Cerita dari Desa Tanah Towa, Kajang.

DISCLAIMER: Ada beberapa istilah dalam dialek bahasa tempatan (Konjo) yang bisa jadi berbeda dengan yang tertulis dalam postingan ini, karena keterbatasan media untuk kembali mencatat informasi dari narasumber. Oleh karena itu, saya meminta maaf, jika terdapat di dalamnya. Mohon kritik dan saran. Terima kasih.

DCIM100GOPROGOPR5483.
Ke kiri Tana Beru, Ke kanan Kajang, lurus Tanjung Bira.

PERJALANAN

Setelah selesai menjelajahi Tanjung Bira, saya memutuskan untuk pergi menuju tempat dimana suku Kajang berada. Dengan menggunakan angkot dari depan penginapan, saya diturunkan di sebuah pertigaan, di wilayah Bontobahari, tepat di dekat landmark dengan sebuah patung kapal Phinisi berukuran kecil di atasnya.

Saya menyempatkan diri selama lebih kurang dua jam untuk berjalan melihat-lihat para pembuat kapal Pinisi di Tana Beru, hingga ke area pelabuhan. Dan kemudian kembali lagi di tempat di mana saya diturunkan untuk mencegat angkot yang akan membawa saya ke suku Kajang.

Tepat pukul setengah lima sore, harapan semakin menipis ketika angkot yang saya tunggu (sejenis mobil pribadi, namun berplat kuning) belum kunjung datang, ditambah lagi informasi dari beberapa warga di sekitaran situ, untuk menuju ke daerah suku Kajang berada harus melakukan persiapan terlebih dahulu. Entah persiapan apa yang dimaksud, karena ternyata, mereka sendiri belum pernah ke sana.

Akhirnya, ada juga yang berniat untuk mengantarkan saya dengan menggunakan motor, namanya Pak Aswin. Tentu saja harga yang dipatok 10 kali lipat. Tak mengapa. Sometimes, curiousity could kill anything in a slash, really. Dan saat itu saya baru tahu, kalau ternyata Kajang adalah kecamatan yang cukup luas. Bahkan ada gerai minimarket terkenal yang didirikan di situ. Belasan desa dan dusun saya lewati bersama dengan Pak Aswin. Mulai dari Tamanlarea, Bonto Tangnga, Dusun Timbula, Karassing, Borong, Singa, Pataro, Lembang, Bonto Rannu, Lembanna, Sangkala, dan Banto Baji.

Selang satu jam, tibalah kami di gapura bertulisan yang seingat saya bertuliskan ‘Selamat Datang di Kawasan Adat Tana Toa Kajang’, diapit dengan dua patung masyarakat suku Kajang berbusana hitam-hitam. Saya masih harus melanjutkan perjalanan dengan ojek dadakan lagi selama lima belas menit. Sesaat sebelum waktu berbuka puasa, saya sudah berada di rumah Kepala Desa.

DITERIMA!

Orang pertama yang saya temui adalah Pak Abas, Sekretaris Desa Tanah Towa. Beliau menyodorkan buku tamu untuk diisi dan ditanda tangani. Juga menanyakan tujuan kedatangan saya, sebelum akhirnya Pak Salam, Kepala Desa Tanah Towa, datang dan mengajak untuk berbuka puasa bersama di kediaman Pak Abas. Tepat di samping rumah beliau.

IMG_1311
Saya ingin makan seperti ini lagi.

Menu buka puasa yang saya temui, adalah seperangkat makanan yang diletakkan ke dalam sebuah nampan besi. Di dalamnya ada empat atau lima piring yang berisi nasi, lauk, dan pauk. Tak tampak makanan pembuka seperti kurma, gorengan, atau makanan manis-manis lainnya. Baiklah, ini adalah satu hal menarik, dan baru yang saya temui. Berbuka puasa, langsung dengan makanan yang cukup berat.

Malamnya, setelah menunaikan ibadah sholat Maghrib, dilanjutkan dengan Isya dan Tarawih, saya dipersilakan oleh Pak Salam untuk menempati kamar tidur tamu di rumahnya untuk beristirahat.

KESEHARIAN DI DESA TANAH TOWA

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Desa Tanah Towa sendiri, dari peta yang yang saya lihat, diapit Desa Bonto Baji, Desa Batu Nilamung, Desa Maleleng, dan Desa Pattiroang di keempat sisinya. Sementara di tempat Pak Salam saya menginap, termasuk di area Dusun Jannaya. Satu diantara tujuh dusun, selain Dusun Balagana, Dusun Balambina, Dusun Sobbu, Dusun Bongkina, Dusun Tombolo, dan Dusun Benteng.

