Saya dan Siamo Tutti Fratelli

Menjadi bagian dari Relawan Palang Merah Indonesia -yang selanjutnya akan disebut PMI-, adalah satu dari banyak hal yang saya syukuri sekaligus pernah saya sesali. Bersyukur untuk pengalaman demi pengalaman penerapan ilmu secara langsung, dan menyesalkan, mengapa saya tidak bergabung di dalam organisasi dengan semboyan ‘Siamo Tutti Frattelli’ ini, jauh sebelumnya.

Awal tahun 2012, saya memutuskan untuk bergabung melalui Korps Sukarelawan atau disingkat KSR Kota Ternate, Maluku Utara. Ada dua alasan saya waktu itu. Yang pertama adalah iseng mencari teman. Karena saya belum genap setangah tahun bertempat tinggal di pulau penghasil rempah-rempah tersebut, dan belum memiliki banyak kenalan dekat. Bukankah sudah alami, manusia akan saling mengenal dan mendekatkan diri dengan sesamanya dalam lingkup sosial yang tidak terlampau besar? Dan masuk sebagai anggota sebuah kumpulan adalah jawabannya, bukan?

Alasan kedua, sekaligus terpenting adalah…

Sebentar, kita akan mundur sebentar di akhir 2011. Tepatnya hari Minggu, tanggal 4 Desember.

Ada peristiwa yang tak bisa dilupakan oleh sebagian besar warganya. Yaitu meletusnya Gunung Gamalama saat tengah malam, menjelang pergantian hari. Bukan itu saja, semburan abu vulkanik juga menyebar hingga ke selatan pulau, bersamaan dengan hujan deras yang membuat endapan abu berwarna hitam lumayan tebal di jalan raya, atap rumah, kandang ternak, kebun, hingga penampungan air minum bagi warga.

Esok harinya beredar kabar, bahwa ada puluhan rumah rusak, dan sejumlah orang hilang hanyut tersapu akibat banjir lahar dingin. Dua jembatan penghubung antar desa ambrol. Dan bisa diduga, terjadi ledakan pengungsi yang tersebar di beberapa tempat. Pengungsi yang kehilangan tempat tinggal, dan juga pengungsi yang memilih untuk dievakuasi karena takut akan ada bencana susulan. Saluran telekomunikasi seperti telepon dan internet mengalami gangguan. Bandara lumpuh total.

Saya termasuk warga desa yang rumahnya selamat, karena berada di ketinggian, dan bukan di jalur lintasan lahar gunung. Namun karena ada imbauan dari pemerintah setempat yang disiarkan melalui radio tentang bahaya abu vulkanik yang masih menyeruak di jalanan dan membuat jarak pandang terbatas, salah satu jalan keluar yang bisa saya lakukan adalah mencari masker penutup hidung, yang biasanya dipakai oleh para dokter saat operasi. Di apotek, di perempatan jalan, dan di markas PMI.

Saat itulah saya mengenal PMI lebih dekat.

Terlalu sentimental? Barangkali. Saya melihat sendiri secara langsung, bagaimana relawan-relawannya bermandikan peluh, wajah berdebu, dan teriakan-teriakan melalui handie talkie berisi penyaluran bantuan, informasi terkini keadaan pengungsi dan status gunung Gamalama, ada juga yang tergeletak lelah di lantai. Belum lagi, harus ada yang mengurusi permintaan masker dari puluhan warga yang keluar masuk markas PMI. Dalam gerak yang cepat semuanya menyatu. Dan itu menarik. Alangkah senangnya jika menjadi bagian dari mereka. Itulah alasan kedua saya.

Kembali lagi ke tujuan semula. Setelah mendapat pelatihan Korps Sukarelawan yang bertempat di Kompi Senapan A 732/Banau, ilmu saya bertambah kian banyak. Mengenai Gerakan dan Organisasi PMI, Kepemimpinan yang dijelaskan langsung oleh Dandim Ternate, Pertolongan Pertama yang ternyata nggak boleh main-main dalam pelaksanaannya, Assessment yang sungguh menguji mental, Shelter atau Penampungan Sementara, Water and Sanitation, hingga cerita mengharu biru dari staff PMI Maluku Utara yang menjadi pemateri langsung di Restoring Family Links. Dan masih banyak lagi.

Jadi ketika berbicara tentang PMI, bukan hanya kegiatan Donor Darah saja. namun lebih dari itu. Walaupun jika ada saja masyarakat awam yang bertanya tentang prosedur Donor Darah, hal itu akan dijelaskan secara gamblang. Mengapa persediaan jumlah darah selalu menipis? Mengapa kantung darah yang siap pakai harus dikenakan biaya lagi? Bukankah darah itu bebas biaya? Mengapa tidak ada transfusi darah langsung dari lengan ke lengan seperti di film-film? Percayalah, itu masih sedikit pertanyaan berawalan ‘mengapa’ yang harus dijelaskan berkali-kali dengan porsi yang mudah diterima.

Menyebalkan? Bisa jadi. Membosankan? Oh, tidak. Justru proses memberikan informasi yang tepat tentang PMI adalah salah satu kegiatan yang pribadi saya nikmati. Pernah ketika saya mendapat penugasan untuk menyampaikan materi tentang bahaya penyalahgunaan napza dan infeksi menular seksual kepada adik-adik di sekolah menengah pertama dan atas, pertanyaan unik dan ajaib selalu bertubi-tubi datang dilontarkan. Meski jika dibandingkan antar satu sekolah dengan yang lain, pertanyaannya pasti seragam, dan akan kembali saya jawab dengan senang hati. Tanpa modus, #eh.

