Star Trek : Beyond. The First Time Smart-Ass’s Movie Review

Sama seperti seorang pekerja magang yang ingin menyenangkan semua orang yang baru ditemuinya di kantor, hal itu terjadi pada sang sutradara untuk film Star Trek-Beyond, Justin Lin (Finishing The Game, Fast & Furious, Fast Five, Fast & Furious 6), sekaligus debutnya menangani film bergenre fiksi ilmiah setelah sutradara sebelumnya, J.J Abrams (Armageddon, Mission Impossible III, Star Trek, Star Trek Into Darkness, Star Wars : The Force Awakens)  memilih untuk duduk di kursi produser di film ke-13 seri Star Trek ini.

startrek-beyond
Sumber : Google Image

Dimulai dengan perundingan antara Kapten James Tiberius Kirk (Chris Pine) dan pemimpin kaum Teenaxi, agar berdamai dengan bangsa Fenopian melalui artefak bernama Abronath, yang ke depannya menjadi senjata mematikan di tangan musuh utama, Krall (Idris Elba). Dan sepuluh menit selanjutnya, diisi dengan narasi oleh sang kapten tentang kehidupan anggota kapal USS Enterprise selama berada di luar angkasa, hingga menyerupai catatan harian anak muda Amerika yang dipaksa, dan ditinggal orangtuanya untuk mengikuti kegiatan kemah musim panas.

Pengenalan masing-masing tokoh sudah terjadi di dua film terdahulu, yaitu hanya terdapat tujuh tokoh inti. Selain Kapten, tentu saja ada Commander Spock (Zachary Quinto), dr. Leonard ‘Bones’ Mccoy (Karl Urban), Liutenant Uhura (Zoe Saldana), Montgomery ‘Scotty’ Scott (Simon Pegg), Sulu (John Cho), dan Chekov (Anton Yelchin).

Pendalaman karakter kembali diciptakan dengan cara memisahkan pemeran utama dengan pemeran-pemeran pembantunya. Seperti percakapan Spock dan Bones di saat kapsul yang mereka tumpangi untuk menghindar dari serangan musuh, jatuh dan harus berlindung sementara waktu, karena salah satu dari mereka terluka. Hasilnya, kutipan-kutipan bijaksana yang tak begitu penting, muncul berkali-kali. Lame as shit.

Star Trek
Sumber : Google

Selajur dengan Scott, yang bertemu dengan Jaylah (Sofia Boutella), tokoh protagonis baru yang secara mengejutkan, bisa mengambil perhatian penonton melalui karakter an escape-fragile-woman who wants to take revenge to her enemies dengan apik. Setelah sebelumnya dikenal sebagai Gazelle, wanita bengis berkaki pedang di film Kingsman : The Secret Service. Nama Jaylah sendiri terinspirasi oleh Jennifer Lawrence alias J-Law.

Jaylah-and-Scotty
Sumber : Google Image

Catatan, tampilan putih di sekujur tubuhnya jika dilihat dari jarak dekat seperti dempulan alas bedak cair berkali-kali dan ditumpuk, bukan menyerupai kulit asli.

Latar musik kembali dipercayakan kepada Michael Giacchino (Mission Impossible : Ghost Protocol, Jurassic World, Star Trek Into Darkness, Inside Out) turut andil memberikan kesan megah dan spektakuler, apalagi di saat adegan-adegan pertempuran di luar angkasa. Namun itu belumlah cukup, apalagi jika dibandingkan dengan original score film-film sejenis, seperti Interstellar (Hans Zimmer), Gravity (Steven Price), Ender’s Game (Steve Jablonsky) atau Pacific Rim (Ramin Djawadi). Bahkan, komposisi musik saat adegan musuh dibinasakan, sangat terasa seperti menonton akhir dari film Kingsman : The Secret Service.

Oke, berhenti. Ini spoiler.

Perbandingan kembali dilanjutkan dengan tokoh utama antagonis, antara Kahn (Benedict Cumberbatch) yang dimainkan sangat dingin dan gelap di Star Trek Into Darkness, dengan tokoh Krall di seri ini, yang seharusnya bisa sangat jahat layaknya pemimpin penjahat luar angkasa, tetapi nampak seperti tokoh preman terminal. Hanya bengis dan ditakuti, mudah terlupakan. Jangan harap sosok Krall akan diingat sebagai tokoh penjahat 2016.

Tentunya ada yang hal yang bisa dimaafkan untuk proyek pertama Lin ini, seperti porsi kemunculan Manas (Joe Taslim), artis asal Indonesia, yang lebih panjang dan lama, dibandingkan dengan Iko Uwais (Star Wars : The Force Awakens). Visual nan memukau, ditunjukkan melalui penampakan kota dan hanggar armada di Yorktown, lembah lembah sarang musuh di Starbase Earhart, atau saat USS Enterprise dihancurkan dan terbalik, mirip telur dadar di penggorengan.

Yang mengagumkan adalah, kerjasama kedua penulis naskah (Simon Pegg, Doug Jung) memberi penonton kesempatan untuk menerka tujuan utama sang penjahat, hingga di sepertiga akhir film. Percikan demi percikan kalimat yang berujung tawa diciptakan oleh duo Spock-Bones, juga single punchline dari Scotty. Bumbu cerdas.

Selanjutnya adalah pilihan, apakah Lin akan kembali dipercaya untuk menangani film Star Trek selanjutnya, atau mendiamkannya dan berharap itu adalah film legendaris terakhir yang diarahkan olehnya. Lintas balapan mobil di jalan raya berbeda dengan jalur di angkasa, bukan?

img_2281
Personal Item

Tak perlu menghakimi dengan membanding-bandingkan terhadap film sebelumnya. Ini semua kembali ke masalah gaya. Kita saja yang belum terbiasa.

Star Trek Beyond
Sumber : Google Image

Paling tidak, temukan alasan untuk menonton lakon dari salah satu pendukung penting yang tewas di kediamannya sendiri, saat syuting film ini selesai. Namanya tercantum di akhir pemutaran film, kok.

Sekian. Hehehe.

7/10

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s