Sehari di Gua Loyang dan Gua Tengkorak, Batu Sopang.

Dengan luas daratan lebih dari 700 ribu kilometer persegi, pulau Kalimantan tak pelak menyimpan pelbagai titik-titik eksotis yang bisa dikunjungi. Pulau yang dimiliki oleh tiga negara ini pun memiliki ekosistem yang masih sehat, terlepas dari pembukaan lahan yang dewasa ini semakin menggerus untuk pertambangan, juga perkebunan.

Salah satunya adalah bukit karst yang hadir satu paket dengan gua-gua menawan.

Dua gua yang saya kunjungi kali ini bersama seorang rekan adalah Gua Loyang – atau Lojans, dan Gua Tengkorak, yang terletak di desa Kasungai, kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

dscn1742-steller
Salah satu gedung pemerintah di Penajam

Perjalanan dari Balikpapan membutuhkan waktu sekitar satu jam dengan feri penyeberangan dari pelabuhan Kariangau menuju pelabuhan Penajam. Diteruskan dengan perjalanan darat selama lima jam menuju jalan poros Batu Kajang, dan bertemu dengan petanda, yaitu Masjid Agung As-Salam.

masjid_agung_as-salam_batu_kajang
Masjid As-Salam. sumber:wikipedia

Lima belas meter sebelum masjid, di sisi kanan jalan, terdapat jalan masuk menuju desa Kasungai. Dari mulut pintu masuk hingga gerbang selamat datang desa tersebut memakan waktu dua puluh menit dengan kondisi jalan berpasir, dan cekungan lubang-lubang berukuran sedang.

Dengan dibantu dua warga untuk memandu jalan, tibalah kami di lahan luas yang cukup untuk memarkir sejumlah kendaraan. Terdapat pula dua saung untuk berteduh sejenak, sebelum memutuskan untuk menuruni dan menaiki puluhan anak tangga menuju gue pertama, Gua Loyang.

dscn1771-steller

Di sebelah kanan turunan anak tangga, terdapat petak lahan yang sengaja dibakar.

dscn1772-steller

Sebelum bertemu dengan jembatan kecil, dibangun rambu-rambu seperti gambar di bawah ini. Prakarsa pemerintah setempat dengan komunitas Batukajang Backpakers.

dscn1775-steller

dscn1777-steller
Dua pemandu, Andri dan Ary
dscn1781-steller
Harus bertemu dengan batu ini
dscn1783-steller
Juga yang ini

Dari sini, perjalanan akan terasa berat bagi pelintas pemula, karena akan bertemu dengan tangga kayu memutar berwarna ungu setinggi hampir dua puluh meter.

Hawa dingin langsung menyergap begitu tiba di mulut gua. Anehnya, tak tercium bau menyengat amonia khas kotoran kelelawar. Bebatuan kapur khas seperti stalaktit dan stalagmit lagsung dapat dijumpai dari sini.

dscn1792-steller
Pemandangan di dalam gua 1

Namun yang mencengangkan begitu mata melihat sekeliling adalah, salah satu kebiasaan paling memalukan, vandalisme!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

vandalisme/va·ndal·is·me/ n 1 perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya); 2 perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas. –  KBBI

Entah apa yang merasuki jiwa ‘penulis-penulis’ ini, tapi yang jelas jika ini tidak dihentikan, bisa dipastikan keindahan dalam ruangan Gua Loyang akan ternoda dengan perbuatan jahil selanjutnya.

Masuk lebih jauh ke dalam, lekukan batu yang indah berada di atas, kiri, dan kanan, sepanjang tanah licin yang terpijak. Banyak cabang yang entah menuntun ke arah mana. Maka dari itu, kehadiran pemandu sangat diperlukan untuk kegiatan menyusuri gua seperti ini. Agar kemungkinan tersesat bisa diminimalisasi.

dscn1803-steller
Pemandangan di dalam gua 2
dscn1806-steller
Pemandangan di dalam gua 3
dscn1818-steller
Pemandangan di dalam gua 4

Begitu tiba di ujung gua yang satunya,

dscn1858-steller

Pilihannya ada dua, apakah hanya sampai di sini kemudian kembali lagi ke tempat semula tadi, atau ingin mendaki untuk sampai di puncak gua. Mudah ditebak, pilihan yang saya ambil.

Menaiki bukit dengan tingkat kemiringan hampir sembilan puluh derajat, tidak pernah saya sebelumnya. Apalagi saya memakai celana berbahan jins, memakai sepatu kanvas, dengan membawa kamera, tanpa ransel pula. Bukan sesuatu yang bisa ditiru.

Beruntungnya, pengalaman mendaki dan terus menerus berlatih yoga, dapat membuat nafas tetap teratur, tanpa harus ngos-ngosan sesampainya di atas.

dscn1857-steller

dscn1825-steller
Tiba terlebih dulu
dscn1832-steller
Rekan yang terkapar
dscn1826-steller
Terbayar lelah.
img_20161014_144003-steller
Sampai!