Berada di daerah yang termasuk di dalam lingkaran api -atau bahasa kerennya, Ring of Fire-, Pulau Ternate mendapat ancaman lebih dari tiga bencana. Letusan gunung berapi adalah salah satunya. Maka dari itu, ketika peristiwa bencana tersebut mencuat, PMI Kota Ternate dan PMI Maluku Utara sebagai lembaga non pemerintah bekerjasama dengan baik dengan BPBD, Tagana dan instansi pemerintah yang terkait. Dan semua teori yang didapat ketika mendapat pelatihan, langsung diaplikasikan dengan baik di lapangan. Mau contoh?

Ketika terjadi banjir lahar dingin kesekian kalinya, bersama dengan salah seorang teman relawan, kami berdua mendapat tugas untuk melakukan assessment di lokasi bencana. Kesan pertama, warga menerima dengan baik saat kami bertanya tentang jumlah kerusakan dan mengambil gambar sebagai dokumentasi. Kesan kedua, kami berdua terdesak di reruntuhan bekas rumah korban, ketika warga yang lain berdatangan dan menuduh bahwa apa yang kami lakukan semata hanya untuk mengambil keuntungan dari penderitaan korban. Waduh! Ilmu menghindar dari kerumunan warga yang marah, tidak ada dalam satupun modul yang dipelajari. Beruntung, dibantu dengan salah seorang tetua adat di situ, dan penjelasan seperlunya (serta terbata-bata ketakutan) dari kami berdua, masalah tersebut bisa diselesaikan dengan baik. Komunikasi dua arah itu segalanya ketika berhadapan dalam situasi segenting itu. Fiuh…

Rekan relawan yang lain pun tidak kalah sibuknya dan harus berhadapan dengan warga yang terjebak dalam situasi darurat. Menyalurkan air bersih ke pelosok-pelosok desa dengan truk operasional, bermain dengan anak-anak kecil di lokasi pengungsian agar mereka bisa tersenyum dan tertawa, memasak di dapur umum bersama dengan tim SAR dan Tagana, membantu membangun penampungan bersama tim dari Pramuka, hingga membuat rencana kontijensi bersama dengan perangkat daerah. Semuanya bekerja, semuanya ikut serta, semuanya lelah, semuanya sibuk, dan tergantikan dengan senyum para korban bencana yang berulangkali mengucap terima kasih. Tak ternilai harganya.

Pengalaman demi pengalaman, mengantarkan saya dan beberapa relawan lain dari Maluku Utara untuk berkumpul di acara bernama Temu Karya Nasional yang diselenggarakan pada tahun 2013 lalu, di Selorejo, Malang, Jawa Timur.

P1040122
Indahnya berkumpul bersama dengan relawan dari belahan kota lain di Indonesia.

Menariknya lagi, saya diikutkan dalam salah satu sub kegiatan yaitu Latihan Gabungan Publikasi dan Informasi. Dan… dua perwakilan, termasuk saya, dari Maluku Utara menyabet juara satu!

SAM_0422
Salah satu lomba persahabatan yang dilaksanakan dalam TKRN 2013.

Masih banyak lagi kegiatan yang diikuti dalam acara tersebut. Sebanyak belasan relawan Palang Merah dari negara lain juga turut serta. Dan masing-masing dari relawan asing, dibagi ke kamp-kamp peserta yang dikelompokkan berdasar provinsi. Bertukar pikiran dengan relawan dari Vietnam, Perancis, Malaysia, hingga Maladewa sungguh mengasyikkan bukan? Ya jelas dong. Apalagi di kesempatan terpisah, mereka juga menceritakan tempat wisata asyik untuk dikunjungi. Akhirnya ada juga teman yang nantinya didatangi dan bisa ditebengin rumahnya jika punya kesempatan untuk mendatangi negara-negara yang saya sebutkan tadi.

Jika bercerita mengenai bagaimana seluk beluk, pengalaman, suka duka, tentu tidak akan selesai dalam satu postingan blog ini. Karena selama masih ada yang membutuhkan donor darah, selama ancapan bencana masih akan terulang, dan tenaga sukarela masih dibutuhkan di atas kepentigan komersial atau satu golongan, maka Palang Merah akan selalu ada.

Dokumentasi yang saya sertakan adalah foto-foto yang berhasil saya selamatkan. Gambar yang lain, termasuk ketika para sukarelawan bermain bola dan mewarnai lukisan bersama anak-anak di tempat pengungsian, saat membagikan air bersih ke sejumlah desa, dan cemongnya muka saat berada di tenda dan dapur umum, adalah memori penting yang bisa saya simpan dalam kepala, setelah abu vulkanik berbahaya mengotori dan merusak laptop berisikan momen-momen indah itu.

Terlepas dari rancangan undang-undang kepalangmerahan yang masih diusahakan mati-matian untuk disahkan, terlepas dari banyaknya kepentingan oknum tertentu ketika bencana melanda, hati para sukarelawannya tetap satu. Saya, kita, mereka adalah garda terdepan yang siap bekerja sama, membuka diri, dan menerima dengan tangan terbuka ketika ada suara yang membutuhkan aksi kemanusiaan.

P1040116
Saya sempat digelari Duta Pin oleh rekan relawan, karena banyaknya kegiatan yang saya ikuti dan selalu diakhiri dengan pembagian pin, hahaha!

Saya akan menjura dengan hormat untuk Sir Henry Dunant, penemu dan penggagas Palang Merah. Karena beliau, kemanusiaan menjadi benar-benar berarti menyatukan umat manusia. Benar, saat berada di kondisi terpuruk dan butuh pertolongan, siapapun orangnya, cenderung untuk bersatu bahu membahu. Dimanapun, untuk siapapun.

Dan saya bangga meneriakkan dengan lantang, bahwa kita semua adalah saudara. Siamo Tutti Fratteli.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s