50 Jam Jakarta-Medan Dengan Bus? Siapa Takut.

AWALNYA.

Keputusan saya untuk pergi diam-diam menghadiri acara pernikahan teman baik saya, harus ditebus dengan luka lecet di beberapa titik di badan, pegal yang menggila, dan juga pengalaman yang luar biasa.

Sebenarnya saya dan Dwi, teman yang menikah, bukanlah sahabat kental kesana kemari sedari kecil. Kami hanya kebetulan bertemu pertama kalinya saat kemping di hutan Berambai, Desa Pampang, bersama dengan teman-teman yang lain. Karena berasal dari satu komunitas yang sama, intensitas bersua pun lebih dari sekali. Puncaknya, saya dan Dwi bepergian bersama ke Manado, dan menyusuri Kepulauan Bunaken, awal 2015 lalu. (baca di : Gara-Gara Garuda Indonesia… )

Perkenalan Dwi dengan Yoan, istrinya, juga terjadi saat kita bebarengan pergi bertualang ke Kepulauan Balabalagan, Oktober 2015 (baca di Ada Surga Di …). Setelah menjalanai hubungan jarak jauh yang lumayan lama, menikahlah mereka di hari ini. Kalau dirunut pelan-pelan, hampir tak ada yang istimewa dalam hubungan mereka. Karena menurut pandangan saya, hubungan jarak jauh itu hanya menyisakan lelah hati, pikiran, dan paket data. Jarang sekali yang berhasil. Sounds shallow, ain’t it?

Maka ketika Dwi mengutarakan rencananya ingin menikahi Yoan bulan Juni lalu, saya sempat terhenyak. Apalagi dia mengatakan, kalau saya harus menyediakan waktu untuk melihat proses pernikahannya di tempat yang jauh dari Samarinda. Tepatnya di Medan. Baiklah, saya mengiyakan waktu itu. Walaupun dalam hati berharap, agar sesegera mungkin Dwi dan Yoan berubah pikiran dan mengubah lokasi acara, sehingga saya tak perlu repot-repot bepergian ke pulau Sumatera.

Hingga pekan lalu, saat saya bimbang memutuskan untuk pergi ke sebuah festival akbar tahunan di Bali, (baca di Jackpot di Soundrenaline…), atau menghadiahi kejutan untuk Dwi. Jika saya memilih untuk menghadiri pernikahannya, sejumlah penampilan dari artis domestik atau mancanegara, pastinya akan terlewatkan. Apalagi tahun ini diisi dengan musisi yang tak perlu diragukan kualitasnya. Namun, saya juga berpikir, bahwa pernikahan dua teman saya tersebut tak akan pernah terjadi kedua kalinya. Maka saya memutuskan nekat ke Pulau Sumatera, seorang diri, dengan sesedikit orang yang tahu. Kejutan takkan berarti jika tidak dibarengi rahasia, bukan?

Nah, itu adalah latar belakang tulisan kali ini. Supaya tidak ada pertanyaan yang tersisa. Mari kita lanjutkan pengalaman saya dari Jakarta ke Medan, ya?

Susah kali aku kalau menjelaskan dari awal, bah.

————————————————————————–

Begitu pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, dan mengantarkan saya di terminal barunya, pilihan kembali terjadi. Apakah saya akan sesegera memesan tiket penerbangan ke Medan, atau akan mengikuti rencana semula sejak saya masih berada di Pulau Derawan, yaitu menggunakan moda transportasi bus lintas provinsi? Dan lagi-lagi, saya memilih opsi kedua.

Setelah malamnya disibukkan dengan mencari-cari agen bus Jakarta-Medan, dan memilah satu persatu, saya tertarik dengan Bus Medan Jaya. Julukannya cukup membuat bergetar, yaitu, ‘Peluru dari Medan’. Saya baru menyadarinya sejak bus yang saya tumpangi tersebut bertolak dari dermaga Bakauheni esok harinya.

Pool dan penjualan tiket yang merespon saya, dengan cepatnya, berada di Cililitan, tepatnya di depan gedung BKN. Karena Bus AC baru tersedia keesokan harinya, dengan berat hati, saya memilih satu-satunya bus saat itu, yaitu jurusan ekonomi yang terparkir mirip dengan Bumble-Bee yang sakit demam di area parkir. Dan ketika melihat interiornya, saya kurang yakin bahwa itu adalah kendaraan yang nantinya akan saya duduki puluhan jam ke depan. Fiuh.

img-20160904-wa0012
Tiketnya.

