Kunang-Kunang di Loksado

Menggeliatnya perkembangan industri pariwisata di tanah air, membuat banyak daerah berlomba-lomba menggiatkan dan mempromosikan objek wisatanya kepada para pelancong, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Salah satunya ialah dengan menggelar kegiatan budaya. Contohnya, Festival Rakit Bambu Loksado, salah satu Destinasi Wisata Kalsel yang layak untuk menjadi pilihan.

Tahun lalu, saya dan tujuh orang teman, berkesempatan untuk mengikuti acara tersebut. Dengan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan meliputi pertunjukan langsung prosesi upacara adat suku Dayak Meratus, melihat Tari Bakanjar, mengunjungi desa Loklahung, bertatap muka dan berdialog bersama pemuka adat, dengan acara utamanya, Balanting Paring, atau mengendarai rakit bambu melalui sungai Amandit hingga ke dermaga pemberhentian di Ni’ih, ditutup dengan menyantap Nasi Humbal dan Ayam Bapalan, kuliner khas daerah tersebut.

DSCN1775
Kaos merah yang khusus dipakai oleh panitia
_MG_9062
Tempat baru, kawan-kawan baru

Kebetulan, kami berdelapan mendirikan tenda di sepetak tanah kosong tak jauh dari tepi sungai. Menikmati gemericik air sungai, segarnya udara hutan, dan keheningan sejenak dari polusi suara khas perkotaan, tak pernah seindah waktu itu. Belum lagi hiburan ratusan pendar cahaya yang datang dari sekumpulan kunang-kunang beterbangan pada waktu senja. Tepat ketika kami sedang mandi di sungai.

AAB
Kunang-Kunang. Sumber : firefly.org

Lampyridae, atau lebih kita kenal dengan Kunang-Kunang, adalah indikator polusi alami. Hewan ini dapat dijadikan petunjuk kualitas lingkungan. Pada lingkungan berpolusi tinggi, ia tidak sanggup bertahan hidup, disebabkan telurnya memiliki inang di sipit air. Secara berantai, di perairan yang tercemar, maka tidak ada siput air, dan mengakibatkan Kunang-Kunang tidak dapat berkembang biak. Bisa dipastikan pula, jika tanpa sengaja kita melihat kunang-kunang, maka daerah yang kita tempati tersebut masih jauh angka polusi dari berbahaya.

Dan di Loksado, bukan hanya satu atau dua Kunang-Kunang yang bisa dilihat. Tapi ratusan!

Blog 4 Copy
Semoga diadakan lagi tahun mendatang

Masyarakat adat suku Dayak Meratus berpusat di Loksado. Terbukti dengan Balai/Mukim yang ada di lereng pegunungan Meratus, bahkan sampai ke Pulau Laut, dan diketuai oleh Damang. Seseorang yangmenjabat sebagai pemimpin balai-balai. Sebelum pengaspalan jalan yang dilakukan pertama kali pada tahun 1993, warganya bepergian dengan cara Mamalipir Sungai, atau berjalan di sepanjang sungai.

Menurut penuturan Bapak Haji Udin Daeng, salah seorang tokoh adat, Loksado justru lebih dikenal oleh warga negara asing, karena daerah aliran sungai yang masih tetap asri, tidak pernah dihancurkan. Selain itu, hutan di Loksado termasuk yang paling asli di Kalimantan.

“Hadirnya tempat wisata di Indonesia, sering tidak diiringi oleh kesadaran pengunjung untuk menjaga kelestarian objeknya. Bagaimana masyarakat Loksado menyikapinya?” Saya bertanya.

Beliau menhawab : “Kebiasaan orang yang tidak menjaga kebersihan, jelas bukan tanggung jawab siapapun, selain mereka sendiri. Yang dapat kami lakukan sejauh ini, adalah membentuk kelompok sadar wisata pada lingkup kecil masyarakat. Karena kami sadar, Loksado merupakan jalur perak di Kalimantan Selatan.”

Jpeg
Meramaikan Tarian Bakanjar
Blog 2 Copy
Salah satu prosesi upacara adat
Jpeg
Mengunjungi dua air terjun. Riam Haratai, dan Riam Barajang
Jpeg
Kuliner khas, Ayam Bapalan

Festival yang digelar tiga hari berturut-turut, dengan jadwal kegiatan yang ‘berisi’, mampu membuat saya berikut teman-teman  berencana untuk kembali ke acara ini lagi. Terlepas dari minimnya promosi yang dilakukan, tentu ini bisa disiasati dengan sosialisasi menyeluruh kepada instansi terkait ke depannya.

Ragam Destinasi Wisata Kalsel yang harus dikunjungi sekarang ini bukanlah hal sulit. Pesatnya permintaan wisatawan membuat maskapai Garuda Indonesia membuka penerbangan langsung dari beberapa kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Balikpapan, dan Batam pergi pulang. Dari Bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru, menuju Loksado dapat ditempuh dengan moda transportasi darat selama tiga jam. Tak sulit menemukan penginapan dengan harga terjangkau di sana.

Jpeg
Warga desa yang meraut dan membersihkan kayumanis

Disamping suguhan jejeran kayu manis yang dijemur, kita bisa minta tolong untuk dibuatkan gelang Simpai kepada warga Loklahung. Gelang simpul yang dibuat dari serat pohon, dan langsung diikat di pergelangan tangan.

Jika di awal tulisan, saya menyebut Kunang-Kunang, sempatkanlah untuk melihat kumpulannya beterbangan saat hari mulai gelap di tepi Sungai Amandit. Kenangan masa kecil mungkin akan terlintas, saat udara masih bersih, atau ketika kita sibuk mengumpulkan dan memasukannya ke dalam toples kaca. Pendarnya membuat bahagia.

Pengalaman bertemu Kunang-Kunang, bisa jadi akan membuka mata kita, bahwa masih ada sepetak hutan yang negeri ini, yang layak untuk dikunjungi, yang jauh dari polusi.

Selamat datang di Loksado.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s