Pantai Pangempang, Muara Badak – Ngempingnya Pria Pria Cantek (iya, pakai ‘e’)

Menghabiskan akhir pekan untuk orang yang tinggal di Samarinda seperti saya, memang menjadi pe-er yang sulit. Tolong tandai tuh. Nongkrong di mall, coffeeshop, dan bioskop itu bahkan menjadi agenda sehari-hari. Ketemuan dan ngobrol masalah kerjaan, hingga kencan pun dilakukan di tempat yang muternya pun itu-itu aja. Nggak punya banyak pilihan.

Makanya, ketika ditawari untuk kemping semalam di Pantai Pangempang oleh Putu Indrawan, seorang teman, saya nggak mikir dua kali buat setuju. Lagian, jadwal kegiatan saya lumayan luang di waktu yang telah ditentukan. Mode sok sibuk dinon-aktifkan.

Satu jam setengah perjalanan dengan menggunakan motor memang bikin pantat lumayan lepek, apalagi jalur Samarinda-Muara Badak terkenal dengan aksesori lubang jalan aspal yang cukup banyak. Belum lagi jembatan kayu dengan tingkat lapuk bikin hati ketar-ketir ndak karuan. Namun berbahagialah, ketika berkumpul di titik temu, saya berdua Putu lekas disambut oleh Mbak Dian, sembari menunggu kedatangan teman yang lain.

Datanglah kemudian Fadly, Abi dan keponakannya, disusul Rafi, Rizal, Ilham, dan Amin. Total semua yang akan menghabiskan malam minggunya di pantai Pangempang berjumlah sembilan orang. Dan semuanya laki-laki. Perjalanan macam apa ini, nggak ada satupun cem-ceman? (baca: cewek). Semuanya menggunakan motor pula.

Letak pantai Pangempang sendiri harus ditempuh lebih kurang setengah jam dari tempat kita bertemu tadi. Tujuan selanjutnya adalah sebuah rumah makan di atas laut, yang kebetulan mempunyai dermaga panjang dan biasa digunakan untuk menyeberang ke Pulau Pangempang dengan menggunakan kapal kayu. Biaya untuk parkir motor sebesar lima ribu dan ongkos kapal 20 ribu rupiah per orang langsung ditarik oleh penjaga di situ.

Dari dermaga, perjalanan kapal ternyata memakan waktu setengah jam. Awalnya, rencana kami adalah tiba di pulau pada pukul lima sore sekaligus menikmati matahari tenggelam, tapi yaelah, telat-molor-lelet-cs mengakibatkan kami tiba di tempat tujuan sekitar pukul delapan malam. Padahal yang pergi semuanya itu laki-laki sih. Nggak ada cewek manja, nggak ada yang hobi dandan, atau tiba-tiba lemes badan di jalan. Ini laki, … apa lakik?

2016-10-04-photo-00000151

Kebetulan malam itu bulan purnama, sehingga jalan menuju tempat kemping tidak terlampau gelap. Lokasinya sendiri berada lebih kurang tiga ratus meter dari jejeran warung dan lapak. Sebabnya, karena kita bersembilan ingin menyendiri dan tak ingin bergabung dengan anak-anak muda yang riuh genjrang genjreng nggak jelas.

Aelah, bilang aja kita udah tua.

_mg_6915-steller

Malamnya, untung tak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak. Hammock yang sengaja dipasang untuk bisa berleha-leha manja pun tak dapat menangkis serangan Agas. Serangan dimulai ketika angin behenti berembus.

Acara malam yang seharusnya syahdu karena diisi dengan obrolan khas pria berakhir dengan membalur dan menyemprot kasai penolak nyamuk di seluruh tubuh. Lebih dari dua produk dipakai, tandas tak bersisa. Tingkat kekesalan karena gatal yang ditimbulkan Agas memang tak terkira.

Malam itu kami tertidur pukul tiga dinihari. Selain karena lelah berurusan dengan Agas, kami tak ingin melewatkan kesempatkan untuk mengabadikan gambar matahari terbit beberapa jam ke depan.

_mg_6912-steller

Telat. Kami semua terbangun dan melihat mendung mulai menggelayut di langit. Pemandangan cerah yang diharapkan tak kunjung tiba.

Mendung pun berganti hujan lebat. Kami pun berpencar menyelamatkan hammock, flysheet, dan berteduh di tiga tenda yang memang sudah dipasang sejak semalam.

Astaga. Kemping kita kali ini kurang sesajen, sepertinya.

_mg_6975-steller

Untungnya, hujan tak berlangsung lama, hanya sejam. Namun cukup membuat api unggun yang kita buat untuk mengusir Agas semalam, menjadi onggokan kayu basah. Beberapa perlengkapan juga tak bisa digunakan karena terkena cipratan air hujan.

Saya tidak terlalu mempermasalahkan, karena tujuan utama kita semua ke sini selain kemping adalah mencoba air lautnya. Dan mengambil foto sebanyak-banyaknya eh, secukupnya.

_mg_6970-steller

Tuh, kan. Tanpa wanita pun kita bisa aja kok berfoto ala-ala fotomodel. Berbekal layback berwarna pink, semuanya tampak indah ulala di mata.

_mg_6992

Jangan lupa untuk berpose yoga dimanapun. Karena itu mutlak. Koleksi lengkap saya jumpalitan berbagai gaya – masih sedikit sih – bisa dilihat di akun instagram: @tonsky_yogapacker

Pose di atas dinamakan Side Crow/Crane Pose atau Parsva Bakasana dalam bahasa Sanskrit. Berguna untuk membentuk otot lengan, perut dan keseimbangan badan. Tentu saja, buat pemula, belum dianjurkan untuk berpose seperti ini tanpa ada pendamping.

