Liburan Murah Ke Labuan Cermin, Biduk-Biduk.

Untuk urusan jalan-jalan dan membagikannya ke semua orang, saya termasuk jarang banget harus ngomongin dari titik A ke B, B ke C, sampai sedetil-detilnya. Alasan pertama, saya belum berani mengeluarkan data dan jumlah nominal tepat jika baru pergi untuk pertama kalinya. Kedua, saya termasuk pejalan dengan ingatan fotograf yang lumayan parah, ini artinya kemungkinan untuk tersesat atau nyasar semakin meningkat. Ketiga, menuju ke satu tempat dengan dipandu secara rinci, ini berarti kurang menantang. Dan alasan terakhir, saya bukan situs tour guide. Ehe.

IMG_7367
Emang gue pikirin?

Tapi tetap ada pengecualian, lah. Terutama untuk yang satu ini.

Bermula dari postingan Pak Fadli di Facebook, bahwa beliau akan pergi untuk melihat penampakan Hiu Paus di perairan Talisayan, Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau. Bahkan, di situ tercantum, pria yang kerap dipanggil Bapak oleh para anggota Samarinda Backpackers ini, berencana akan membawa “alat tempur” untuk mengabadikan kegiatan di dalam bawah air sana.

Foto 1
WhaleShark Hunting, vrooh…

Lah terus, apa asyiknya?

Hiu Paus, atau Whale Shark, dengan nama latin Rhincodon Typus, ternyata punya banyak nama lokal, seperti Hiu Bodoh, Hiu Geger Lintang, Hiu Totol, Hiu Bintang, dan Hiu Bingkoh. Kalah-kalah nama samaran Jason Bourne. Mudah dikenali dari warna badannya yang keabu-abuan, dan penuh totol. Makanannya adalah plankton atau ikan-ikan kecil. Jadi kalau ada manusia yang berenang di dekatnya, nggak usah ge-er bakal diburu atau digigit gigit lucu. Hiu ini juga dikenal sebagai hewan yang jinak.

Imagine, please, berenang bersama dengan Hiu adalah impian sebagian besar penikmat laut, bakal direkam dengan kamera keren. Biaya ke sana sistem share cost. Menyenangkan.

Tanggalnya pun sudah ditentukan, yaitu 13, 14, dan 15 November. Tepat di akhir pekan. Peserta yang akan berangkat pun silih berganti, tumbang muncul satu per satu. Dan akhirnya, jumlah tersisa yang pasti akan ikut adalah 14 orang, termasuk saya, dengan menggunakan tiga mobil. Lengkapnya, satu mobil famili van, satu mini van, dan satu SUV. Nggak perlu sebut merek, ya? Oke, lanjut.

IMG_7305
Sebenarnya, ada mobil Hummer saya di situ. Ketutup ama mobil abu-abu. #tiputipu
3
Mobil 1

Ada Priska, Andre, Empret, Inyot, Saipul, di mobil pertama.

Mobil Jomlo.

2
Mobil 2

Kemudian ada Mbak Agnes, Mas Putu, Mbak Yanti, Maik, dan Unang, ada di mobil dua.

Mobil mbak-mbak.

4
Mobil 3

Terakhir, ada Tonsky Lannister, Pak Fadli, Mas Doni, dan Mas Eri, di mobil evergreen.

Iya, karena lagu-lagu yang mengiringi mobil kita didominasi lagu Vince Gill, Peter Cetera, Richard Marx ce es. Kalau saja pakaian kita berempat aneh-aneh, pas banget buat dipanggil Bag of Donuts.

bag-of-donuts.jpg
Sumber : google image

PERJALANAN DIMULAI!

17.30 : Berangkat dari Samarinda

Janji semula adalah pergi pukul lima sore. Namun apalah daya, banyak dari anggota tim ini yang harus menyelesaikan pekerjaan akhir pekannya, sehingga berakibat molor-semolornya.

Selain cemilan dan makan minum pribadi, nyaris tidak ada biaya tambahan yang dikeluarkan. Jadi, untuk sementara, biaya = Rp. 0

20.30 : Tiba di Bontang

Sesampainya di sini, rombongan mobil 3 harus menjemput Pak Fadli, karena domisili beliau ada di perumahan Badak LNG. Selain itu, menyempatkan diri untuk sholat Maghrib, sebelum kemudian mengejar ketertinggalan dari rombongan lain, demi mengisi penuh tangki bahan bakar di kota selanjutnya.

