Gara-Gara Garuda Indonesia, Kuliling Babaronda Deng Tamang Bae di Bunaken. *

November tahun lalu, saya bermimpi untuk mengunjungi Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Beruntungnya, ada kompetisi blog yang diselenggarakan oleh Garuda Indonesia regional Kalimantan. Syaratnya adalah, menceritakan pengalaman terbang dan manfaat apa saja yang diperoleh jika bepergian bersama Garuda Indonesia. Akan dipilih tiga pemenang untuk dihadiahi tiket pergi pulang dengan tujuan Manado, Pontianak, dan Banjarmasin.

Setelah sebulan menunggu, akhirnya Desember lalu, setelah menyisihkan lebih kurang puluhan blogger, saya ternyata didapuk menjadi juara pertama. Dan Manado, adalah tujuan perjalanannya. Baiklah. Mau tidak mau, itinerary yang sudah saya susun jika pergi ke Banjarmasin, harus diubah total. Kelabakan karena tidak mempunyai rencana cadangan, saya memutuskan menggunakan tiket hadiah tersebut, pada akhir pekan, di bulan Januari 2015.

Blog Garuda
Tulisan yang bikin saya jalan-jalan.

Awal perjalanan saya kali ini penuh drama. Pertama, malam sebelum keberangkatan, saya terpelanting dari atas motor, dan mengakibatkan lecet di kaki. Drama kedua, terjadi pada keesokan harinya, ketika saya sudah tiba di bandara. Jika biasanya saya akan membawa trolley bag, kali ini saya putuskan membawa carrier berukuran 60 liter untuk diisi perlengkapan dan pakaian untuk melancong. Ala-ala backpacker.

Salahnya, saya baru tersadar, bawaan saya itu tidak akan bisa masuk ke dalam kabin pesawat. Karena ada beberapa bahan metal seperti survival kit, carabiner, hingga portable tent. Sementara carrier yang saya bawa, berhias juntaian body belt sana-sini, hingga matras gulung. Masak iya, saya harus kembali ke rumah dan menukarnya dengan koper? Jarak rumah dan bandara memakan waktu tiga jam!

Berbekal percaya dan yakin nggak ada hal jelek, saya pun memasuki area check-in Garuda Indonesia. Saya berpesan kepada petugas, agar meletakkan carrier saya dengan hati-hati. Karena saya khawatir, setiap bagasi akan dilempar kesana kemari dan memporakporandakan isinya. Kecemasan saya tidak terbukti, justru carrier saya dilabeli beberapa jenis tag berwarna-warni sekaligus, bertuliskan “Executive Class“, “Di Dekat Pintu”, “Fragile” dan tentu saja, Seal Lock berwarna hijau muda.

Manado, here I come.

Blog Manado 41
Favorite Seat. Pintu darurat dekat jendela. Ekonomi rasa eksekutip, Mak!
Blog Manado 29
Mbak, saya bisa pesan 2 porsi menu seperti ini lagi? Dibikinkan tiga deh, satunya dibungkus.

Setelah selesai makan, saya sempatkan untuk mengobrol dengan salah satu flight attendant. Sekaligus bertanya, mengapa seragam yang dipakai, dibedakan menjadi empat warna. Hijau Toska, Jingga, Biru, dan Ungu. Jawabannya sederhana, awak kabin pelaksana ialah yang sering dijumpai berseragam Hijau dan Jingga. Untuk penerbangan First Class, muncul Maitre d’Cabin yang menggunakan seragam berwarna Ungu. Sementara yang menggunakan seragam biru memegang jabatan paling tinggi di antara kru kabin, satu tingkat di bawah pilot. Sepintas dengar, katanya ada juga seragam berwarna hitam. Namun saya belum pernah melihatnya.

Begitu tiba di Bandara Sam Ratulangi, carrier saya mulus, tak bernoda, apalagi hilang isinya. Senangnya. Tuh kan, masalah sepele aja ditangani sebegini rupa. Well, you just have to believe this 5 Stars Airlines, guys.

