusan Kaunutlol, Misool, Raja Ampat.

Sebentar…

M-I-S-O-O-L?

Iya, Misool yang itu. Nggak usah lebay — Eh, boleh aja, tapi dikit.

Mengesampingkan kenyataan menyedihkan, bahwa dana saya cekak seabis ngikut trip ke Raja Ampat bagian utara (dan harus-pake-banget membeli Kartu Jasa Lingkungan /PIN Raja Ampat), kemudian diajak ke Misool merupakan kebetulan yang ena-ena.

IMG_6187 Steller
Sebentar, ini… homestay?

Hari H, turun dari kapal cepat yang menurunkan penumpang di Pelabuhan 35, saya dan Mas Thalib harus naik ke sebuah longboat yang bakal nganterin ke pulau yang dimaksud.

Dalam perjalanan, saya mengedarkan pandangan dari depan moncong longboat, dan melihat bebatuan karst dengan bentuk dan gulir-gulir yang unik di sebelah kanan dan kiri.

IMG_6686 Steller
Penampakan salah satu longboat ukuran kecil yang ditambat.

Begitu longboat bersandar pada dermaga kayu, sambil berjalan menuju daratan, Mas Thalib mengatakan bahwa homestay yang dibangunnya ini masih terbilang baru.

Dua kamar khusus yang berada di tengah adalah bangunan pertama yang hadir terlebih dahulu, dua tahun lalu. Diikuti dengan delapan kamar setahun belakangan. Sementara empat kamar yang terdapat di ujung sebelah timur, adalah kamar darurat yang pengerjaannya sengaja dikebut, mengingat jumlah tamu yang ingin menghabiskan waktu di sini, bertambah banyak setiap bulannya.

IMG_6698 Steller
Pasirnya alus meeen.

Sumpah ya, ini homestay kok bagusnya kebangetan? Mulai dari menjejakkan kaki di halusnya pasir putih di situ, mendengar deburan ombak yang menghantam karang. Paduan yang indah, apalagi kamu adalah tipe orang suka menyendiri.

Dinding kamar-kamar dan atapnya terbuat dari jalinan daun sagu (rumbia). Efeknya bagi saya sih sudah terasa, kalau siang menyengat jadi adem, dan ketika udara malam mulai menggigit, masuk ke dalamnya bisa jadi hangat.

Di 12 kamar standar yang saya lihat, terdapat dua buah tempat tidur yang dilengkapi handuk dan selimut, sebuah lemari rotan untuk meletakkan barang, dan kipas angin kecil. Sedangkan dua kamar privat, yang membedakan hanya tempat tidur, ruangan yang lebih luas, teras pribadi, dan kamar mandi kering di dalam. Hampir tak ada perabotan mewah.

Loh…, kamar mandi kering?

Yang artinya, hanya cebar-cebur doang atau cuci muka. Jika ingin buang hajat, ada biliknya sendiri di pinggir pantai. Satu-satunya bangunan dari semen yang terpisah dari bangunan utama di dalam sebuah cerukan menjorok ke dalam dan dilindungi oleh batu karang.

Pasokan listrik yang mengalir dari genset cukup untuk mengisi daya pada baterai gawai, kipas angin, lampu, kulkas, dan mesin pendingin makanan. Itupun efektif hanya dari pukul enam sore hingga 12 malam. Kecuali untuk kulkas dan mesin pendingin yang harus dinyalakan selama tamu masih ada, dengan bantuan genset yang lebih kecil ukurannya.

Turis bule, biasanya udah meminta, dari jam 10 malam, agar listrik dimatikan. Jadi, suasana benar-benar senyap. Aktifitas yang dilakukan ya, ngobrol, ngebir, dan ngeliat bintang.

Air tawar bersih yang tersedia di sini, berasal dari mata air di sekitaran kampung Usaha Jaya, dan didatangkan dengan tong-tong berukuran 200 liter yang diangkut dengan menggunakan longboat khusus, kemudian ditampung di lima tandon besar. Ini dikhususkan untuk mencuci bahan masakan, cuci muka, cuci tangan, wudhu, dan mandi. Untuk keperluan buang hajat, ada tandon khusus berisikan air laut bersih.

IMG_6132 Steller

Mengenai harganya, setiap orang akan dikenakan Rp700.000 per malam untuk kamar standar. Sedangkan private room yang ada terasnya, sebesar Rp900.000 per malam. Harga itu sudah termasuk penjemputan dan pengantaran dari dan ke pelabuhan (jika menggunakan kapal), sarapan, makan siang, cemilan sore, dan makan malam.

Tak lupa, ada dua longboat yang siap untuk disewakan, jika ingin menjelajah area. Perlu diketahui, menyewa longboat itu sangat berguna, apabila speedboat tidak mampu lagi menjangkau area tertentu pada saat air laut sedang surut. Misal, area Balbulol, Namlol, atau Yapap.