Setelah mengisi penuh bahan bakar untuk mobil di SPBU Sangatta, kami memutuskan untuk makan bakso tulang yang enak banget di sana, letaknya sebelum SPBU ke dua dari arah Samarinda. Tak lupa, membeli air minum kemasan ukuran besar, satu kardus.

12283178_1633028500296643_1211025266_n
Nominal di struk pertama. Di struk kedua yang buram, yaitu seratus ribu rupiah. Jadi, digenapin aja jumlahnya. Biar nggak ribet pas ngitung.

Makan + air mineral + BBM (PP) 

120,000 + 100,000 + 600,000 = Rp.820,000. Dibagi 4 = Rp. 205,000

Nominal angka pada struk di atas adalah biaya bahan bakar yang disimpan di jerigen berukuran 30 liter. Diletakkan pada bagian belakang mobil.

23.00 : Berangkat dari Sangatta

Perut kenyang, hati senang. Tunggu dulu, karena masih ada empat jam ke depan, untuk sampai Penyeberangan feri di GM.

03.00 : Tiba di Titik A Penyeberangan GM

Karena masih pagi buta, dan feri yang biasa menyeberangkan kendaraan hanya satu unit saja, bisa dipastikan akan berlangsung lama. Waktu ini digunakan untuk makan (lagi), dari bekal nasi dan ikan punya Pak Fadli. Lumayan untuk mengganjal perut. Selanjutnya, dihabiskan dengan tidur-tiduran saja. Pemandangan di situ belum jodohan untuk minta diambil gambar menggunakan kamera. Selain muka-muka calon penumpang yang teler semua.

Pukul 4 pagi, saya dibangunkan. Padahal lagi asyiknya meringkuk di dalam sleeping bag, di depan warung warga. Feri yang ditunggu sudah tiba, waktunya untuk melanjutkan perjalanan.

Biaya penyeberangan feri : Rp. 200,000/mobil*

Dibagi 4 = Rp.50.000/orang

PP = Rp. 100,000/orang

04.30 : Sampai di Titik B Penyeberangan GM

Begitu feri bersandar, tak butuh waktu lama untuk kembali menembus gelapnya pagi demi cepat sampai ke Biduk-Biduk, karena untuk mengunjungi Talisayan, we run outta time.

07.30 : Pertigaan Talisayan-Biduk Biduk. Istirahat area Tembudan

IMG_7301
Pertigaan ini cukup tricky. Lengah dikit aja, kebablasan pwol. Tak percaya? Silakan tanya Mas Eri (kaos hitam) Hahaha!

08.30 : Labuan Cermin

Sampailah kita di sini. Tidak lupa, jika menggunakan mobil, akan dikenakan biaya parkir sebesar Rp.10.000. Begitu mobil diparkir, dua tempat yang dicari adalah toilet dan warung.

IMG_7314

Warung pertama kali dan satu-satunya yang kita singgahi, adalah milik seorang ibu yang berusia paruh baya. Nasi kotakan pun dipesan dan bisa diantar langsung ke lokasi danau. Fear fact, makanan di sini sama sekali tidak direkomendasikan untuk dinikmati, kecuali level laparnya seperti Black Hole. Alasannya, bisa jadi sangat subyektif. Biarlah itu menjadi cerita empat belas orang saat itu saja.

Sarapan + Makan Siang = Rp.140,000 + Rp. 420,000

Rp.560,000 / 14 = Rp. 40,000/org

Perjalanan menuju Danau Dua Rasa, Labuan Cermin, harus menggunakan kapal kecil dengan mesin tempel. Satu kapal hanya boleh diisi maksimal sepuluh orang, tidak boleh lebih. Bisa ditebak, kami menggunakan dua kapal. Dengan jarak lebih kurang lima belas menit.

Ongkos Kapal : Rp.200,000 / 14 org = Rp. 15,000

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tuh, Labuan Cermin saat pagi hari itu berasa banget indahnya. Visibility dalam air, oke. Tenang dan menentramkan.

Setelah makan siang, mengambil foto, dan tentu saja berenang. Kami berisitirahat sejenak di sebuah warung dekat loket. Sembari menjemur pakaian dalam.

Iyuwh.