Berangkat pukul 11.30 WIB, tiga puluh menit terlambat dari jadwal semula karena macet di jalanan Jakarta, saya mengambil posisi sesantai mungkin di belakang Kernet. Namun rasa santai itu tak berlangsung lama, ketika pandangan saya mengitari ujung ke ujung dashboard, hampir tak ada perangkat stereo untuk memutar lagu atau bunyi-bunyian, khas orang pulang ke kampung halaman. Puluhan jam hanya dengan suara mesin mobil dan celotehan sopir dengan kernet sepanjang jalan? Ini bukanlah perjalanan yang diimpikan.

img-20160904-wa0021
Peluru dari Medan

Perjalanan kemudian mengantarkan ke Dermaga Merak. Saya baru tahu, ada dermaga rasa terminal di sini. Jika di terminal, orang-orang yang berdatangan akan dibujuk untuk menaiki bus, kali ini obyeknya berbeda, karena bus yang ditawari untuk memasuki dalam galangan kapal feri penyeberangan. Keheranan pun bertambah, ketika pak Supir dengan lincahnya mengitari area pelabuhan yang cukup sempit dengan manuver bus yang ia kendarai, demi mencari kapal yang akan segera berangkat. Uwedan.

Begitu sudah sampai di kapal Virgo …( saya tak ingat namanya), dan berlayar selama tiga jam, feri berlabuh sore harinya di dermaga Bakauheni. Di sinilah awal saya mulai merasa, bahwa ini akan menjadi perjalanan yang sangat lama.

MEDAN JAYA BUKAN UNTUK YANG LEMAH JANTUNG, LAI!

Pak Supir perlahan mulai menaikkan kecepatan bus. Namun itu bukan yang saya ingin sampaikan. Caranya menaikkan kecepatan sambil menyalip dua truk sawit di depannya di jalan dua arah, perlahan membuat tensi darah saya ikut merangkak. Bukan hanya itu, klakson yang dibunyikan berkali-kali ketika bus melaju, seakan menyempurnakan pemikiran saya, bahwa ketika di jalanan lintas Sumatera, bus Medan Jaya janganlah didebat.

Apa yang saya perbuat waktu itu? Tertawa.

Saya sudah pernah melintasi beberapa tempat dengan menggunakan bus. Terakhir kali selama 18 jam menuju Banjarmasin dari Samarinda. Namun tak pernah menumpangi bus dengan tingkat kegilaan seperti supir bus, Medan, Medan Jaya, ekonomi pulak. Buat apa bersedih, jika setiap kali memandang ke depan, tontonan yang ada seperti menyuguhkan sinema mendebarkan dengan efek tiga dimensi? Ketakutan berlebihan pun ditunjukan kepada dua orang penumpang, ibu dan anaknya, yang bangkunya berseberangan di sebelah saya. Belum lagi decak gulana dari beberapa penumpang di bagian belakang. Maka dari itu saya tertawa. Supir bus tak mengindahkan. Ia hanya berkata dengan lantang :

“Lae, bis ini bukan untuk orang lemah jantung, tau kau? Siapa yang siap naik Medan Jaya, berarti dia sudah siap pula untuk copot jantungnya.”

Oke, terima kasih infonya, Pak. Sungguh membantu.

Malamnya, ketika saya sudah siap untuk merebahkan diri di atas dua bangku yang dapat ditekuk ke belakang, liukan bus kembali terjadi karena menghindari rombongan sapi di tengah jalan, sontak melontarkan badan dan ransel yang saya taruh di depan kaki, ke arah samping. Kali ini saya terjungkal, dengan posisi yang tidak sedap dipandang. Sialan.

Sembari merapikan botol air mineral, ransel dan posisi badan agar bisa tidur kembali, saya sibuk menggerutu. Anehnya, tak ada penumpang yang berdehem atau tertawa melihat keadaan saya. Buat mereka, ini adalah hal biasa. Termasuk ibu dan anak perempuannya di bangku samping seberang. Sibuk mengunyah keripik, bekal yang mereka bawa.

Tengah malamnya saya terbangun. Supir menghentikan busnya di sebuah rumah makan. Apa-apaan? Ini bukan waktu istirahat, kan?

Di sini saya baru tahu, jadwal istirahat para penumpang harus disamaratakan dengan jadwal supir. Tak ada jam sarapan, makan siang, atau makan malam tepat waktu ke depan. Kemanapun supir menghentikan bus untuk beristirahat, para penumpang harus mengikuti. Entah ikut makan, pergi ke toilet, ataupun sekadar mengisi daya baterai di gawai.

