Cerita Sederhana Tonsky

Hari ini kelar siaran. Siaran pertama yang mengharuskan untuk mengharubiru sangking was-was terhadap hal terjadi sewaktu saya mengudara. Bukan karena partner saya berhalangan hadir. Tapi karena belasan sms dengan nada mengancam, dan telak ditujukan kepada saya.

Tonsky dapet anceman? Kok bisa?

Sebenarnya bisa saja. Jika itu datang dari seseorang yang sakit hati. Sakit hati yang mengendap menjadi sebuah dendam, dan mungkin saja tak tepat penyaluran.

Beberapa bulan lalu, ada seorang wanita,tak perlu disebutkan namanya. Seorang yang datang dari (mudah-mudahan) keluarga baik-baik, berkarier gemilang, mapan, berusia beberapa tahun di atas saya, dan tentu saja, dengan keadaan keuangan jauh berkali-kali lipat dibandingkan orang yang menulis tulisan ini.

Singkat kata, ia jatuh hati. Kepada. Saya.

Di titik ini, mungkin saya sangat boleh disebut sebagai laki-laki kurang ajar, karena memanfaatkannya demi kesenangan belaka. Apology for that.

Berkali-kali ia mengajak, memaksa saya untuk menemaninya makan di restoran, nonton di bioskop beberapa kali seminggu, dan membelikan saya hadiah. Dalam bentuk kiriman yang dialamatkan ke rumah berikut berlembar-lembar surat, atau secara langsung memberikannya. To be frankly, saya sudah berusaha keras menolak, bahkan berkata, saya tidak akan pernah memberinya satu pun harapan.

Remember this, saya tidak pernah memberinya harapan apapun. Baik jalinan kasih, atau jalinan hubungan selain teman. Apalagi berhubungan intim. Saya sendiri bergidik berkali-kali jika mengingat, ia dengan gamblang mengajak saya untuk berhubungan badan setiap kali kita berinteraksi melalui pesan teks. Memangnya saya laki-laki apa kabar?

Ada beberapa pertimbangan yang membuat saya tak ingin lagi berhubungan dengannya, bahkan untuk menjadi teman. Saya tak akan menceritakannya di sini. Ciyus.

Hingga dua minggu lalu,

Dia mengajak saya untuk bertemu di sebuah pusat perbelanjaan ternama di pinggiran kota. Berbekal percaya, bahwa hubungan pertemanan bisa dijalin kembali, saya menyanggupi dengan dua syarat, bahwa ia tidak boleh lagi menjemput saya dengan mobilnya, dan tidak boleh lagi mentraktir saya, dimanapun, seperti yang dulu ia lakukan.

Kenapa?
Karena jika ia mulai marah, dan keinginannya tak terpenuhi untuk bisa bersamanya, ia akan meminta semua, iya semua, yang pernah ia berikan dengan nominal sekian juta rupiah, yang pernah ia berikan dahulu. Semuanya dihitung. Dan itu secara tidak langsung menyudutkan saya dengan keadaan, bahwa sama sekali tidak ada kata ikhlas memberi, atau ikhlas begitu saja, dalam hubungan kita berdua. Macam apa pula ini?!

Okay, begitu sampai di mall tersebut, ternyata dia menunggu saya di salah satu department store yang khusus menjual item wah-mahal-banget-untuk-ukuran-backpacker-nanggung-seperti-saya.
Apa yang terjadi? Ia membelikan saya sepasang sendal dengan harga mendekati satu juta rupiah. Sandal doang, cuy! Sejuta rupiah? Mendingan beli tiket PP ke Berau. Cus ke Derawan.

Tapi inget, dia adalah orang dengan latar belakang pekerjaan yang memberikan gaji berkecukupan. Apalah saya yang cuma gombal singlet Swan? Harga segitu sih, tak menjadi masalah.

Setelah lama tak bersua, keadaan yang saya tangkap, dia menjadi manis, dan lemah lembut. Di benak saya, dia sudah mampu menjadi wanita yang lebih baik, dan akan segera menikah dengan lelaki pujaannya (menurut ceritanya). Oke fix, saya terima menjadi temannya lagi. Serious, being a friend, no more.

Setelahnya, kita berdua pergi untuk mengopi, dan nonton di bioskop. Dengan alasan yang saya sebutkan si atas, tiket nonton, ngopi, atau makan, Alhamdulillah bisa saya bayar sendiri. Tidak harus menggantungkan dari kartu kreditnya untuk melunasi. I feel free.

