Pete’s Dragon – Elliot Gets Lost

Disney sepertinya tak kurang akal untuk menghibur para penontonnya – khususnya anak-anak, sekaligus menghapus pendapat banyak orang bahwa seekor naga secara jasmani haruslah bersisik, berkarakter dingin, dan menyeramkan. 

“Apakah petualangan itu menakutkan?” Tanya Pete kecil.
“Tergantung. Apakah kamu berani?” Ayahnya kembali bertanya.
“Tentu saja,” Ujar Ibunya, sambil berbalik menatap Pete yang duduk di bangku belakang mobil. “Aku pikir, kamu pria pemberani yang pernah kutemui.”

Obrolan di atas terjadi antara Pete kecil (Levi Alexander) dengan orangtuanya di sebuah mobil dalam perjalanan liburan mereka. Ia membaca buku berjudul ‘Elliot yang Tersesat’, dan bertanya tentang arti petualangan, beberapa saat sebelum kecelakaan terjadi akibat mobil yang mereka tumpangi terbalik, dan menewaskan Ayah Ibunya.

Hidup Pete berubah mulai pada saat itu. Ia berlari masuk ke tengah hutan demi menghindari kawanan Serigala, dan kemudian ditolong oleh Naga yang kemudian ia panggil Elliot. Hingga enam tahun kemudian, rentetan kejadian membuatnya harus memilih, apakah ia akan terus bersama dengan Naga yang menyelamatkannya, atau hidup normal dan mempunyai keluarga seperti manusia lain pada umumnya.

petes-dragon-3
Sumber : Google

Keputusan sutradara, David Lowery (Ain’t Them Bodies Saints, Pioneer) untuk membuat sang Naga – Elliot berbulu, benar-benar berdasar dari idenya bahwa hewan tersebut haruslah sesuatu yang bisa dipeluk, disayang, atau dibelai-belai. Menurut tulisan di nerdist dan IGN, Lowery bahkan menolak jika naga di filmnya harus seperti serial Game of Thrones. Di lain sisi, ia harus berusaha keluar dari bayang-bayang tokoh di film dengan judul yang sama, empat puluh tahun lalu.

Pemilihan pelaku utama, yakni: Pete (Oakes Fegley), walaupun harus disambut baik, ternyata harus dibayangi oleh dua protagonis di belakangnya, yaitu seorang ayah dan putri tunggalnya, Mr. Meacham dan Grace Meacham (Robert Redford, Bryce Dallas Howard), yang terkesan mendapat jatah khusus untuk mendapat sorotan dalam film ini. Juga kehadiran sepasang kakak beradik, Jack dan Gavin (Wes Bentley, Karl Urban), yang bersikeras mencoba untuk mengais perhatian penonton. Serta Natalie (Oona Laurence), anak perempuan Jack.

Adegan saat Pete berkejaran di antara pepohonan dengan Elliot, sedikit mengingatkan penonton pada tokoh Tarzan, dan Mowgli di The Jungle Book. Kesamaannya terletak di bagian lincahnya mereka bertiga menaiki, memanjat, berlari dari dahan pohon satu ke pohon yang lain. Perbedaannya, ya itu, pada hewan yang menyertainya. Jangan lupa bahwa ketiga film di atas juga dibuat oleh Disney.

Alur cerita dibuat sedemikian mudah, dan dipenuhi dengan kalimat-kalimat manis  yang sangat cocok untuk penonton belia. Kata-kata lembut yang keluar dari mulut Grace pun dapat dipahami meski tanpa bantuan tulisan terjemahan. Begitu pula saat Mr. Meacham membius perhatian anak-anak kecil di depannya kala ia mendongeng. Alami.

Di film ini, tak akan dijumpai perselisihan yang berarti, semuanya akan bisa diselesaikan dengan baik, dan penuh kekeluargaan. Karena ingin terlihat baik-baik inilah, penonton dewasa yang mengharapkan lonjakan emosi, akan duduk tenang dan cenderung merasa bosan pada pertengahan film. Karena ada beberapa adegan yang jika dihilangkan pun, tak mengapa. Namun ingat, ini adalah film yang ditujukan buat dinikmati satu keluarga, yang ada anak kecilnya.

Pete's Dragon 2.jpg
Sumber : Google

Sedari awal film, penonton disuguhi warna warni pemandangan yang memesona. Tak salah jika Selandia Baru dipilih. Mulai dari hutan California Redwoods di Rotorua, Mclarren Falls Park di Bay of Plenty, Queenstown, Tapanui, sampai Wellington. Tempat terakhir adalah adegan di mana Pete melarikan diri dari rumah sakit dengan berlari, melompati mobil dan bus, dan terpojok di dinding kayu milik warga.

Asal tahu saja, pemeran Pete harus berkaki telanjang, lebih dari 80 persen pengambilan gambar. Termasuk di dalam hutan dan pemukiman.

Tokoh Elliot pun diciptakan dengan sifat yang penyayang, baik budi pekerti, kesepian, haus belaian dan kasih sayang – Oh sebentar… kok seperti saya? #tsurhat – juga dengan tampilan fisik yang berbeda. Berbulu hijau lembut, dapat bersinar terang kala disentuh, mempunyai telinga seperti Anjing, memiliki kemampuan menghilang, dan tentu saja kekuatan tersembunyi yang bisa disaksikan menjelang akhir cerita. Lowery bahkan harus menonton beberapa film agar ia mendapatkan inspirasi untuk membuat karakter naga seperti yang diinginkan.

Sekadar informasi, lagi, ia mencontoh burung Albatros saat terbang landas dan burung Camar saat mendarat, untuk diterapkan pada Elliot.

Pesan-pesan tersembunyi banyak ditemui di film ini. Hampir semua bernada positif. Jangan ragu untuk menonton film ini beserta anak, keponakan, murid, atau adik calon gebetan. Karena sesuai dengan pengalaman pribadi, baru kali tadi seluruh deretan bangku di bioskop yang dipenuhi oleh sebagian besar anak kecil, mampu hening. Dalam artian diam antusias, tanpa rewel dari awal hingga akhir.

Sebagai orang yang terbiasa mendongeng dan didongengi, saya terpikir untuk segera membeli replika karakter Elliot, jika diperjualbelikan. Petualangan indah serta mimpi yang ditawarkan oleh film ini begitu bertautan dengan kehidupan nyata. Tak mengada-ngada. Kecuali sang naga tentunya.

Tapi, siapa tahu?

Score : 8/10

img_3344

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s