Usai makan tengah malam, perjalanan kembali dilanjutkan, dengan supir pengganti. Pikir saya, mungkin perjalanan berikutnya ketika disupiri oleh orang yang berbeda, akan menenangkan hati saya.

S A L A H.

Supir pengganti pun tak kalah gilanya. Tikungan ganda berkali-kali dijumpai, namun seperti bukan hambatan yang berarti. Bus ini pun rela beradu dengan kendaraan di depannya, di lajur kanan jalan dua arah, agar diberi kesempatan terlebih dulu menyalip. Lampu dim yang diisyaratkan oleh kendaraan lain di kejauhan, tak berguna. Saya mendengar lebih dari sekali, pengguna motor dan mobil terpaksa menepi, bahkan memaki, ketika badan bus hanya berjarak desimeter dengan badan kendaraan mereka dalam kecepatan lumayan tinggi.

Bagaimana dengan penumpang yang lain? Saya melirik ke arah belakang. Semuanya pulas. Juga ibu dan anak perempuannya di seberang kursi saya. Bahkan mereka tidur menggunakan bantal yang mereka persiapkan.

Lirikan saya berpindah ke arah jam tangan. Masih pukul dua dini hari. Lima belas jam saya lewati dengan bus ini. Belum setengah perjalanan.

Tidur kali itu adalah tidur terpaksa dan harus dipaksakan yang pernah saya lakukan.

img-20160904-wa0017
Di warung makan ini, terdapat kamar mandi dengan bak air tunggal.

MULAI MENYESUAIKAN DIRI

Begitu terbiasa dengan tingkah laku supir. Saya sudah bisa menyesuaikan diri.

Seperti tidak kaget atau mengucap nama Tuhan, ketika bus melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan lurus dan lengang. Kadang saya bolak balik dari bangku depan ke belakang, untuk meregangkan kaki, walaupun terhuyung oleh goncangan bus.

Atau mengeluarkan residu dari bagian depan proses pencernaan (baca: kencing), di dalam botol tanggung bekas air mineral, selama perjalanan berkali-kali. Walaupun pertamanya, begitu hendak dikeluarkan, bus berhenti mendadak, dan mencipratkan air berwarna keruh ke sejumlah tempat duduk kosong di bagian belakang. Keahlian saya untuk bisa berdiri tegar dan membuang kemih di atas lubang botol kecil di dalam bus Medan Jaya yang melaju, kelak bisa menjadi keahlian yang bisa dicantumkan di CV.

Cara tidur saya pun bisa berubah dalam hitungan menit. Tergantung hentakan bus dan kondisi jalan. Saya mengeluarkan bungkusan yang berisi inflatable sofa, dan dijadikan bantal seadanya. Semuanya atas nama kenyamanan. Posisi ransel saya letakkan di bagian sudut dekat sandaran kernet, sehingga tidak mudah bergeser, sekaligus menjadi pijakan kaki, ketika ingin tidur dalam posisi miring. Satu ransel gemuk entah milik siapa, saya jejerkan di dekat ransel. Dengan demikian, saya seperti membuat rancangan tiga perempat kasur kecil darurat. Cemilan dan minuman saya letakkan di dalam tas kresek dan diikat dalam posisi menggantung di sandaran tangan.

Ibu dan anak perempuannya, yang hingga sekarang saya tak tahu namanya pun ternyata melakukan hal yang sama. Hanya saja mereka tidur dalam posisi yang indah, cukup merebahkan diri di bangku. Tidak meringkuk uwel-uwelan seperti yang saya lakukan.

Manusia selalu kembali ke sifat alaminya. Bertahan, menyesuaikan, atau melawan keadaan.

TERTAWA. AKHIRNYA.

Saya pernah memosting sebuah kejadian lucu di Path. Isinya begini :

Sore hari, saatnya para penumpang istirahat sekaligus membersihkan diri. Tak disangka, begitu begitu memasuki ruangan kamar mandi khusus laki-laki, yang tersedia hanyalah satu bak mandi besar berukuran dua puluh lima meter persegi di tengah-tengah, dengan beberapa bilik kecil tempat orang buang air besar di salah satu sisi. Otomatis ketika mandi, semuanya tanpa sekat, tanpa privasi. Telanjang bersamaan. Canggung pun dimulai oleh beberapa orang.

