Menjadi Tua dan Tidak Merepotkan

Tanggal 4 April lalu adalah hari ulangtahun saya. Yang ke…

Berapa, ya? *mau mendadak lupa* *tapi tak bisa*

Oke. 32.

32 Tahun.

Usia yang tidak muda, dan sudah jauh dari usia produktif yang biasanya dilakukan oleh kebanyakan orang. Yaitu: berinvestasi, mulai memikirkan untuk membantu orangtua, bahkan merancang acara pernikahan yang ideal. Saya sendiri tidak melakukan ketiganya, atau lebih jelasnya, tak melakukan apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang normal lainnya.

Tenang saja, tidak ada masalah hidup saya yang terlampau serius sehingga mengabaikan hal-hal yang saya sebutkan tadi.
Saya hanya belum mau dan tak mau tahu untuk memikirkannya. Tak ada yang salah, bukan?

Kecuali jika kamu adalah tipe yang mirip dengan keluarga besar saya di Ambon yang setiap hari mengorek-ngorek keterangan tanpa diminta dan kepo sejadi-jadinya. Namanya saja keluarga besar, jadi bisa dimaafkan. Atau bisa saja membalas perkataan mereka dengan lancarnya seperti yang sudah saya lakukan beberapa hari terkahir ini.

Tak ada tiupan lilin, celemotan kue tart, atau pesta hingar bingar, dan berlanjut ke tempat hiburan. Saya hanya ditemani dengan tayangan drama India di televisi, hingga selesai. Dan menghirup kopi pahit di kamar serta mendengar lagu-lagu yang keluar dari pelantang netbook saya. Sama seperti hari biasa.

Satu jam sebelum akhirnya saya terkulai capek dan tertidur, ada sebuah pertanyaan besar mengembang-menganga di pikiran saya, menunggu untuk diletuskan.

“Apa yang sudah saya perbuat hingga saat ini?”

Pertanyaan sama yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya, dan mengharuskan saya untuk menyusun semacam daftar pencapaian selama setahun ke belakang. Baiklah.

Baiklah.

Ingatan saya harus dipertajam lagi tampaknya saat itu. Dimulai dari beberapa perjalanan saya mengelilingi beberapa tempat di Indonesia, sebelum akhirnya berlabuh di kampung halaman saya di Ambon. Sempurna, bukan? Padahal, saya belum tahu kejutan apa yang menanti ke depannya.

Paling tidak, ada beberapa perubahan yang sangat besar terjadi selama lima belas tahun terakhir sejak saya pergi dari kota yang tiba-tiba berjuluk City of Music ini. Bukan perubahan pada infrastruktur kota yang lebih modern dan tertata, tapi tanggapan dari keluarga besar yang melihat penampakan saya seperti melihat Jon Snow yang baru saja bangkit dari kematian karena diselamatkan jampi-jampi Melisandre.

Intinya, mereka sepakat untuk mengatakan satu kalimat dan bisa teramini oleh anggota keluarga yang lain. Saya sudah jauh berubah.

CONTOHNYA?

1. Ketika saya datang, sontak beberapa anggota keluarga di sini terkejut, dan mulai bertanya-tanya apa maksud kedatangan saya. In positive way. Tentu saja mereka mulai sibuk untuk menata kembali tempat tidur, membuat masakan, dan harus untuk bercerita dengan mereka untuk beberapa lama.

Jawaban saya : “Tony mau tidur. Capek banget. Ntar aja ngobrolnya.”

Mereka terdiam. Dan membiarkan saya.

2. Begitu saya bangun, dan ingin mengisi daya ulang pada smartphone saya, beberapa anggota keluarga di rumah mulai memberondong dengan beberapa pertanyaan yang mereka simpan sejak belasan tahun lalu. “Gimana kabar Bapak?”, “Mau kemana aja, selama di Ambon sini?”, “Jangan lupa untuk mengunjungi si anu, si itu…” dan memberikan nama-nama keluarga lain yang harus dikunjungi. Termasuk pertanyaan sejuta umat, “Kapan kawin?”. D’oh.

Jawaban saya : “Baik-baik saja. Tony cuma mau pulang. Iya, nanti ada waktunya kok. Belum kepikiran.”

Mereka kembali memaklumi.

3. Ketika saya iseng pergi ke tempat dua orang keluarga yang asih terhitung paman dan bibi, sontak mereka terkejut dengan penampilan gembel saya. Apalagi dengan rambut bagian tengah yang sengaja saya panjangkan dan menguncirnya di atas kepala, tambah kagetlah mereka. Sebuah gambar tato jahanam di bagian atas lutut yang saya buat 14 tahun lalu, tersingkap ketika saya duduk, tak luput dari penglihatan mereka. Bikin meradang. Saya cuek. Tak peduli.