IMG_7339

Tepat jam 2 siang, kami berangkat menuju Biduk-Biduk, untuk membilas badan, dan beristirahat sejenak di rumah salah satu kenalan. Jam 4 sore, kami memutuskan untuk segera pergi ke Talisayan, agar bisa bermalam, dan pergi ke Bagan saat dini hari. Satu jam setengahnya, rombongan baru tiba di pertigaan Tembudan.

18.15 : Ishoma & Makan Malam di RM. Dinda

Kalau diminta untuk merekomendasikan makan enak, saya bisa mengarahkan ke sini. Harga yang diberikan untuk seekor ikan segar yang digoreng kering + teh tawar hangat + nasi + kerupuk + melinjo, dihargai tak lebih dari Rp. 50,000 per orang. Sambelnya, pas untuk ukuran saya. Letaknya sekitar sepuluh-lima belas menit sebelum jembatan Talisayan dari arah Biduk-Biduk. Seingat saya, masih di dalam area Desa Dumaring.

IMG_7363
Dua orang ini memenuhi kapasitas memori kamera. (-__-)

Tak lupa, sebelum kami menuju rumah Pak Ari, orang yang nantinya akan memandu kita menuju bagan, Pak Fadli sempat untuk memesan satu porsi makanan, agar bisa disantap pagi harinya. Menunya, nasi dengan lauk ayam/ikan/telur seharga Rp. 30,000/bungkus.

Rombongan kali ini harus terpisah dua bagian. Mobil 1 dan mobil 2 menginap di rumah saudaranya Empret. Sedangkan Mobil 3 dipersilakan beristirahat di rumah Pak Ari. Tepat jam 9 malam, kita sudah tertidur kelelahan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

03.00 – 04.00 : Prepare!

Butuh waktu satu jam, untuk membangunkan seluruh personel, mengambil pesanan nasi bungkus di RM. Dinda, dan berkumpul di kapal yang akan mengantar ke bagan.

Biaya pergi pulang dari dermaga di bawah jembatan sampai ke bagan bolak-balik adalah seratus ribu ripuah per kepala. Namun karena pergi dalam jumlah banyak, Pak Fadli bisa menawar harganya hingga dua pertiganya. Jadi, biaya kapal = Rp.75,000/orang.

IMG_7375
Blenyek semua mukanya. Masih ada yang berasa bantal. Tapi diseger-segerin, karena berharap akan bertemu dengan Hiu Paus.

05.00 : Tiba di Bagan

Setelah sempat diguyur hujan dan angin selama setengah jam dalam perjalanan. Ini adalah pemandangan bagan pertama yang kami lihat.

IMG_7382

Begitu ditanya oleh motoris yang mengendarai kapal kami, penghuni bagan yang berada di situ menjawab, beberapa waktu sebelumnya, memang ada hius paus yang mendekati bagan tersebut, namun sudah pergi, karena tidak ada ‘umpan’ berupa ikan Tembang yang dibuang.

IMG_7384

Bagan-bagan selanjutnya pun kami singgahi, demi mendapatkan informasi tentang keberadaan Hiu Paus. Hasilnya, tetap nihil. Beberapa hal yang memicu ketidakhadiran  hewan mamalia yang terancam punah itu, antara lain : pengaruh musim angin, cuaca, letak bagan, dan ‘umpan’. Lhah, lok umpan? Emang boleh?

Para nelayan yang bermukim di bagan, pada jam-jam tertentu, akan membersihkan jala ikan. Karena yang dicari adalah jenis ikan Teri, maka jika ada jenis ikan-ikan asing yang tertangkap, dibuang pada saat itu juga. Nah, ikan-ikan yang terbuang ini, biasanya Ikan Tembang, lantas menjadi santapan buat ikan-ikan yang nantinya menghampiri bagan, termasuk Hiu Paus. Dan pada saat itu, pasokan ikan Tembang tidak ada.

Hari itu bukanlah hari keberuntungan kami untuk bisa berenang bersama dengan Hiu Paus. Apalagi mengabadikan kesempatan untuk merekam gerak-geriknya. Kata Pak Fadli, masih banyak pecahan ‘puzzle’ yang harus kita rapikan dulu. Dari pergerakan bulan, arah angin yang tepat, sampai jadwal cuti yang harus diatur sedemikian rupa. Sederhananya, another trip would be the finest way out. Hiks.