Feel free? Definitely not.

Seminggu lalu, ia mengajak saya untuk kembali menonton. Saya menolak, karena beberapa hal. Termasuk harga karcis di bioskop premier ketika Sabtu malam itu horor banget untuk saya. Ia pun berang. Seperti yang sudah saya duga, ia kembali meneror saya pelan-pelan.

Ia menggali informasi tentang keberadaan saya, menyebut saya manipulatif, dan mengorek keterangan dari orang dekat, termasuk beberapa orang di lingkungan saya bekerja. Katanya saya ginilah, gitulah, gonolah. Saya tak terima untuk sekian waktu berselang, namun mafhum dengan keadaannya. Agresif, Posesif, dan Intimidatif. Pola pikir apapun akan terpental jika berurusan dengan orang seperti ini.

Bayangkan, jika lawan perang kita adalah orang yang : Keras Kepala, Its All About The Fucking Money, Pintar, dan… Wanita.

Kombinasinya cukup untuk membuat telor ceplok di jidat.

Dua hari lalu, kami bertengkar besar di rumah saya. Awalnya dimulai dengan serangan sms-smsnya. Saya tak tahan untuk tidak membalasnya. Saya cukup sanggup untuk tidak meladeninya beberapa saat. FYI, textwar dengannya bisa memakan waktu dua hari dua malam jika disambut. Ya ampun, saya sih punya kesibukan lain dan penting, dibandingkan mengurusi hal itu. Belasan telpon darinya sama sekali tak saya angkat.

Begitu saya pulang, saya mendapatinya berada di rumah. Rumah saya. Dengan kemarahan dan kejengkelan yang terkumpul, saya minta dia untuk pergi. Suara pelan milik Enya, berubah menjadi lengkingan Shinjo Hatori, menjadi milik saya seutuhnya sore itu, ketika ia ngotot untuk tidak beranjak lekas pergi.

Pertengkaran pun tidak terelakkan. Ia sempat menghancurkan baby chair milik Fay, dan menyumbang undangan tetangga, dan juga kakak saya untuk menonton gratis adegan terdrama tahun ini. Kata seorang teman, yang juga teman kami berdua, ia mengaku menghajar saya hingga babak belur, dan merusak beberapa perabot di rumah saya. Owalaaah… Untuk yang ini saya tidak berkomentar.

Jika merusak beberapa perabot seperti karpet yang tergeser, atau membuat beberapa buku jatuh dari raknya, bisa jadi akan saya iyakan.

Seusai bertengkar, ia meminta saya duduk bersama, saya ikuti. Saya pun mengambilkannya air minum agar tenang, supaya bisa mengobrol secara baik, dan benar. Saat itu, dia mengatakan sesuatu…

“Kita nikah aja, yuk? Sekarang.”

Jleger!!! Adegan Jon Smith dan Jane Smith langsung terpaku di benak saya.

THIS.
IS.
DRAMA.

FUCK.
FUUUUUUUUUCCCCCKKKKK!

Absolutely no for you, lady pshyco! NO!

Demi kebaikan bersama, saya langsung tuntaskan saja. Saya langsung menjawab dengan diplomatis. Saya tak akan menikah dalam waktu dekat ini, hingga lima tahun atau lebih ke depan. Dengan siapapun itu. Saya memintanya baik-baik untuk keluar dari rumah, dan mengantarkannya ke tempat mobilnya diparkir.

It. Is. Over.

Dan sekarang, saya masih berada di studio. Masih sibuk menulis blog ini di atas tombol smartphone yang mulai sekarat. Sms-sms darinya yang berisi tentang kesakithatiannya, dan mengancam saya untuk hengkang dari Samarinda tidak lagi saya terima. Beberapa pesan yang ia kirim tadi sudah saya screenshoot dan kirimkan untuk kakak saya. Dan menunggu, kira-kira kejutan apalagi yang akan dia lakukan.

Besok, lusa, tulat, atau tubin, saya tak akan pernah mau lagi berurusan dengan orang semacam ini lagi. Yang mengaku punya jin dalam tubuh dan bisa mengeluarkannya sewaktu-waktu jika kemarahannya meledak. Yang mengaku akan mengumpulkan orang-orang dari ormas untuk membuat rusuh di rumah saya. Dan berjanji untuk menghantui saya seumur hidup. Dear God, I’m exhausted.

Sekian.
*baca do’a selamat*

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s