Di siang hari, mayoritas warga berkebun, terutama para pria. Karena Pak Salam yang menjabat sebagai Kepala Desa pun terlihat menyelempangkan parang untuk pergi di kebun miliknya, saat itu. Sedangkan perempuan, mereka akan menjemur hasil sawah atau kebun seperti biji padi atau merica di halaman rumah masing-masing. Rumah yang didirikan pun seragam, berbentuk rumah panggung. Yang membedakan adalah bentuk ujung atap rumahnya. Pembahasan tentang ini belum akan saya uraikan.

Ada sebuah masjid-yang menarik buat saya, adalah ketika ceramah sebelum Sholat Tarawih dilaksanakan. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Konjo, dan di beberapa bagian yang dapat saya mengerti, saya dibuat tertawa oleh bahasan yang dipilih oleh penceramah. Karena ada pula penceramah yang khusus datang dari Makassar, guna melakukan Safari Ramadhan di beberapa desa, dan Tanah Towa termasuk di dalamnya. Dan satu lagi yaitu, keberadaan beberapa anggota Jamaah Tabligh yang beraktivitas di sekitar Masjid.

MEMASUKI KAWASAN ADAT

Di hari ketiga saya berada di Desa Tanah Towa, bersama Fajar, putra ketiga anak Pak Salam, saya pun berangkat ke kawasan hutan adat dengan atribut hitam-hitam. Mulai dari kain tenun, hingga passapu. Sesampainya di pintu masuk, sendal pun harus saya lepas dan diletakkan di dalam jok motor. Sedangkan tas kecil berisi buku catatan, kamera dan ponsel, tetap saya paki. Jalan setapak bebatuan, mulai dari puntu masuk hingga jauh masuk ke dalam, terasa memijat kaki dengan kekuatan sedang. Bahkan menurut Fajar, lebih dari sekali turis mancanegara yang melewati, harus menahan dan mengaduh kesakitan tiap menjejakkan kaki.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tak banyak warga yang bisa saya tangkap melalui pandangan, kecuali anak-anak yang membawa ember berisi air yang dijinjing atau ditandu di atas kepala. Sebagian memilih untuk berdiam diri di dalam rumah di siang hari saat bulan puasa. Ada papan pembatas antara dua dusun yang kami lintasi, yang juga dipisahkan oleh aliran sungai kecil dan dibuat pemandian umum.

Saya juga melihat nisan yang bertuliskan Galla Puto di sebelah kiri jalan, namun karena imbauan dari Fajar untuk tidak mengabadikannya, saya hanya bisa merekamnya di ingatan. Tak sampai lima belas menit, sampailah di rumah pemimpin adat tertinggi suku Kajang, Ammatoa.

BERTEMU AMMATOA

IMG_1317
Rumah Ammatoa.

Karena tidak diperbolehkannya membawa satu benda elektronik apapun ke dalamnya, saya meletakkan tas, kecuali buku kecil dan alat tulis, di luar rumah Ammatoa. Disambut oleh istrinya yang sedang membuat lipatan dari daun sirih berisikan kapur untuk acara ziarah kubur nantinya.

Kesan tentang  orang yang dituakan di dalam pikiran saya tentang Ammatoa, langsung sirna ketika bertemu dengan beliau. Bayangan orang dengan wajah yang membuat orang bergidik, mengenakan sandang yang membuat bulu kuduk meremang, seringai yang membuat waswas, sama sekali tak ada di dalam diri lelaki berusia 75 tahun, dan bernama asli Puto Palasa ini. Dan menjabat sebagai Ammatoa sejak tahun 2003

Beliau bahkan mau menerima kami di sela istirahat siang. Rambutnya yang beruban menyembul diantara lipatan passapu, yang khusus digunakan oleh Ammatoa. Mengenakan sarung tenun berwarna hitam, tanpa atasan. Cuaca yang saat itu sedang terik, mungkin alasan beliau untuk tidak mengenakannya. Kesan sederhana, santai, namun hormat, bisa dirasakan dalam obrolan selanjutnya.

Sesekali saya mengedarkan pandangan di dalam ruangan rumah Ammatoa, dan tidak mendapati satupun peralatan yang menggunakan listrik. Letak dapur yang berada di depan setiap rumah, termasuk rumah beliau pun memiliki filosofi, yaitu keterbukaan pada tiap tamu yang datang. Tak ada yang disembunyikan.