Tak perlu menanyakan bagaimana perasaan masing-masing peserta trip saat itu. Saya pribadi biasa saja, karena saya sudah mengatur hati saya untuk tidak highly expected terhadap kemunculan Hiu Paus. Beruntungnya, kami sempat menikmati keindahan Danau Labuan Cermin. Jika tidak? Tentunya perjalanan yang sudah diatur berminggu-minggu, hanya menyisakan kelelahan.

Kapal yang kita naiki pun berbalik arah. Kalimat Mas Putu masih terngiang-ngiang di benak saya, “Kalau mau liat hewan itu, jangan diniatin. Bisa nggak jadi nantinya…”.

Dan suara berkelotok teratur dari mesin kapal yang menyatu dengan deru hujan, menambah suasana syahdu. Semua yang berada di atas kapal, tidak mengeluarkan canda seperti biasanya.

“A good traveler has no fixed plans and is not intent on arriving.” Lao Tzu

Tepat jam 9 pagi, kami sudah berkumpul, untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.

12282813_1633029056963254_304978262_n
Foto : Mas Eri

 

 

Perjalanan pulang masih sama, seperti kita pergi dua hari lalu. Saya sendiri tiba di rumah, dan ngejeblak di kasur pada pukul 11 malam. Total perjalanan pulang, empat belas jam.

Sekian.

Catatan:

  • Semua biaya yang dikeluarkan berdasar patokan dimulainya perjalanan dari Samarinda, melalui jalur darat.
  • Cukup tingginya harga makanan yang ada di kabupaten Berau (untuk pejalan hemat), bisa diakali dengan membawa bekal dari tempat asal, atau membuat sistem potluck dalam satu tim.
  • Jika bisa, langsung saja beri uangnya kepada asisten nakhoda (kernet). Tidak perlu menanyakan berapa harga yang harus dibayar, karena mereka akan mematok biaya lebih dari itu. #infobocoran #feriGM
  • Jadwal keberangkatan feri penyeberangan Jl. Poros GM tidak bisa ditentukan. Bisa tepat waktu dan tidak. Tergantung pasang surut air sungai.
  • Lempake atau Lenggo? Jalur Lempake umum dilalui apabila musim penghujan tiba, karena jalananannya relatif mudah dilalui dibanding dengan jalur Lenggo, namun akibatnya, durasi perjalanan harus ditambah dua jam. Karena sebagian besar jalannya belum dilapisi aspal. Terserah.
  • Mana postingan gambar makanan yang dibilang segar, enak, yang disebutkan di atas? Jawabannya : Selagi menyantap makanan, tidak harus sibuk mengambil kamera untuk jeprat-jepret, bukan?
  • Kecepatan mobil variatif. 40km/jam di jalanan berkubang, 60km/jam di jalanan berbatu, 80km/jam di jalanan normal, 100km/jam saat ngebut. Kecepatan terakhir akan bertambah, jika harus memutar balik karena salah arah, dan mengejar ketertinggalan rombongan mobil yang lain.
  • Biaya untuk penginapan bisa ditekan dengan cara camping, hammocking, atau menggunakan relasi/handai taulan yang ada, untuk izin menginap di rumahnya.
  • Harga yang saya sebutkan di atas, di luar dari cemilan yang dimakan di dalam mobil, oleh-oleh, atau keperluan pribadi.

 

Totalan : Rp.205,000 + Rp.100,000 + Rp.15,000 + Rp.50,000 + Rp.30,000 + Rp.75,000 = Rp. 475,000

Berhubung ada kenalan yang juga menyediakan jasa perjalanan ke area Berau, dan sekitarnya. Saya akan memberikan beberapa pilihan di bawah ini.

  • Open Trip-nya Mas Ogie: 085247977969 – 59E25898.
  • Open Trip-nya Mas Putu: 081233220900 – 57D5525C

Dua orang di atas mematok harga Rp.1,000,000 – Rp. 1, 500,000/ trip. Karena selain Labuan Cermin, destinasi yang dipilih adalah ke Pulau Kaniungan Kecil, Kaniungan Besar, Teluk Sumbang, Air Terjun Bidadari dll. Tipe pengendara mobil yang nurut. Bisa bawa santai kayak di pantai, bisa juga ngebut kayak Dominic Toretto. Plus, mereka berdua tidak merokok.

Share cost Trip-nya Pak Fadli: 081346468988

Ibu Dinda (RM Dinda): 081350624257

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s