Selanjutnya, saya mengontak kenalan yang sesuai rencana, rumahnya akan saya tumpangi selama dua hari. Ada Dwi, sahabat saya yang tiba-tiba ingin banget, bebarengan dengan saya menyusuri kota dengan motto Si Tou Timou Tumou Tou** ini.

Manado, atau yang biasa disebut Menado, adalah ibukota provinsi Sulawesi Utara, dengan jumlah tempat wisata yang melimpah. Tertarik dengan wisata icip-icip? Kita bisa datang ke kawasan kuliner Tinutuan di Wakeke. Bubur Manado dengan makanan pendamping seperti bagasang, dan ikan cakalang fufu, patut untuk dicoba.

Blog Manado 25
Dwi, berani nggak, foto di atas gapuranya?

Atau untuk penggemar kopi, silakan untuk menjadi bagian dari ratusan orang yang berteduh dan berbincang di sepanjang Jalan Roda. Uniknya, kopi yang dipesan bisa setengah cangkir. Tentu saja harganya pun separuh.

Blog Manado 26
Camera 360. NOOOOOOOO!!!

Wisata yang lain yang bisa ditemui adalah wisata religi. Sudilah mampir ke Bukit Kasih, di daerah Tomohon. Jarak selama dua jam dari pusat kota, terbayar dengan pemandangan dan bangunan, yang mencerminkan kerukunan umat beragama di sini. Terdapat patung Jesus The Redeemer terbesar kedua di dunia di sini.

Masih ada lagi ekstrimnya Pasar Beriman, yang menjual hewan-hewan……… Ah, saya belum berani melanjutkan. Datang saja langsung ke tempatnya. Dijamin, bagi sebagian orang, akan mual dan merinding. Hehehe.

Manado juga terkenal dengan tempat gaul muda-mudi. Mulai dari mall-mall, diskotik, hingga hang-out place/corner, yang menyebar di mana-mana. Namun, ada satu yang terkenal, yaitu Boulevard. Area ini merupakan kawasan reklamasi pantai terpanjang di Indonesia. Awal pembuatan hingga diresmikan memakan waktu lebih kurang 13 tahun. Selain sebagai tempat nongkrong dengan pemandangan pantai, di momen-momen tertentu, juga digunakan sebagai arena hiburan bagi warga dengan menyelenggarakan konser atau pertunjukan musik. Tak heran, pemerintah setempat pun menjadikan tempat ini sebagai salah satu ikon paling fenomenal.

Lalu, apa yang saya cari di Manado?

Begini, ada satu ungkapan, yang isinya kurang lebih seperti ini, “Manado terkenal dengan 3B. Bubur Manado, Boulevard, dan Bunaken.” Kedua nama pertama dalam daftar tersebut sudah berhasil saya ‘amankan’. Tersisa Bunaken, yang akan menjadi target liburan impian saya kali ini.

Untuk menuju Bunaken, saya dan Dwi berangkat dari dermaga yang letaknya ada di dekat Pasar Bersehati. Tak tanggung-tanggung, begitu saya menanyakan berapa harga yang harus dikeluarkan, para pengemudi kapal di situ sepertinya sepakat untuk mematok harga tiga ratus ribu rupiah, per kepala. JEGLEK! Mahal amat. Kita hanya berdua saja, kok.

Rekan yang rumahnya kami tumpangi mengatakan, kita bisa ikut nebeng kapal yang mengangkut penumpang dan barang, dengan catatan, – ini pait banget – , tidak tentu kapan berangkatnya. LHAH!

Masih di area Pasar Bersehati, saya tak sengaja melihat ada speedboat yang menurunkan beberapa turis mancanegara di pinggir pantai, lumayan dekat dari situ. Kami berdua menghampiri. Salah satu kemampuan backpacker yang harus dipunyai adalah, sanggup menawar. Jika tadi dengan para motoris saya kalah nego harga, kali ini saya berhasil membujuk motoris dan awaknya untuk membawa saya ke Pulau Bunaken. Dengan bermodal lima puluh ribu rupiah per orang, akhirnya saya dan Dwi pun berangkat.