Sembari mengelap badannya yang berkeringat dengan sebuah handuk, Ammatoa berujar, bahwa beberapa hari mendatang, akan diadakan acara ziarah kubur. Di acara itu, kita bisa melihat langsung kuburan warga asli suku Kajang.

Jabatannya sebagai pemegang kendali tertinggi hukum adat, tentu saja banyak kepentingan yang harus dilalui oleh izin beliau terlebih dulu, termasuk acara semacam pernikahan atau Pa’Bunting. Siapapun yang menyelenggarakan acara tanpa pemberitahuan kepada Ammatoa, maka bisa dipastikan, tak akan ada satupun pemangku adat yang akan hadir atau terlibat di dalamnya.

Cerita pun berlanjut ketika saya menanyakan tentang proses sebelum terjadinya pernikahan antar sesama suku tersebut. Setelah panjang lebar beliau menjelaskan dalam bahasa Konjo, dan diterjemahkan setiap kalimatnya oleh Fajar, kesimpulan yang saya dapatkan adalah :

“Lelaki suku Kajang harus bisa bekerja, terutama berkebun atau bersawah, untuk bisa mempersunting calon istrinya. Jika lelaki punya keberanian, maka pernikahan harus sesegera mungkin dilaksanakan. Tak perlu ditunda.”

Ah, saya tertegun. Apa kabar para lelaki sekarang, yang gemar menggombal perempuan, dan memiliki modus operandi rayu sana-sini?

Pertanyaan demi pertanyaan saya gulirkan. Karena jika kita bertanya dengan Bahasa Indonesia yang benar, tentu Ammatoa memahami, namun akan dijawab dengan bahasa Konjo, dan itulah tugas Fajar untuk menerjemahkan apa yang dikatakan oleh beliau. Sama seperti saya menanyakan kegiatan sehari-hari Ammatoa (semoga ini bukan menjurus ke kekurangajaran), beliau menjawab

“Saya selalu berdoa kepada Allah SWT, meminta agar semua warga warga dilindungi dan selamat dunia akhirat. Menjadi pemimpin itu mudah, menjadi bijaksana itu lain hal. Dan menjadi bijaksana adalah pekerjaan saya setiap harinya.”

Ammatoa juga harus bersikap adil dalam menengahi masalah. Juga menentukan denda yang harus dibayar jika seseorang melakukan kesalahan. Besarannya beragam. Bahkan ada beberapa ritual adat untuk mengungkap kebenaran.

Setelah hampir satu setengah jam berbincang, kami pun pamit undur diri, mengucapkan terima kasih dan salam, serta menyilakan Ammatoa untuk kembali berisitirahat.

MENJADI AMMATOA

Menurut informasi yang saya dapatkan dari Pak Salam, dan Pak Abas, diperlukan waktu sekitar tiga tahun jeda, untuk menemukan pengganti Ammatoa yang telah wafat, dan mengangkat Ammatoa yang baru. Semuanya dilakukan dengan prosesi Upacara Pa’Nganro, yang harus dilakukan di depan khalayak ramai di tengah hutan.

Para calon yang nantinya akan menjadi Ammatoa harus melewati beberapa ritual yang disiapkan oleh panitia acara. Dan ternyata, ritual demi ritual yang dijalani adalah semacam aktivitas biasa yang dilakukan sehari-hari. Seperti contoh, mengambil air wudhu. Proses ini tergolong mudah bagi yang sudah terbiasa. Namun bedanya, karena ini adalah acara sakral, ada beberapa calon yang tak sanggup, dan gugur.

Menjadi seorang Ammatoa, diyakini adalah takdir dari Allah SWT. Jika memang terpilih, maka orang tersebut akan menjadi Ammatoa. Dan hanya satu, tak pernah ada dua Ammatoa yang terpilih. Syarat yang lain adalah, Tungkinarang, atau turun temurun, kemudian calon Ammatoa harus berusia di atas 40 tahun, bersuku asli Kajang, pandai menyusun silsilah mulai dari terciptanya manusia hingga sekarang, dan mengerti Pasang Ri Kajang, atau aturan adat istiadat suku Kajang.