_mg_6938-steller

Demi melihat Amin dan Iksan, keponakannya Abie, yang mendapatkan kerang putih sewaktu berenang di pantai. Kami semua lantas mencari, menggaruk, menggali pasir, di tepi pantai. Hasilnya lumayan untuk sarapan pagi. Mevvah banget, kan?

_mg_7027-steller

Kerang atau Kupang, adalah salah satu makanan yang banyak ditemukan di lumpur tepi lau, dan temasuk hidangan yang banyak dipesan di restoran atau rumah makan khas makanan laut. Banyak yang mengatakan bahwa Kerang mengandung kolesterol yang tinggi. Tapi sebenarnya, kata ahli dan pakar, kolesterol dalam Kerang justru lebih rendah dibanding daging Ayam , Sapi atau Kambing yang sering kita makan.

Para ahli juga sering mengimbau bahwa Kerang adalah hewan laut yang paling cepat menyerap polutan dari laut, termasuk bakteri seperti salmonella, dan virus seperti hepatitis A. Ngeri banget deh, kalau lihat jurnalnya di dunia maya.

Tapi yang namanya lapar, siapa yang mau nahan? Lagian kita rebus kok. Anggap aja nutrisi alam. Dan inget, kita semua laki-laki. Nggak ada yang ngerepotin soal jumlah kalori yang masuk, atau gizi yang disantap. Karena kalau mengenyangkan, sebodo amat ama jurnal-jurnal ilmiah.

Kami pun bersiap untuk pulang. Setelah membereskan alat perkemahan, kami berangkat lagi menuju dermaga. Namun sebelumnya, ada pemandangan bagus di sini.

Ilalang!

Saatnya mengabadikan kegilaan kami di tengah hamparan ilalang tinggi dan gatal menusuk bukan main. Tapi terbayar dengan jepretan kamera milik Fadly, yang membuat wajah biasa kami berubah jadi berbinar-binar seperti baru dirukiyah minggu kemarin.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Akhirnya pulangan. Bener pulang. Kapal sudah menanti untuk menjemput kita pulang ke pusat kecamatan Muara Badak. Karena Mbak Dian sudah menyiapkan hidangan Kepiting asam manis untuk kita santap.

Tuh kan, kapal aja menanti kita. Masak kamu, para wanita, nggak bisa menanti abang-abang ini buat kumpulin modal masa depan? #okereceh #banget

Nah, ini dia yang kita tunggu.  Masakan Mbak Dian emang nggak ada tiganya di Muara Badak. Soalnya dua orang yang lain adalah yang beneran tukang masak kepitingnya. Mbak Dian beli yang sudah dalam bentuk jadi. Siap makan.

2016-10-04-photo-00000155

2016-10-06-photo-00000158

Tuh, si kecebong aja sumringah banget dapet remahan kepiting.

OKE, SEKIAN.

How To Get There

  • Seperti yang diceritain di atas, Muara Badak itu cukup dekat dengan Samarinda. Total perjalanan Samarinda-Muara Badak menggunakan motor nyelip sana sini, berkisar 1-1,5 jam. Kapal kayu menuju pantai Pangempang, setengah jam. Siap sedia sampai jam 8 malam. Jika menggunakan mobil, estimasi waktu ditambah setengah jam, lah.
  • Biaya : Bensin full tangki + biaya parkir dan kapal = 25ribu + bekal konsumsi pribadi. Siapkan sendiri.
  • Jika tak ingin repot membawa konsumsi, di Pantai Pangempang sendiri telah berdiri lebih dari satu warung yang menjual makanan, minuman, dan cemilan.

You Have To Prepare

  • Kasai penolak Nyamuk. Karena belum ada produsen yang membuat kasai penolak Agas. Kalau mau bawa yang penolak bala, oleh uga.
  • Hammock, tenda, layback, ataupun properti berwarna-warni. Karena walaupun terlihat perkasa, wibawa itu lenyap seketika jika ada yang membawa kamera jenis SLR, atau spek yang lebih tinggi dari itu. Hobi foto-foto mendadak menggila.
  • Stamina yang cukup. Karena mode transportasi seperti motor, kapal kayu dan lintas darat yang lumayan jauh, cukup menyita tenaga.

What’s Interesting?

  • Air lautnya JERNIH. Beda dengan karakter air laut di beberapa pantai terkenal di Balikpapan, yang cenderung seperti kopi susu. Meski bukan pasir putih, tetep worth to visit laa, apalagi buat penyuka liburan dan tinggal di Samarinda, dan merasa kejauhan untuk berpesiar ke Bontang, alih-alih ke Kepulauan Derawan.

* Di cerita di atas, saya lupa untuk memasukkan cerita bahwa kita semua berenang di pantainya. Namun atas nama keselamatan mata kita bersama, saya tidak akan menampilkan foto-foto perut one-pack menggelambir kemana-mana. Atau ketika mereka jatuh bangun menaiki laybag di atas air. Jangan.*

  • Di beberapa tempat justru terlihat sangat memesona untuk diabadikan. Kalau saja tidak mendung, pemandangan matahari terbit di sini sanggup bikin kita lupa hutang. Begitu mataharinya udah mulai tinggi, hutang pun teringat lagi.
  • Jangan lupa hamparan ilalang hijau. Saran saya pribadi, gunakan pakaian berwarna kontras, misalnya: merah, hitam, atau biru tua. Hindari kuning atau hijau muda. Situ nggak mau terlihat seperti kotoran Belalang, kan?

Kalau sudah tiba dan berbahagia di sini, walaupun pura-pura, kabari aja, ya? Saya pengen denger ceritanya.

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s