India, SBA, Tame Impala, Starbucks, Happy Birthday!

Part 1

November tahun lalu, saya diam-diam merencanakan untuk pergi ke India. Impulsively, karena tawaran tiket yang murahnya kebangetan. Sejak itu pula, saya mengurus Visa on Arrival secara daring, mengatur rencana perjalanan, dan intensif mengontak beberapa kenalan agar diberi tumpangan, atau menjadi teman perjalanan, hehehe. Waktu yang ditentukan pun presisi, hanya delapan hari. Cukup untuk belajar lebih dalam tentang yoga, dan tentu saja menyelami kehidupan masyarakat lokal di negara dengan jumlah penduduk mencapai hitungan miliar di sana. Lupakan dulu tentang kegiatan di pantai, gunung, dan lainnya. Ghandi’s people living excites me to the bone.

india-patents-yoga-poses1
Jago banget. Sila lihat sini

Segalanya akan baik-baik saja sepertinya, hingga pertengahan Januari…

Entah mendapat informasi atau penelusuran jejak darimana, saya terpilih untuk mengikuti program SBA (Special Brand Ambassador) sebuah produsen rokok ternama. Bisa ditebak, saya diharuskan untuk mengikuti program On Board Training, di sebuah hotel yang juga merangkap resor di pinggiran kota Bogor selama lebih kurang empat hari. Dan ini berarti, saya harus mengambil izin di tempat saya bekerja, di tanggal yang telah ditentukan. Mengenai detailnya, tentu saja saya sudah meneken kontrak yang isinya tidak akan menyebarkan materi selama kegiatan berlangsung. Termasuk mengunggahnya ke media sosial, karena ini bersifat private event.

Domino effect’s works. Selepas dari acara tersebut, ternyata berpengaruh juga ke rencana bepergian pribadi saya ke India. Saya tidak diizinkan untuk menambah absen lagi oleh atasan. Rasanya seperti seluruh organ dalam dikerutkan ke arah umbai cacing. Lemes ngilu tak tertahan. Mau nangis.

Tapi apa mau dikata. Nginyem.

Part 2

Februari kemarin, saya berkesempatan untuk menonton pemutaran perdana film SITI garapan sutradara Eddie Cahyono. Sebelum pemutaran film, para penonton, termasuk saya di dalamnya disuguhi lagu-lagu asing di telinga. Namun, saya jatuh cinta terhadap lagu tersebut. Tak perlu waktu lama, hingga saya mengaktifkan aplikasi pencari lagu dan mencari pelantang suara di dekat situ. Akhirnya, ada nama yang tercantum.

…Tame Impala…

Grup musik rock asal Australia yang terbentuk 19 tahun lalu, beranggotakan Kevin Parker, Jay Watson, Dominic Simper, Cam Avery, dan Julien Barbagallo. Meraih beberapa penghargaan bergengsi, dan membuat tiga album superkeren-menurut saya– Innerspeaker. Lonerism, dan Currents. FYI, ketiga albumnya sudah saya unduh dari iTunes. Demi menghapal dan menghayati pastinya. Karena apa?

Karena tepat tanggal 29 April, mereka akan mengadakan konser di Parkir Timur Senayan, Jakarta. Berbekal infomasi dan usaha sana sini, saya berhasil mendapatkan tiketnya. Sampai di saat ketika saya harus mengikuti kegiatan di tanggal yang sama, masih menyangkut pekerjaan juga, dan tidak dapat dipindahtugaskan ke orang lain. Dor!!!

Lemesnya mulai nggak main-main. Di lain sisi, saya harus bergegas menonton acara ini, karena sudah memesan tiket pesawat dengan tanggal penerbangan yang sama dengan jadwal konser, dan akan kembali pulang di pagi buta esok harinya. Di sisi yang lain, ayolah Ton, pekerjaanmu mau dikemanakan? Kuliahmu? Kesehatanmu? Oke, fine. Saya mengalah.