Yah, apalah daya. Semuanya tertutupi oleh obrolan. Ada yang ternyata dari suku Jawa, Sunda, Padang, dan Aceh. Mandi sambil bercanda ternyata mengasyikkan. Hingga dua orang sopir dan kernet masuk. Ikut bergabung, menanggalkan pakaian mereka, telanjang, dan mengambil posisi untuk mandi bersama kami.

Tak ada yang memerintah, karena semua penumpang mempunyai pandangan yang sama ke arah tengah tiga lelaki yang baru saja bergabung tersebut. Apa yang tergantung di antara paha mereka, seperti membungkam 12 orang pria lain yang mandi di situ. Medan itu keras, saudaraku. Hahaha!

Pelajaran no 1 : Size. Does. Matter.

Esok harinya, lokasi kejadian masih di seputaran peturasan. Saya yang sedang membuang hajat, tiba-tiba dikejutkan dengan jatuhnya celana dalam dari bilik sebelah. Warnanya luntur tak karuan.

Tak lama, ada suara :

“Bang… Bang… Nampak celana dalamku di situ, tidak? Jatuh pulak, bah!”

Suara si sopir kedua. BEDEBAH!

Saya mengiyakan.

“Tolong kau ambil dulu, Bang. Kasihkan ke aku.”

Tangannya menjulur dari area kosong di bagian atas tembok pemisah.

Bener-bener, ya?!

Dengan berat hati, saya menjumput celana dalam yang sudah basah oleh genangan air di lantai, dan memberikannya ke tangan si sopir. Tak terdengar ucapan terima kasih dari sebelah. Hadeeeuh.

Begitu bertemu di dalam bis untuk kembali melanjutkan perjalanan, sopir kedua tadi mendatangi saya

“Tak bisa lagi kupakai celana dalam tadi itu, Bang. Kujemur saja di belakang bus, supaya cepat keringnya. Aku sekarang tubeless.”

Jiaaaah, dijelasin. Tak menunggu waktu lama, untuk saya kemudian terbahak-bahak.

Pelajaran no 2 : Tak pakai celana dalam, berarti tubeless.

Dua kejadian di atas, adalah hal-hal tak biasa yang bisa membuat saya tertawa. Nikmati saja alurnya. Lemesin, bro.

Saya tak pernah tahu, jika kedua sopir bus ini selalu menimbulkan efek lucu ketika berbicara dengan para penumpangnya. Apa yang mereka obrolkan, selain dialek khas, sepertinya ada beberapa nilai filosofis di dalamnya. Apalagi ketika menasehati anak perempuan dari ibu yang duduknya berseberangan di samping saya. Suasana senja saat itu seperti melengkapi sebuah cuplikan sinetron.

“Nang (inang, panggilan khas Batak kepada ibu-ibu), tengoklah anak kau itu. Cantik kali. Mabuk aku dibuatnya. Dan kau, Tet (butet, panggilan khas kepada anak perempuan Batak), carilah laki-laki asli Batak. Jangan Batak dari Jakarta. Lembek mereka, itu. Banyak di kampung, yang keras-keras. Badan keras, hati keras, semuanya keras. Apalagi yang itu. Jangan kau anggap remeh.”

Saya ikut menebak-nebak dalam hati.

“Bukan keras yang itu, Tet. Yang aku maksud itu pikirannya. Laki-laki Batak itu susah kali kalau kau ajak berdebat. Mereka belum terkontaminasi oleh gaya-gaya. Sekali mereka suka sama kau, apapun dilakukan. Beda pula dengan laki-laki Batak yang terlalu lama di ibukota. Tak bisa diandalkan mereka.”

Ibu dan anak perempuannya tersenyum mengiyakan. Mereka berdua menoleh pelan ke arah saya seperti meminta persetujuan. Suasana kembali syahdu.

SAWIT. SAWIT. SAWIT.

Perkebunan sawit yang terhampar di kiri kanan jalan lintas Sumatera menutupi senja. Seluas-luasnya kebun sawit di lintas Kalimantan, belumlah luas jika dibandingkan di sini. Ada beberapa area kosong di tengah kebun, yang disulap menjadi titik peristirahatan. Bahkan ada yang menjual buah-buahan di sana. Selain itu, kawasan rumah padat penduduk juga ada. Beda dengan di Kalimantan, yang hampir tak ada kehidupan bersosialisasi di tengah-tengah perkebunan, kecuali mess karyawan. Kendaraan besar beroda lebih dari empat pun bersileweran. Untungnya, jika kebetulan mengalami macet, atau gangguan mesin, dengan mudahnya kita bisa meminta pertolongan. Sekali lagi, beda dengan perkebunan sawit di Kalimantan.

