6 Alasan Pergi Ke Rumah Seduh Kopi Semenjana

Pertama kali mendengar Semenjana, mungkin yang terlintas di benak banyak orang adalah satu nama yang aneh. Asing didengar. Bahkan ada yang mengatakan nama ini mirip dengan judul lagu dangdut.

Watdefak banget.

Sebelum pembicaraan mbleber kemana-mana, mending saya jelasin aja. Semenjana adalah sebuah nama Rumah Seduh Kopi, berlokasi di komplek perumahan yang amit amit jauhnya dari pusat kota. Saya yang berulang kali ke sana pun harus berkali-kali tersesat sebelum menemukan rumahnya, jika kebetulan ingin bertandang sesudah pukul 11 malam. Karena alasan keamanan, portal yang biasa saya lewati ditutup, dan mau nggak mau, saya harus memutar haluan dengan jalan berliku-liku.

Udah jauh, tersesat, berkali-kali pula, kenapa masih pengen ke Semenjana?

Nah, alasan ke Semenjana seharusnya bisa dibuat voting, atau list. Ada apa sebenarnya di sana?

Oke, nanti pelan-pelan akan terjawab seiring dengan tulisan ini dibuat.

Ada baiknya, kita berkenalan dulu dengan para penghuni Semenjana. Yang pertama dan kedua, adalah pasangan suami istri pemilik rumah yang kerap disebut Toean dan Cikda. Nama asli mereka berdua adalah Rifki Ramadhan, dan Hilda Permatasari. Si Toean adalah tipe lelaki flamboyan yang bekerja di sebuah perusahaan swasta, dan Si Cikda adalah wanita rumah tangga dengan kegemaran membuat aneka jajanan legit yang kemudian dijual sebagai peneman minum kopi.

IMG_2523

Penghuni lain yang terlalu banyak untuk sanggup saya sebutkan adalah pelanggan tetap yang biasanya seminggu sekali atau lebih, bercokol dan menyesap kopi di Semenjana. Dengan berbagai latar belakang pekerjaan dan kegiatan. Ada yang berprofesi sebagai wartawan, blogger, PNS, karyawan, konsultan pajak, pendidik, mahasiswa, hingga barista. Belum lagi ada instruktur yoga, pemilik sebuah galeri, kepala biro televisi lokal, psikolog, dan pemilik kafe. Semuanya disatukan oleh racikan kopi Semenjana.

semenjana 7
Interior awal Semenjana.

Entah kapan pula, saya diundang untuk bergabung di grup LINE Semenjana. Awalnya sih, tak lebih dari 20 orang, kemudian beranak pinak menjadi 36 anggota. Setengahnya adalah pemuda pemudi yang urusan cintanya menyedihkan untuk dijelaskan. Tak hanya sampai di situ, grup pesan instan seperti WhatsApp dan Telegram pun dirambah. Ramenya juga kebangetan. Dunia nyata dan dunia maya, Semenjana tetap seru. Ada waktu juga, satu rombongan ini bebarengan ‘menyerbu’ kedai kopi, nonton di bioskop, atau makan-makan di tempat yang sudah ditentukan sebelumnya.

IMG_2522
Semenjanawati

Obrolan di Semenjana itu bisa berganti dalam hitungan menit. Tergantung siapa yang menjadi pembicara utamanya. Materi ecek-ecek seperti gosip-gosipan tiba-tiba menjadi diskusi tentang mahzab. Dari komik seperti One Piece-Naruto-Saint Seiya tak lama berselang menguap dan berganti empat klan penuh intrik serial Game of Thrones. Atau soal jomblo-jodoh-bully yang bisa teralihkan dengan topik kuantum, fisika, dan generasi 90-an.

xpressi cupping 2
Ada yang serius, ada yang usil.

Semenjana bukan hanya rumah seduh kopi, tapi mendadak tersulap sebagai rumah ngegosip, rumah curhat, studio foto, lapak jualan gincu-stiker dinding-sampai-masker pemutih wajah, dapur umum, tempat meeting, variety show, mini stage untuk stand-up comedy, atau ajang diskusi apa aja. Heran kan, ini rumah kopi apa lapak pasar malam? Gelar dagangan dengan bebas, jualan suka-suka. Semuanya terjadi di rumah yang bisa dibilang nggak gede-gede banget. Untuk informasi saja, gara-gara ramai hingga menjelang tengah malam, tuan rumah ditegur oleh Pak RT lebih dari sekali. Biasanya yang paling bikin ribut itu jomblo yang pura-pura bahagia. Makanya bikin kamuflase tawa.

Semenjana, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti : ‘sedang’, ‘menengah’. It fits me well, personally. Saya menghindari aktivitas minum kopi enak di tempat yang merogoh kocek lumayan dalam, kalau tidak dalam merayakan sesuatu atau ditraktir. Saya tidak terlalu memerlukan tempat yang instagenic, atau kelihatan-bagus-ketika-dipotret-dan-diunggah-ke-media-sosial. Itu adalah kebutuhan kesekian. Menjulangnya harga secangkir kopi tentu dipengaruhi oleh beban biaya operasional dan lain-lain, bukan? Maka dari itu, saya beralih ke Semenjana. Sekadar ngobrol doang, tanpa ngopi, juga dipersilakan. Toh, penghuninya juga orang-orang yang sering beredar di dunia kekinian Samarinda. Itung-itung nambah teman.

IMG_2524
Emak, Abah, adek, kakak, om, tante, tetangga, sepupu. Jodoh?

Pekan lalu, saya dan Toean semobil ke Balikpapan. Asyik mengobrol, tiba-tiba Toean bertanya lirih dengan isak tertahan :

“Emangnya, Semenjana itu dianggap saingan oleh kedai kopi lain di Samarinda ya, Ton?

Saya menjawab dengan santai.

“Kalau aku sih sebodo amat, Mas. Semenjana menurutku sepertinya dibikin bukan untuk mengeruk untung atau mengais pelanggan. Tapi udah kayak bikin keluarga. Ngangenin, nyebelin, dan ngangetin.

SELESAI.

Sekali lagi, selamat ulang tahun Semenjana. Gara-gara ini, kuota blog untuk bulan ini, sudah terisi. Untuk alamat mendetail lokasinya, bertanya-tanya tentang kopi atau memesan kopi sangrai, silakan hubungi akun instagram @semenjanakopi. Bionya detail.

IMG_20160808_125035_AO_HDR

P.S :

Apa alasan saya membuat blog ini? Selain mengucapkan selamat ultah, juga sekalian beriklan. Kebetulan saya seminggu sekali rencananya, akan menggelar dagangan di Semenjana. Ada Wallsticker lucu-lucu, penyaring air, selotip kartun, dan jasa salin film. Murah aja kok, dibanding beli di toko sebelah. Dibeli ya, Gan?

 

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s