Tepat tanggal 20 April, saya menawarkan tiket konser melalui informasi mulut ke mulut. Namanya saja tiket yang paling diburu awal tahun, kurang dari empat jam, ada yang tertarik membelinya. Ijab Kabul, sah…

IMG_1913
Reza (kiri) sang makelar. Fahmi (kanan) sang pembeli.

Part 3

Tiga minggu lalu, saya dengan salah satu rekan meyempatkan ngopi bareng di salah satu gerai kopi ternama di mall yang terletak di pingiran kota. Kita membicarakan banyak hal. Rencana liburan, sinema terbaru, pasangan, pekerjaan, dan apapun yang hinggap di kepala kita waktu itu. Sampai ketika ada pembicaraan yang seharusnya muncul ketika senyap atau hampir tengah malam. Tentang kehidupan.

cdhrrzow4aaq8c0
Perumpamaannya, kanmaen.

Udah kayak orang bener aja. Ngomongin berat-berat.

Literally, tak pernah berat. Karena omongan itu hanya berupa suara, yang energinya tidak mungkin bisa dihitung menggunakan dacin di warung Ko Aseng. Bobot pembicaraan yang mengharuskan perasan pikiran, dengan keluaran perasaan, serta simpulan membuatnya menjadi beban di kepala, hingga beberapa jam setelah kepulangan dan tiba di rumah masing-masing. Nama kopi tak murah dalam gelas kertas yang diminum, pun tak bisa lagi saya ingat, alih-alih memotretnya dan memaparkannya ke media sosial.

Final Part

4 April, adalah ulang tahun saya. Hari kelahiran. Bisa berarti dua hal. Pertama, peringatan saya muncul ke dunia, dan kedua, entah darimana asalnya, muncul budaya todong-menodong traktiran diikuti siraman tepung, ikat badan, ceplokan telur mentah dan sorakan. Alis dan mulut saya terangkat sebelah demi mengingat hal ini. Beruntung, kebiasaan kedua tak pernah dilakukan. Kecuali tahun kemarin, saya digotong, dan dicelup paksa di pantai biru nan jernih di sebuah pulau.

Bagaimana dengan tahun ini? Apakah akan muncul ilham, pencerahan, hidayah, dan sejenisnya? Atau, ingin berdiam diri, berkontemplasi sejenak dari hiruk pikuk dunia, menangis meraung-raung di koridor tempat ibadah? Membuat pesta kecil-kecilan bersama keluarga tercinta di halaman rumah? Jawabannya, tidak.

aries
Uh, yeah. Gonna believe it?

Malam itu, saya dikejutkan dengan hadiah berupa sekotak kue bantat dengan lilin penerang ruangan yang ditancapkan di atasnya. Mengenaskan, yet sooo lovely. Sederhana, namun penuh arti. Selesai. Tak ada acara mengharu biru.

Sekarang, sebulan jauh setelahnya, saya seakan mempunyai kewajiban untuk mengetik tulisan ini. Sudah lama blog ini hiatus. Dan di lain pihak, tentu banyak yang menunggu cerita saya #geer. Sebagus apapun ceritanya, jika tidak direkam, takkan berguna. Kemampuan lisan sama sekali tidak mendukung apabila suatu saat umur kita digerus waktu. Hanya tulisan, dan gambar yang akan meraja. Juga internet.

Disayangkan, kita bukanlah internet, tulisan, atau gambar. Seperti halnya saya, yang kemudian mencoba untuk menulis bebas dan dianggap mampu membuat karya pembuat decak kagum. Karena inilah hal yang bisa saya lakukan dengan bangga. Menulis.

Menulis, menyanggupkan saya untuk menumpahkan kekecewaan tak terlihat, atas tertundanya bepergian ke India. Menguatkan untuk tidak menyumpahi kegagalan menonton Tame Impala di media sosial. Menemani tanpa pamrih di keheningan malam pergantian hari jadi saya. Juga pendukung tepat, ketika saya memutuskan mengundurkan diri untuk tidak lagi menjadi, katakanlah, Duta Istimewa sebuah brand rokok, seminggu lalu. Panjang ceritanya. Yakin mau baca?