Kelapa Sawit diketahui oleh banyak orang sebagai bahan dasar utama untuk keperluan hidup sehari-hari. Mulai dari sabun, syampo, makanan, hingga kosmetik. Selalu menjadi bahan perbincangan menarik bagi para aktivis pemerhati lingkungan, karena isu pengrusakan lingkungan yang diakibatkan oleh tanaman dengan nama latin Elais ini.

Namun tentu saja, kebutuhan akan bahan baku dasar ini terus meningkat karena permintaan yang berbanding lurus. Solusinya, beberapa organisasi lokal dan dunia terus menggalakkan sosialisasi penggunaan minyak kelapa sawit yang telah tersertifikasi.

APA ITU MEDAN JAYA

Medan Jaya adalah salah satu Perusahaan Otomotif (P.O) besar di Medan yang melayani beberapa trayek, salah satunya adalah Jakarta-Medan dan sebaliknya. Konfigurasi tempat duduk 2-2 di semua lini ekonomi, patas AC, dan super eksekutif. Berkantor pusat di kota Medan, informasi lengkap mengenai bus ini hanya bisa didapatkan dari blog, karena situs resminya belum saya dapatkan.

Bahkan ada satu blog yang dibuat oleh penggemar bus ini, yang sempat saya lihat dan berisikan daftar pemilik hingga sebutan komunitas-komunitas yang menjadi rekan mereka. Luar biasa, bukan?

TANGGAPAN TENTANG MEDAN JAYA

“Wah, kalau mereka sudah klakson, mending dikasih jalan deh. Daripada dipepetin terus.” – Driver Go-Jek 1

“Supirnya itu gila.” Petugas Hotel.

“Hebat kali kau bang. Pertama ke Medan, dan naik Medan Jaya.” – Driver Go-Jek 2

“Medan Jaya itu terkenal dengan supirnya yang bernyali tinggi.” – Keluarga Yoan.

Cukup empat saja, ya? Mudahan mewakili.

Akhir kata, setelah mengucap syukur-syukur berkali-kali ketika tiba dengan selamat di tempat tujuan, saya memutuskan untuk menulis blog ini. Karena pengalaman seperti akan selalu mengganggu, jika tidak diceritakan kembali.

img-20160904-wa0001
Anak perempuan dan Ibunya yang saya ceritakan di atas.

BOLEH NAIK BUS JAKARTA-MEDAN, JIKA :

  1. Ingin berpetualang, seperti saya.
  2. Membawa banyak barang, dan takut terkena biaya bagasi apabila memilih naik pesawat.
  3. Aviaphobia, takut terbang.
  4. Penasaran dengan cara berkendara ala Supir Medan.
  5. Sudah terbiasa.

KESIMPULAN DAN TIPS

  1. Pikirlah matang-matang sebelum memutuskan pergi ke suatu tempat selama lebih dari 40 jam menggunakan moda transportasi jalur darat.
  2. Selama perjalanan, hidung akan terbiasa menghirup aroma masam Kelapa Sawit yang baru dipanen dan diangkut dengan truk besar, serta bau karet sadapan yang diolah.
  3. Latihlah diri untuk tidur dalam posisi berganti-ganti.
  4. Bawalah makanan camilan. Jadwal makan yang tidak teratur, sungguhlah membuat jengkel.
  5. Bawalah Power Bank untuk keperluan gawai. Mengisi daya setiap singgah di warung, dan dikenakan biaya sebesar 3000 rupiah, bukanlah pilihan yang bijaksana.
img_20160901_100719
Kerasa banget, setiap ngecas, baru keisi 5 persen dengan harga segini.
  1. Setiap kali singgah dan makan, biasanya di tumah makan Padang, harga yang dipatok sebesar 25.000 rupiah.
  2. Minumlah obat anti mabuk, agar tidur bisa lebih lelap.
  3. Sering-seringlah berjalan bolak-balik dari depan ke belakang saat bus sedang berjalan. Lumayan untuk mengurangi dampak kaki bengkak karena kebanyakan duduk.
  4. Siapkan receh, karena ada tiga atau empat pengamen dan peminta sumbangan dalam amplop yang naik ke dalam bus.
  5. Bawalah buku, gawai yang penuh terisi daya agar aktif berselancar di internet, supaya tidak mati gaya.

Horas!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s