Bahan makanan sendiri didatangkan langsung dari Sorong. Apalagi sayur-mayur, telur, dan air galon. Karena tak ada yang menjual sayur-mayur segar di Misool. Jikapun ada, itu adalah para penjual yang mendatangkan dari pulau Seram, Ambon. Mulai dari daun pandan, sirih pinang, hingga ketimun.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Rata-rata mereka yang nginep di sini, adalah :

  1. Orang yang mengenal baik Raja Ampat.
  2. Grup yang sudah pernah menjelajahi atau mengikuti Open Trip di Raja Ampat bagian utara.
  3. Yang menyukai keheningan, ala-ala tanpa sinyal. Ada aja bule yang menginap di sini berhari-hari, dan waktu yang dihabiskan hanya untuk hammockan, baca buku, hammockan, baca buku, gitu aja terus.
  4. Kaum traveler menengah ke atas. Sorry to say, jarang banget solo backpacker di sini. Kecuali saya. #bodoamat.
  5. Peneliti dan pemerhati lingkungan.
IMG_6141 Steller
Right : Private Rooms, Left : Standard Rooms

Konon katanya, sakitnya karena diguna-guuuuuna nama Nut Tonton diambil setelah Mas Thalib dan keluarganya menemukan buah Nut Tonton di pulau ini. Daripada pusing-pusing mikirin nama yang cocok untuk usahanya, digunakanlah nama buah tersebut. Bener juga sih. Nggak mungkin buah Khuldi.

Karena di pulau ini sudah berdiri homestay, maka aktivitas memancing atau menembak ikan pun tidak bisa lagi dilakukan di perairan ini. Jika memang sudah kebelet ingin mancing, bisa meminta bantuan karyawan di sini untuk mengantarkan ke perairan yang agak menjauh dari pulau.

Artboard 3
Logo

TIPS :

  1. Pesan kamar ini jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan ada yang sudah sengaja memesan untuk Februari tahun depan.
  2. Setiap menjelang bulan Ramadhan hingga Hari Raya Idul Fitri, homestay ini tutup. Selain perawatan rutin, baikin ini itu, beberapa karyawannya pulang mudik.
  3. Ke depannya, homestay ini rencananya akan menambah dua kamar yang letaknya di bagian belakang pulau. Tambah private, deh.
  4. Bagi yang punya hobi menyelam, Nut Tonton Homestay juga mempunyai Dive Center dan Dive Master yang berpengalaman. Namun harus mengontak Mas Thalib terlebih dulu.
  5. Karyawan di sini, seringkali menjadi pemandu tur dadakan. Walaupun sukarela, jangan lupa untuk memberi mereka tip, ya? Yang nemenin, namanya Aleka, dan Monang. Atau Bahrun.
  6. Agustus-September, Desember – Januari, biasanya angin kencang. Ombat besar, bikin mabut. Mau snorkeling-diving pun nggak enak. Kecuali pengen tracking, atau caving.
  7. Siang hari, saat cuaca teduh dan laut tidak terlalu bergelombang, kamu bisa melakukan aktivitas snorkeling di…. SEKELILING PULAU NUT TONTON! Terumbu karang dan schooling fish-nya, terbaik.
  8. Ada sih, tempat buat nyari sinyal. Tapi harus treking dulu 15 menit, karena di puncak batu karang. Itupun hanya GSM, Telkomsel, dan telponnya harus ditaruh di dalam botol air mineral kosong. Supaya sinyalnya meningkat. #jangantanyasayakenapa
  9. Jika itinerary memungkinkan, cobalah untuk snorkeling atau diving di pulau yang berada tepat di depan homestay.
Raja Ampat (19)
Pas lagi sepi, inces jemur pakean dulu, ah.

Terakhir, jika ada yang bilang, harganya mahal untuk ukuran homestay. Pikir-pikir lagi deh… Ini loh, di kawasan terpencil. Jauh dari hikuk pikuk. Segala makanan dan air aja nggak ada on the spot, meeen. Semua harus serba dipesan dulu. Sebulanan saya di sini, akhirnya jadi tau, kalau dengan harga segitu, masih temasuk kategori aman.
Cek aja di Traveloka, ada di sini.

Trust me, it’s worth the price.

Credit to :

  • Gambar fitur : Fauzan
  • Gambar-gambar selanjutnya : Mas Thalib
  • Logo by : me and Alfian ‘saratdusta’.
  • Foto terakhir : Tonsky Lannister. Yeah,which is me.
Iklan

7 comments

  1. Bentar aku mau sirik dulu.
    .
    .
    Masih sirik
    .
    .
    Masih mupeng.

    Huaaa beruntungnya. Kalau denger Raja Ampat itu mesti kesannya mevvah ya. Dan emang, itu view yang ada di sana MAHAL ABIS! *selain emang biayanya mahal hehehe. Semoga bisa ke Papua Barat nanti. Syukur2 disponsorin juga menginap di Nut Tonton hahahaha *komen sambil nyepik ya begini hwhw

  2. Aku bilang sih hrg segitu mah masih muraaah lah. Include makan loh 3x.. Malah tadinya aku udh mikir bakal 2jt keatas mas.. Berarti sbnrnya yg bikin mahal itu transportasinya kesana sih yaaa :).. Harus nabung dr sekarang kayaknya :D. Dan kemungkinan besar, cutiku setahun bakal kepake semua kalo mau kesana 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s