Selesai. Fin. The End.

Prequel, Where It’s All Begun.

Setiap orang pasti mempunyai kesibukan. Baik yang terukur, atau serampangan, serabutan. Yang membedakan adalah tingkat produktifnya. Sudah lama saya gemar menyibukkan diri untuk hal-hal yang jauh dari kata penting. Berkumpul bercanda tanpa batas waktu, mengikuti kegiatan yang sebetulnya bisa dikesampingkan, atau menunda pekerjaan utama dengan alasan liburan jalan-jalan. Bentuk kebutuhan paling atas Maslow, eksistensi diri. Lantas, apakah semuanya yang disebutkan tadi itu sia-sia? Tidak juga. Selama kita bisa mengatur kadarnya. Berani untuk membuat skala utama, bukan semuanya diraup dengan serakah.

Apakah itu berarti kita kesepian? Insecure? Ingin membuktikan diri-kepada-siapa? Melupakan kegundah gulanaan sementara waktu, seriously, sampai kapan? Beruntunglah orang yang sudah mampu untuk menargetkan sesuatu ketika waktunya sudah tiba. Hidup tanpa tujuan itu laiknya ke peturasan dan mendekam tak tenal waktu dari tujuan semula, yaitu membuang hajat. Oh, berhentilah sok bijaksana, Ton.

Ketika hidup sudah berjalan dengan mapan, tak ada yang perlu diubah. Kecuali pola pikir. Seandainya itu terlambat, setidaknya kita sudah berusaha. Kalaupun keadaan tidak memungkinkan, paling tidak kita sudah meniatkan. Selanjutnya, akan kita lihat, apakah semesta mendukung, atau justru melesakkan kita tanpa ampun. Damn, I have never been writing with many so-boring-like-shit-words, before.

Hari-hari saya berlalu dengan baik, mudah-mudahan, sejak awal bulan ini. Banyak obrolan kelompok di aplikasi perpesanan yang saya tinggalkan. Mengurangi jatah menonton di bioskop, dan memilih perpustakaan untuk sekadar melepas lelah. Menghabiskan waktu dengan menonton koleksi film kepunyaan kakak saya. Memutuskan berhenti menjadi asisten instruktur yoga. Menghabiskan waktu senggang dengan karangan fiksi yang terbeli, namun belum sempat untuk dibaca. Memasak kepiting perdana bersama dengan teman-teman yang terkumpul di tempat seduh kopi. Dan, kembali menulis di sebuah startup media online lokal.

second-chance-loans-featured
Everybody has their own.

Bagaimana dengan pelesiran? Tamasya? Tenang saja, awal bulan ini telah saya tandai dengan kegosongan ditambah pengelupasan kulit sana sini, karena berjemur di atas speedboat ketika mengelilingi pulau-pulau di Kepulauan Derawan. Kepongahan berujung pada kerisihan bertemu banyak orang, karena setiap kali berpapasan, saya dipastikan hampir mirip dengan ular yang berganti sisik. Tak mengapa. Namanya juga habis melancong. Hahaha.

Beberapa masalah yang telah saya sebutkan tadi, atau sekelumit kata batin yang ikut menyisip, tak perlulah untuk dihayati. Hayati lelah, bang. Anyink. Saya hanya butuh menulis, untuk kembali berdamai dengan apa yang telah saya lakukan, whether good, or bad. Saya menatap masa depan seraya mengais kembali kesempatan-kesempatan yang dulu enteng saya tinggalkan. Memang tidak mudah, atau sebaik pertama kalinya. Namun, apa ruginya mencoba. Bahkan jika itu dianggap mustahil. Yang kita hadapi nanti masih misteri, bukan naganya Daenerys.

Satu lagi, tempat ngopi tempat terjadi pembicaraan berat dengan salah satu teman dekat di ‘Part 3′ tadi adalah Starbucks.

Selamat tengah malam.

Making a big life change is pretty scary. But, know what’s even scarier? Regret.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s