Dari atas puncak gua, tampak gunung Meliat, lahan luas gersang ‘hasil’ tambang Kideco, dan gua Tengkorak.

Siang terik, tanpa ada tanaman peneduh selain bersandar pada bebatuan yang lebih tinggi, menjadikan keringat bercucuran deras. Namun tak menghalangi saya untuk mendapatkan dua pose untuk beryoga. Salah satunya adalah Side Crane Pose, dilakukan dengan kedua tangan di atas permukaan yang panas. Perlu dicatat, ini bukan latihan yang sebenarnya, hanya untuk melengkapi misi saya untuk melakukan yoga di mana saja.

Ada beberapa latihan untuk sampai ke pose yang berpusat pada kekuatan dan keseimbangan tubuh ini. Anggota tubuh yang bekerja adalah inti tubuh atau tubuh bagian tengah, bagu, tangan, dan sendi. Tanpa bantuan atau dampingan, yogi pemula diimbau untuk tidak melakukan pose ini pada awalnya, karena dapat menimbulkan cedera. Asyiknya, ini bisa dilakukan hanya dengan permukaan rata, tanpa perlatan.

dscn1843-steller
Parsva Bakasana

Setelah dirasa cukup setengah jam berada di atas, kami lantas memutuskan untuk turun, dan mendaki gua selanjutnya, Gua Tengkorak. Lintas turunan sama sulitnya ketika mendaki, ditambah kerja keras ekstra lutut yang menyangga badan. Total waktu yang dibutuhkan hingga tiba di bawah tangga melingkar verwana ungu adalah dua puluh menit. Durasi berkurang setengahnya dibandingkan saat naik.

Sesampainya di tempat diparkirnya mobil, perjalanan kembali dilanjutkan ke jalan utama desa Kasungai, dan berbelok ke arah kanan, menuju jembatan di atas sungai, yang lagi-lagi, berwarna ungu.

img_3703

Tak sulit menemukan gua Tengkorak, karena di bawahnya dibangun wahana permainan air, tak jauh dari ujung jembatan.

Namun sayang, saat itu kolam renangnya belum dibuka untuk umum.

dscn1861-steller

Kami kembali menaiki tangga.

dscn1862-steller

Dari atas, kita bisa melihat mengapa kolam renangnya belum dibuka untuk umum.

dscn1869-steller

Ternyata air kolamnya sedang dikuras, atau memang sengaja dikosongkan.

Secara pribadi, saya menyayangkan mengapa harus ada tempat bermain seperti ini, di sebuah situs yang bisa menceritakan sejarah mengapa gua ini di sebut gua Tengkorak, selain 35 tengkorak dan tulang belulang yang teronggok di depan mulut guanya.

dscn1872-steller
ungu lagi 🙂
dscn1878-steller
Ada bercak hijau berminyak, tak tahu darimana asalnya.

Yang mengherankan, sama seperti kumpulan tengkorak yang saya temui di Ke’Te’ Kessu, Toraja, warga di sini menyelipkan dan meletakkan batangan rokok di sela-sela tengkorak. Saya tak berani menanyakan lebih jauh, untuk apa mereka melakukan itu.

Kadang-kadang, ada pertanyaan yang tak perlu kita tahu jawabannya.

Derjalanan kali ini ditutup dengan berfoto bersama dua orang pemandu yang menemani ke Gua Loyang, Gua Tengkorak.

dscn1900-steller
Makasibanya

KESIMPULAN

Dibandingkan tiga tahun sebelumnya, derasnya informasi yang muncul dari media sosial, internet, dan dari mulut ke mulut, membuat dua objek wisata ini, tak terlampau sulit untuk didatangi.

HOW TO GET THERE

  1. Patokan pertama adalah penyeberangan feri di Karingau Balikpapan, menuju Penajam.
  2. Transportasi yang disarankan adalah motor. Namun jika ingin pergi beramai-ramai, baiknya menggunakan mobil. Dua-duanya sama bagusnya.
  3. Rute yang sama namun agak lebih jauh, akan mengantarkan kita ke Bukit Karst Sembinai. Dari atas bukit tersebut, pemandangannya menakjubkan.

TIPS

  1. Untuk yang baru pertama kali ke sana, sangat dianjurkan untuk bersama dengan pemandu.
  2. Tak perlu membawa makanan dalam jumlah banyak, kecuali jika ingin kemping. Namun, sedikit area datar yang bisa digunakan untuk membangun tenda. One day return aja.
  3. Alangkah bagusnya jika membawa peralatan seperti headlamp, sepatu khusus caving, dan pakaian yang ringan.

INFORMASI

  • Terdapat penginapan lima belas meter dari pintu masuk dekat dengan jalan raya, samping Masjid As-Salam. Selain menawarkan tempat bermalam, ada jasa penatu sekaligus menyediakan akses wi-fi.
  • Sinyal salah satu operator ponsel bahkan sudah mencapai 4G di wilayah ini.
  • Nama Gua Loyang bukanlah satu-satunya di Kalimantan. Karena ketika mengetik dua kata ini, ada nama gua yang mirip, namun berada di Aceh Tengah.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s