“Ya ampun Ton. Padahal dulu kamu itu penurut dan sopan, sekarang kok berubah banget ya? Aduh… Aduh… Kau apakan rambutmu itu? ASTAGA! Di dalam Islam, nggak boleh buat tato. Kenapa kamu bikin?”

Saudara yang lain ikut menimbrung : “Iya tuh. Padahal dulu dia itu cupu dan bego banget…” DHUAR!

Jawaban saya, sambil memandang bergantian ke arah mereka : “Iya nih, ini model rambut gak tau namanya apa, seneng aja. Dan memang Tony sudah berubah, sekarang tambah lebih hancur penampilannya, dan sebodo amat dengan penilaian kalian. Tony nggak peduli.”

Sambil menyeruput minuman kaleng dengan suara agak keras. SRUPUUUUUUT!

Pe-du-li-se-tan.

4. “Ton, ayo kita makan bareng. Kita udah bikinin masakan khas Ambon loh. Kamu mau digoreng atau drebus atau digimanain? Tempat tidurnya udah pas belum? Mau dianter lagi, gak ke tempat saudara yang lain?”

Jawaban saya : “Nggak usah repot-repot, Kak. Ntar juga kalau Tony laper, dibikin sendiri. Kalau Tony pengin jalan, bisa nyetopin angkot atau ojek sendiri. Eiya, tempat tidur dan lain-lainnya, ntar Tony rapihin sendiri. Santai saja.”

Jadi gitu. Dan semua pembicaraan tadi dilakukan dengan menggunakan bahasa Ambon. Oke? Oke.

Jika saja pembicaraan di atas terjadi beberapa tahun silam, mungkin saya akan mengiyakan saja seluruh pernyataan atau tawaran mereka. Siapa yang menolak dilayani dan diistimewakan sedemikian rupa? Dan dijamu sama persis oleh setiap keluarga besar pula. Namun hati saya berkata lain.

Begitu saya pulang, bersantai, mendengarkan celotehan berbahasa Ambon, melalui jalanan yang sudah mulai dipugar kiri-kanan pasca kerusuhan besar 17 tahun lalu, bernostalgia di lapangan sekolah dasar, ikut mendendangkan lagu ‘Turun Naik’, ‘Tobelo’, atau mencium asap kompor Hock yang baru saja dimatikan setelah selesai digunakan untuk memanggang kue, adalah indikator bahwa kebahagiaan saya sudah terlunasi.

Saya sudah pulang. Itu saja. Tak perlu lebih.

Saya tak perlu merepotkan dengan tetek bengek yang lain. Karena saya tahu, direpotkan itu berimbas kepada hal-hal lain, yang menyusahkan. Walaupun dalam hal ini, mereka melakukan dengan senang hati terhadap saya.

Dalam waktu dua hari, saya sudah berhasil meyakinkan, bahwa saya bisa mandiri dan melakukan sesuatu tanpa harus ada interupsi. Akhirnya mereka semua paham. Dan mulai melanjutkan kehidupan mereka seperti biasa, seperti tak ada orang istimewa yang baru saja datang. Saya senang.

AT THE END
– Saya sekarang mulai menggunakan angkot untuk pergi ke salah satu mall terkenal di wilayah Paso, dan mengetik blog ini di salah satu sudut tempat terkenal karena jualan donatnya.
– Saya mengendarai kendaraan sendirian, tanpa ditemani, dan menikmati setiap jengkal Jembatan Merah Putih, menyambangi Gong Perdamaian, pergi ke pantai-pantai yang bukan main bagusnya di tepi kota, menyantap hidangan khas yang belum tentu bisa ditemukan di tempat lain di Indonesia, berkelakar dan memaki bersama dengan teman-teman lama. Dan semuanya dilakukan dengan alaminya. Minim mengabadikan gambar dengan gawai. Buat apa? Kan rumah sendiri.

Iya, saya sudah jauh berubah. Bermetamorfosa menjadi orang yang mandiri, dan (mudah-mudahan) tak merepotkan. Karena merepotkan di saat kita menjadi tua dan berlagak seperti raja yang mau dimanja itu tak pernah diajarkan saat saya bepergian dan berkelana sendirian di beberapa tempat wisata di Indonesia.

Jadi, siapa bilang, saat kita melakukan solo traveling itu tak mengajarkan apa-apa? Hanya saja, kekurangajaran untuk menjawab pertanyaan keluarga pada cerita saya di atas, itu lain cerita.

Happy Birthday, Tonsky!

Papayoga Media Steller

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s