Di dalam speedboat, kami berkenalan dengan salah satu awaknya. Namanya Angga. Pemuda asal Kampong, Bunaken, yang kebetulan bekerja di salah satu resort. Waktu tempuh selama empat puluh lima menit perjalanan, kami gunakan untuk berbincang dengannya.

Blog Manado 2
Dua pasang kaki saya dan Dwi, dengan punggung Angga di depannya. Latar depan adalah pemandangan Manado pada waktu siang hari.

Hasilnya, ia bersedia untuk menginapkan kami di rumahnya selama dua malam. Dan meminjamkan motornya untuk kami gunakan berkeliling di Pulau Bunaken. YIHAAAA!!!

Kami berdua diturunkan di dermaga Kampong, bukan di dermaga resmi di Pantai Liang seperti turis pada umumnya. Setelah diantar menuju rumah Angga, tak menyia-nyiakan waktu untuk beristirahat, motor yang dipinjamkan Angga pun kami geber mengelilingi Pulau Bunaken. Yang kami bawa adalah peralatan snorkeling, kamera SLR, kamera underwater, dan uang secukupnya untuk membeli bensin, dan makanan jika waktu lapar tiba.

Pulau Bunaken terdiri dari lima kawasan dengan masing-masing pantai wisatanya. Yaitu Kampong, Alung Banua, Liang, Pangalisang, dan Tanjung Parigi. Di sepanjang jalanan tanah berbatu, juga tak beraspal, dengan lebar kira-kira dua meter, dan hanya bisa dilalui dengan jalan kaki atau motor, terlihat belasan resort dan cottage. Tentu saja semuanya menawarkan fasilitas mirip. Seperti free wi-fi, scuba diving open course, atau sunset view. Kami juga berpapasan dengan beberapa turis asing yang kebetulan jogging dan berjalan santai.

Tujuan pertama yang tak sengaja kami temukan adalah Pantai Alung Banua. Demi melihat pier yang sepi, dan pantai yang sedang surut, saya dan Dwi memarkir motor tak jauh dari situ, dan berjalan menuju ujung dermaga.

Blog Manado 9Eh, ternyata ada anak-anak yang berenang dan sebagiannya lagi mencari ikan dengan senapan tembak tradisonal. Junior spearo, guys! langsung teringat salah satu sahabat di Medan, yang gemar melakukan spearfishing. Ada dua perbedaan tertangkap di otak saya. Pertama, gear yang digunakan rekan saya yang mencapai jutaan. Dan yang kedua, adalah perbedaan usia diantara keduanya. #ngakak

Blog Manado 10

Blog Manado 8

Google, fin, kamera saku bawah air, dan tongsis sudah kami pasang. Dengan hati-hati untuk tidak menginjak karang, tak butuh lama untuk mencapai kedalaman. Sesampainya di bawah, inilah pemandangannya.

Blog Manado 14

Blog manado 6

Blog Manado 5

Hampir satu jam lebih puas berenang dan snorkeling, kami pun melanjutkan perjalanan ke arah selanjutnya. Jalannya cuma satu, alias lurus-lurus saja. Setelah melewati Pangalisang, dan Tanjung Parigi, matahari sudah hampir tenggelam. Tersisa satu pantai yang akan dikunjungi. Yaitu, Pantai Liang.

Menuju pantainya lumayan melelahkan. Setelah memarkir motor, para pengunjung harus melewati tanjakan agak curam untuk sampai ke pantainya. Ya itu tadi, karena kami tidak menggunakan jalur dermaga di Pantai Liang. Untungnya, harga tiket masuk sebesar 50 ribu rupiah, bisa dialokasikan untuk menyantap pisang goreng dengan cocolan sambal goreng.

Blog Manado 27
Yang sudah pernah ke Bunaken, pasti, otomatis, seharusnya, seyogyanya, berfoto di landmark ini. Done that, bro!

Tak sempat untuk mencicipi pantainya karena kelelahan, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil foto di sepanjang pantai di situ. Ada sebuah resort besar dengan pemandangan sunset view paling sempurna menurut saya. Di sini juga, tempat Angga bekerja. Setelah puas menikmati senja, dan membeli beberapa cinderamata, akhirnya kami kembali ke Kampong.

