Baukurjalang di Raja Ampa – Pre

Siap-siap saja dengan bahasa orang Timur ke depannya, yak?

Sebenarnya tak ada yang spesial, jika kali ini saya memaksakan untuk membuat perjalanan ke Raja Ampat. Satu, sudah banyak tulisan serupa yang dikeluarkan oleh para pejalan. Dua, akses internet yang begitu mudah, pastinya ikut membuat informasi mengalir tanpa (perlu banget) melihat blog seseorang, bukan? Karena isinya pasti di seputaran pendapat pribadi. Ketiga, saya tak membawa peralatan mumpuni untuk mendokumentasikan perjalanan kali ini, selain dua buah ponsel dan netbook untuk merekam, mengambil gambar, dan menulis. But show must go on, baby.

img_20170208_183456
Dari jendela pesawat. Bukan dari jendela kost-kostan.

Impian saya ke muaranya penyelam kelas dunia ini sudah cukup lama. Bukan karena ingin melihat masifnya jenis terumbu karang dan kekayaan alam bawah lautnya, tapi ingin bersentuhan secara langsung dengan kearifan lokal bersama dengan penduduk tempatan. Ini yang tak bisa didapatkan ketika kita berjalan dengan gaya Trip Bersama atau Bebarengan. Lagian, waktu kosong yang saya sediakan juga nggak tanggung-tanggung. Sekitar tiga pekan.

Apakah saya tidak mempunyai aktivitas tetap, seperti yang dilakukan orang normal lainnya? (baca: PEKERJAAN.)

Beruntung, saya bukanlah orang normal dengan segenap kegiatannya yang membosankan. Setelah liburan dan mengambil pekerjaan sampingan sebagai dispatcher di salah satu penyedia tur milik teman di Kepulauan Derawan selama dua bulan, saya memutuskan untuk melanjutkan acara pribadi ke bagian lain Papua Barat.

img_20170209_015728
Ini tiket murahnya. Serius, murah bet.

Saya hanya mempunyai waktu lebih kurang sepuluh hari untuk memesan tiket one way, melakukan pertemuan dengan beberapa sahabat di Samarinda, juga menyempatkan untuk mengajar yoga. Terasa menghimpit sekali. Namun di dalam waktu tersebut, saya lebih belajar untuk mengatur waktu, dan menghadiri beberapa acara penting. Termasuk, menggosip tentang perubahan dan kelakuan kaum milenial kota tersebut.

Barang bawaan saya sendiri tidak banyak. Hanya beberapa lembar atasan-yang-itu-itu lagi, dua celana panjang + pakaian dalam, satu set alat snorkeling, dua sepatu kanvas, netbook-ponsel beserta kabel isi daya, earphone+portable speaker, satu buku bacaan, dua tas serbaguna, yang terlipat rapi di dalam carrier pinjaman berukuran 30 liter. Pokoknya, tak lebih dari berat bagasi yang diizinkan oleh maskapai.

Itinerary? Nope. Saya kali ini akan lebih berserah pada alam, dan keadaan. Lelah juga berserah kepada curhatan mantan #eaak. Yang saya punya hanya satu, niat. Niat itulah yang mengantarkan saya untuk mendapatkan dana pas-pasan demi menjelajahi sebagian tempat di sini, which was pergi ke SELURUH PULAU DAN PANTAINYA, adalah hal yang sepertinya masih jadi angan-angan. Sengaja saya tebalin dan menggunakan huruf kapital.

Kapan saya mulai bercerita? Jawabannya, nanti.

Saya akan mencoba menulis dengan bahasa yang belum pernah saya gunakan sebelumnya. Dan saya tidak menyesal untuk tidak menyertakan terjemahannya.

Sekian.

Barenti suda, dari tadi bacarita kong seng abis-abis tu… Depe inti tu, bajalang mau pi kamana mana tu tra perlu doi banya, tunggu tong jadi orang kaya, ato bakutunggu sampe jadi orangtatua baru pasiar. Kalo tenaga masi banya for kele tas, angka barang, gargaji jalang iko mau, tempo ini waktu yang paling butul. Mau tunggu sampe fruk? Tra riki.

Yang penting, kamong mangarti deng apa yang beta tulis, itu su cukup. Tunggu beta minggu muka, eee?

Kalo sinyal bagus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s