Sewaktu saya melihat isi dari Pasang Ri Kajang di sebuah marka jalan, ada lima butir. Yaitu :

  1. Tappaki Mange Ri Tu Rie A’ra’na (Percaya Kepada Tuhan Yang Maha Menghendaki)
  2. Tallang Si Pahua’, Manyu’ Si Parampe, Lingu Si Pakainga’, Ki Sikamase’i (Saling Tolong Menolong dan Bekerja Sama Antar Sesama Umat serta Saling Memperingati dan Tetap Saling Menghargai)
  3. A’lemo Si Batu, A’bulo Si Pappa’ (Membina Persatuan dan Kesatuan untuk Bersama-sama Mencapai Tujuan Kemenangan).
  4. Sallu’ Ri Ajoa, Ammulu Ri Adahan, Ammucca’ Ere, Anreppe’ Batu-batu, Amminahang Ri Pammarenta, Na Nigaukan Passuroanna, Nililiang Pappisangkana (Patuh dan Taat atas Segala Keputusan (Lebba’) ADAT serta Peraturan Per-Undang-Undangan yang berlaku, yang dicapai melalui Musyawarah/Mufakat, dari Rakyat dan untuk Rakyat)
  5. Talakkuleki Annyikki Manu’Mate, Angngalepe’ Manu’ Polong (Menanamkan Sikap Jujur, Adil, Tegas, Bijak, serta Sabar dan Tawaqqal kepada Allah SWT)

Ammatoa layaknya presiden di sebuah negara. Dibantu oleh ‘menteri’ yang jumlahnya mencapai 26 orang, dengan masing-masing tugasnya. Yang bisa saya ingat ntara lain, Galla Lombo’ : yang menangani urusan dalam dan luar kawasan adat, Galla Pantama : mengurusi Pertanian dan Perkebunan, Galla Sappa, Maleleng, Bantalang, Ganta’ : bertugas di logistik ketika upacara Pa’Nganro berlangsung, dan Galla Puto sebagai Juru Bicara. Sementara Pak Camat Kajang, dianugerahi gelar Karaeng Kajang atau Labbiria, yang bertugas di dalam pemerintahan dan kemasyarakatan.

Dan biasanya, jika ada wisatawan yang bertandang di Kawasan Adat Ammatoa, maka mereka akan disambut oleh Galla Puto, atau Juru Bicara Ammatoa. Beruntungnya saya, yang bisa berbicara langsung dengan Ammatoa di hari itu.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Begitu keluar dari rumah Ammatoa, saya mendatangi sesosok perempuan yang sedang menenun kain dengan bahan dasar dan warna yang sama, hitam. Dibuat tanpa pewarna kimia, adalah salah satu termasuk cinderamata yang bisa dibeli, dengan harga lebih kurang 400 ribu rupiah per lembar. Sementara Passapu, atau kain penutup kepala khas lelaki Kajang, seperti sebuah tanda akan pangkat dan jabatan seseorang di wilayah Kajang.

Sebelum keluar dari kawasan adat, di sisi kanan jalan setapak, ada rumah panggung yang ukurannya lebih besar. Itulah tempat untuk menjamu pembesar atau pejabat pemerintah. Namanya saya lupa.

Salah satu acara tempatan yang bisa dinikmati oleh para wisatawan adalah Andingingi Sibatu Lino, atau Upacara Mendinginkan Alam. Dilakukan sabagai salah satu cara untuk menghargai dan bentuk kepedulian terhadap alam yang telah memberi mereka kehidupan selama ini. Semoga saya bisa berkesempatan untuk menyaksikannya. Dan melihat secara langsung, pengisi acaranya memainkan Basing, atau suling khas suku Kajang.

THE POINTS, IS…

Dengan tidak beralas kaki adalah satu kebiasaan suku Kajang yang bermakna, kesetaraan untuk semua orang. Begitu juga dengan atribut hitam-hitam seperti Tope Le’Leng (sarung), Pacaka, Passapu, dan baju Pokko. Menggambarkan, bahwa asal manusia itu dari lahir dengan ketidaktahuan, masih gelap. Setiap rumah pun menghadap kiblat atau arah barat, dengan alasan supaya tetap mengingat Sang Pencipta.

Memaknai kesederhanaan yang mereka tampilkan, adalah satu cara bagi para wisatawan untuk belajar kembali kepada alam, bersikap apa adanya, dan tentu saja memaknai setiap makhluk ciptaan Tuhan, harus senantiasa dijaga dan dilestarikan.