Malamnya, kami merencanakan untuk pergi ke Siladen.

Keinginan itu muncul karena ditawari oleh Angga dan kawan-kawan untuk ke sana besok pagi, sebelum bertolak ke Manado. Jelas sekali, tawaran ini kami iyakan.

Esok harinya, sembari menunggu kapal yang akan ke Pulau Siladen, kami sempatkan untuk mampir di Pantai Muka Kampong.

Blog Manado 11
Pemandangan dari Pantai Muka Kampong. Fresh!

Blog Manado 15Tuh kan, nggak bisa lihat pantai bersih dikit, maunya nyebur.

Blog Manado 16

Blog Manado 36

Blog Manado 37

Setelah puas menikmati indahnya laut yang berwarna-warni, dan tiga puluh menit perjalanan, akhirnya, tibalah di Pulau Siladen.

Pulau ini merupakan satu pulau yang luasnya sekitar 30-an hektar yang membentuk Taman Nasional Bunaken. Ditumbuhi palem, sagu, wilar, dan pohon sejuta pantai, kelapa. Saat kami datang, tidak banyak turis mancanegara di pulau tersebut. Bahkan di beberapa homestay, hanya nampak penduduk lokal di teras rumah mereka.

Blog Manado 3

Blog Manado 12

Blog Manado 21

Blog Manado 19
                          Toni, Angga, Dwi. Disingkat… T.A.D! Iyuuwh.

Jeti yang terdapat di pulau tersebut pun sepi. Hanya ada satu kapal, kapal kami, yang tertambat di situ. Betapa pulaunya seperti punya saya dan Dwi.

Oh tidak, ada si Angga yang ikut bersama kita.

Juga pengemudi kapal.

Juga para penduduk yang sempat kami lihat.

Juga salah satu bule yang kebetulan berambut gimbal, dan berpose bersama Dwi.

Oke, intinya, ungkapan lebay ‘pulau serasa milik saya dan Dwi’, boleh dihilangkan saja.

Angga mengingatkan, bahwa hari itu hari Minggu. Tak ada kapal yang akan membawa kami berdua kembali ke Kota Manado. Karena semua motoris biasanya libur pada hari Minggu. Hari untuk pergi beribadah di Gereja. Benar sekali, mayoritas penduduk di Kepulauan Bunaken, memeluk agama Kristen. Tak hilang akal, Angga menyarankan untuk menepikan kapal di ujung kota Manado. Tepatnya di Tongkaina.

Dari Tongkaina, perjalanan harus dilanjutkan lagi dengan menggunakan angkot unik, mirip oplet-nya si Doel, ke daerah Tomohon, sebelum tiba di pusat kota Manado.

Dari Manado, kami berdua berpisah dengan Angga.

Selanjutnya, setelah menginap di rumah rekan yang berada di Manado, saya mengemas pakaian dan perlengkapan. Esoknya saya harus kembali ke Samarinda.

The End.

Eh, nggak. Belum. Tunggu dulu…

Saya belum bercerita tentang bagaimana saya dan Dwi menikmati malam gonjrang gonjreng gitaran ndak jelas, bersama dengan pemuda lokal di pinggir dermaga Kampong, bukan?

Blog Manado 31
Hanya sempat memotret sekali saja. Dan hasilnya seperti ini. Hahaha!

Atau, karena gembiranya saya bertemu anjing kampung di Bunaken, saya bahkan seolah-olah mengajak mereka ngobrol. Bonusnya, pemandangan indah di depan itu tuh…

Blog Manado 32

Bahkan saya sendiri belum mengucapkan terima kasih atas salah satu kuliner baru yang sempat dicicipi, masakan Ibunya Angga.

Makanan di sebelah kanan, apa itu ya? Yang jelas enak.

Blog Manado 34

Eh, kita juga hampir terperosok dengan motor di rerumputan, gara-gara ada kawanan Babi yang tau-tau aja nongol dari jalan setapak. Apes.

Blog Manado 30
Sempet-sempetin moto temennya Porky Pig.

