Anak Muda Samarinda Itu, Begini…

“Saya warga Samarinda. Belia, dan penuh gaya. Walaupun gaya saya lebih banyak timpangnya dibanding dengan anak gaul yang hidup di ibu kota Jakarta. Yang setiap pagi hari selalu mengiba kekinian di media sosial, bukanlah menjadi soal. Tak lupa, selalu mengomentari apapun yang terjadi di linimasa, berdasarkan kepala berita. Tak pernah lengkap membaca hingga tanda titik berada, namun selalu menghardik meskipun itu baru tanda koma. Saya hidup di tengah orang yang suka memberi komentar, kelakar, penghakiman, pada sebuah judul. Tak peduli itu salah atau betul.

Saya tak suka berjalan kaki, itu adalah aib pribadi. Untuk membeli rokok ketengan atau pulsa limaribuan di depan gang, so pasti menggunakan kendaraan. Kendaraan pribadi atau tebengan teman satu kontrakan. Yang penting trendi. Daripada jalan kaki, hilang harga diri.

Saya tak paham manfaat trotoar, selain penghambat jalan dan proyek buang-buang uang. Tentunya para pengguna jalan ingin semua disamaratakan, tak ada yang ditinggikan. Trotoar juga bentuk intimidasi, bahwa yang lebih tinggi patut diutamakan. Padahal kita sama-sama pengguna jalan raya. Makanya, seringkali diprotes dengan banyaknya kendaraan yang lewat melaluinya jika kemacetan tiba. Pengguna jalan kaki di trotoar pun sedikit. Guna apa, kita memerhatikan mereka?

Beberapa hari terakhir ini cuaca panas. Mau ngapa-ngapain, malas. Keringatan, uyuh, kalau harus beraktivitas ke mana-mana. Mending di rumah aja sekalian. Jalanan berdebu, bikin badan lekas menjadi bau. Cuaca panas memang mengesalkan. Sama mengesalkan seperti cuaca musim penghujan. Jalanan biasa menjadi becek, jalanan tanah padat akan berlumpur, jalanan rata tak lama akan berlubang. Yang penting ngeluh duluan. Lomba mengucap sumpah serapah tentang cuaca, kerap terjadi di status aplikasi pesan instan. Namun hingga kini, belum ada yang menjadi pemenang. Siapa gerang?

Jangan lupa wal, besok malam Minggu. Saatnya akselerasi sepeda motor kita diadu mana lebih laju. Di sepanjang Jalan Kesuma Bangsa, sekitaran Stadion Sempaja, perempatan Mal Lembuswana, pilih saja yang mana kalian suka. Lupakan pengguna jalan yang lain, abaikan rambu jalan, petugas lalu lintas juga tak mungkin menghiraukan. Yang penting tengah malam, itu aman. Bawa pula cabe-cabean boncengan kalian, anak bawangnya juga, nanti saya bawa senjata ulekan. Tambahin terong-terongan yang selalu muncul dan ramenya keterlaluan di angkringan. Kelar balapan, kita pencokan.

Anggap aja tulisan ini sampah. Kada begaduh. Seperti kita yang membuang sampah sembarangan. Di pinggir jalan, di pinggir-pinggir bak penampungan sampah, di lahan kosong tak bertuan, lewat kaca jendela dari dalam mobil yang berjalan, asal lempar yang penting tidak kena orang kiri kanan. Toh, pakai kaca riben. Kada teliat dari luar. Bayar tukang ambil sampah itu kemahalan, bak sampah juga kejauhan. Mending di parit, atau sungai sekalian. Kalau banjir, yang kena kan seberataan, bukan sendirian. Tuh, kalau pas lagi nongkrong di Tepian, ada tempat sampah ganal, namanya Mahakam.

Rugi jadi anak muda Samarinda, kalau cuma bisa gabung di satu komunitas. Komunitas peduli alam, dua alam, alam mbah dukun. Komunitas penyuka jalan-jalan, penyuka hewan, penyuka minuman, penyuka sesama jenis. Belum lagi komunitas kendaraan, komunitas gadget sama, komunitas artis idola, komunitas selingkuhan dan mantan. Belum lagi sosialita dadakan. Bertambah panjang urusannya. Namanya aja pang, beda-beda. Gerakan, asosiasi, himpunan, barisan, perkumpulan, penyelamatan, pewaluhan. Tapi tuh pang, orangnya itu-itu aja yang muncul. MMPPA jar, Muha-Muha Pinanya Pasti Ada. Nanti tinggal nambah K di depannya, jadi dah sebuting komunitas hanyar.

Kalau sudah begini, supan sorang lawan kota sebelah. Mereka jalan maju, sayanya (mau) jalan di tempat. Mereka berbandara besar, saya berbual besar. Mereka bikin konser megah dan teratur, saya lihat di sini bikin konser tanggung dengan tambahan panitianya kabur. Mereka sibuk jual wisata, saya sibuk melihat baliho yang isinya muka sendiri di mana-mana. Mereka udah bikin kotanya sebagai tempat paling dicintai, saya justru sibuk memaki kota sendiri. Saya sih sok kritis, tapi males dikritik. Tapi kalo kritik pisang, kentang atau ubi, oleh uga.

Saya warga Samarinda, belia, minim karya, berdarah muda, namun tak mengidolakan Rhoma Irama.

* : artikel ini pernah dimuat di laman http://www.undas.co

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s