Dan mengenai Ammatoa, sebelum beliau diangkat untuk menjabat sebagai pucuk pimpinan tertinggi adat, adalah seorang warga biasa yang juga pernah melakukan kunjungan ke beberapa daerah lain, melihat dunia luar. Komitmen untuk tetap berada di dalam, dan tidak melangkah melewati gapura kawasan hutan adat, adalah suatu bentuk janji yang tak mudah untuk selalu ditepati. Tentu saja jika kita melihatnya dari kacamata orang kebanyakan.

Saya kagum dengan komitmen ketika seseorang terpilih menjadi Ammatoa. Memutuskan untuk tidak mengenal modernisasi, tidak berdamai dengan juntaian gawai, dan menjadi panutan untuk ribuan warga yang dipimpinnya. Semuanya terbalut dalam kebersahajaan tanpa kemewahan.

LAIN-LAIN

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selama tiga hari saya berada di Desa Tanah Towa, saya dijamu dengan baik oleh Pak Salam, Kepala Desa dan juga bergelar Galla Lombo’, ini berarti setiap orang yang akan pergi ke kawasan adat Ammatoa, harus melalui izinnya terlebih dahulu. Juga untuk meminjam atribut hitam-hitam.

Setiap harinya, rumah beliau tidak pernah sepi dari kedatangan tamu. Dari urusan membuat Kartu Keluarga, mengurusi masalah perceraian, menjamu belasan tamu yang datang, hingga meladeni beberapa wartawan yang ingin meminta konfirmasi atas sebuah berita. Tak heran, ruang tamunya begitu luas dengan beberapa set sofa yang tersedia di sana. Dan karena letak kamar saya di dekat ruang tamu, mau tak mau, saya ikut mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

Masih ingat dengan Ammatoa yang tidak pernah melewati gerbang adat selama hidupnya? Nah, acara pelantikan Pak Salam menjadi Kepala Desa termasuk istimewa, karena dihadiri langsung oleh Ammatoa. Namun dengan syarat, semua lampu harus dimatikan ketika Ammatoa berada di tempat acara.

Selagi saya menulis tentang tulisan ini, entah bagaimana caranya, tiba-tiba saya dihubungi melalui telepon dari Pak Salam. Beliau menanyakan kabar saya, apakah sudah tiba dengan selamat dan sehat di Samarinda, dan lain sebagainya. Saya teringat, sebelum pergi meninggalkan desa Tanah Towa, beliau berpesan untuk memberi kabar dimanapun saya berada, melalui pesan singkat selama di Sulawesi Selatan. Dan itu saya lakukan, ketika bepergian ke Rammang-Rammang, Celebes Canyon, dan Malino. Saya tak lupa mengabari beliau.

Terima kasih yang besar juga saya haturkan lagi kepada kedua anak dan istrinya, karena saya dipersilakan untuk membawa persediaan makanan berupa buras dan ketan hitam, juga ikan goreng yang dibungkus rapi, agar saya tak kelaparan di perjalanan selanjutnya. Juga atas kesediaan memberi tempat tidur, meminjamkan sarung adat, dan kain passapu untuk digunakan. Saya justru ditegur, ketika menanyakan berapa jumlah harga yang saya bayar. Semuanya cuma-cuma. Amboi.

Banyak yang kaget, karena saya bisa berada di sini selama berhari-hari. Pertama, saya bukanlah asli orang Sulawesi, dan kedua, saya sendirian, tak ada penunjuk jalan. Jadi dokumentasi berupa foto, tentu tidaklah sebagus apabila perjalanan dilakukan lebih dari satu orang. Minimnya informasi ke kawasan adat juga membuat saya sedikit gamang untuk memasukinya.

Sekali lagi, fears brings you nowhere, takut tidak akan membuatmu kemana-mana. Saya hanya mencoba untuk terus bersikap baik kepada siapapun yang saya temui di jalan, menghormati budaya yang baru saya temui, dan menghargai setiap kesempatan bagus yang datang. Tidaklah sulit, meskipun tidak semua orang sanggup melakukannya.

IMG_1315
Bangga memakai passapu.

Masih ingat dengan buku tamu ketika pertama kali tiba di rumah Kepala Desa? Saya bahkan lupa menuliskan kesan-kesan yang saya alami.

DCIM100GOPROG1516805.
Buku Tamu

Saya ingin kembali lagi.

Sekian.

Note:

Jika diperhatikan, sila di Pasang Ri Kajang (silakan gulir ke atas), mempunyai kemiripan yang hampir mendekati dengan Pancasila. Tampaknya, saya harus ke sana kedua kalinya, untuk mencari tahu beberapa jawaban.

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s