Saya juga bisa melakukan beberapa pose yoga dengan pemandangan luar biasa sebagai latar belakang.  Blog Manado 17

Blog Manado 13

Blog Manado 28

Saya pun harus menahan keinginan saya untuk menyelam lebih dalam, gara-gara luka ini. Nyut-nyutnya kerasa banget di air laut.

Blog Manado 35

Banyak ceritanya.

Namun apakah harus semuanya terekam, dan tertangkap kamera?

——————————————————–

Malam sebelum kepulangan saya ke Samarinda, masih dengan muka lecek, pakaian yang belum diganti, berikut carrier serta tenda yang belum sempat terpakai, saya dan Dwi menyempatkan untuk memasuki salah satu coffeeshop, Manado Town Square. Setelah memesan minuman, saya menunjukkan BPTV (Boarding Pass True Value) kepada Barista. Eng ing eng, diskon 20% berhasil saya dapatkan. Ini adalah contoh kecil dari banyaknya Promo Menarik yang hanya didapat dari Garuda Indonesia.

Setelah menyeruput kopi, saya pun mengawali pembicaraan, “Nyet, kok bisa-bisanya kita jalan bareng, yo?”. Dwi hanya tertawa.

Selanjutnya, kami menghabiskan waktu untuk mengobrol, menceritakan pengalaman indahnya Bunaken, rencana kepulangan kami esok hari, hingga pemberitahuan bahwa mall akan segera tutup.

Saya mungkin tak bisa merengkuh Destinasi Impian ke Banjarmasin, seperti yang saya inginkan sebelumnya. Namun tak juga itu membuat saya kecewa. Mengapa?

Ada kalanya banyak cerita terselip dan menarik, justru ketika rencana tak sejalan dengan apa yang kita rencanakan, atau harapkan. Dan cerita tersebut, hampir tak bisa tertangkap atau terekam dengan gawai. Bunaken dan Siladen adalah bagian kecil yang digalakkan pemerintah setempat untuk dijadikan pariwisata kelas dunia.

Hei, saya sudah pernah ke sana.

Setahun lalu, kota Manado lumpuh diterjang banjir bandang. Menelan korban, iya. Merugikan sendi ekonomi, iya. Bencana yang sama sekali tidak diduga oleh warga di sana. Namun, itu tak menyurutkan wisatawan asing ataupun domestik untuk menikmati seluruh aspek wisatanya. Misi untuk menjadikan Manado sebagai kota yang menyenangkan, tampaknya bukan menjadi misi yang terkubur mimpi.

Saya dan Dwi menikmati angkot yang kami tumpangi, karena warga Manado membiasakan diri menggunakan transportasi umum untuk bepergian kemana-mana. Saya membayangkan, kota yang saya tinggali sekarang, bisa menerapkan budaya yang sama.

Perjalanan kali ini begitu istimewa, diantara puluhan perjalanan saya yang lainnya. Saya berkesempatan untuk menikmati keindahan alam bawah air di salah satu tempat eksotis di dunia, menemukan jajanan kuliner seperti tiada habisnya, berjalan hampir satu jam dengan carrier menempel di punggung menuju pangkalan angkot, tertawa terbahak-bahak karena travelmate yang ngebodor-nya garing minta ampun.

Namun yang paling mengesankan, saya mengalaminya dengan satu sahabat yang mau diutangin untuk menyamakan tujuan, minim keluhan, dan tak bermasalah ketika tersesat di jalan. Ini yang sulit dicari.

Blog Manado 4
Jalannya masih panjang, bro. Coba kamu berentiin angkotnya dengan telentang di tengah jalan.

Setibanya saya di Balikpapan, hujan merintik. Dari jendela pesawat, saya tak sabar mencium aroma petrichor yang menyambut. Perjalanan kali ini ditutup dengan indah.

Dari Balik Jendela
Dari Balik Jendela Pesawat

Memorable Experience just came with two words, nothing but…

Garuda Indonesia.

T   H   E

E   N   D

* : Gara-gara Garuda Indonesia, Berkeliling Menyusuri Bunaken Dengan Sahabat Baik.

 ** : Manusia hidup untuk menghidupi / mendidik / menjadi, berkat bagi orang lain

Video : https://youtu.be/NpKZhlC447k

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s