Day 12 – Males

Males.

Males.

Males.

Makanya, saya reblog tulisan saya dari blog sebelah (masih punya saya juga), tentang Kepulauan Balabalagan.

Jadi, ini ceritanya.

PERJALANAN KE BALABALAGAN

Karena belum puas ketika pertama kali mengunjungi Kepulauan Balabalagan pada Oktober tahun lalu, saya mengiyakan ajakan teman, Mas David, untuk menyusuri (lagi) kepulauan yang berada di tengah-tengah provinsi Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat ini.

Persiapannya pun tidak seheboh ketika pergi pertama kali. Karena menurut itinerary, kita akan menginap di dua rumah warga di Pulau Popoongan, yang belakangan baru saya ketahui, salah satu pemiliknya adalah calon kuat untuk menjadi kepala dusun yang baru. jadi, peralatan sepeeti kemah, kompor portable, tidak saya masukkan ke dalam list barang yang harus dibawa. Karena merepotkan.

Perjalanan dimulai dari Balikpapan menjelang tengah malam, dengan menggunakan kapal kayu bermesin dalam. Mengapa hatus kapal kayu? Pertama, itu merupakan moda transportasi paling hemat energi. Kedua, pulau-pulau kecil di sana akan lebih mudah dijangkau dengan menggunakan kapal kayu. Terakhir, kecuali jika anda bisa menyewa atau memiliki pesawat amfibi, lebih baik tutup mulut saja. Right.

Begitu sauh diangkat, bunyi mesin kapal pun menderu, dan kapal segera menjauh dari dermaga kayu. Pemandangan langit kota, berubah perlahan menjadi langit gelap yang ditaburi miliaran bintang membentuk ratusan rasi di atas laut Selat Makassar.

Ditemani suara mesin yang berbunyi pelan, hening malam nyaris sempurna. Sempatkanlah untuk melihat belasan meteor yang terbakar berkali-kali di lapisan kulit bumi. Itu adalah bintang jatuh.

To be honest, saya memilih Balabalagan sebagai pilihan tempat untuk menepi dari kebisingan khas kota. Dan sarana berkontemplasi, saat kuota usia saya tepat berkurang satu tahun (I’m April, 4 btw). Jangan harap menemukan bar sinyal muncul di layar ponsel begitu kapal mulai menjauh. Itu adalah tujuan saya. Betapa tidak menyenangkan jika liburan harus diinterupsi dengan deringan pesan atau telpon masuk. Apalagi masalah pekerjaan.

Menemukan informasi tentang kepulauan ini, sebenarnya mudah. Cukup mengetik beberapa kata ampuh di mesin pencari di internet, tampak terbuka gambar-gambar nan indah. Pemandangan pulau-pulau yang mayoritasnya belum berpenghuni sepertinya adalah pilihan untuk mereka yang mengejar selfie tingkat hardcore. Atau seperti saya, penikmat keheningan di tempat tiada akses internet.

Saya sempat mengobrol dengan beberapa anak muda seusia saya sewaktu di Pulau Popoongan. (((SEUSIA SAYA)))
Dari situ saya tahu, ada beberapa pulau yang-seharusnya-bisa saya singgahi kali lain. Seperti Salisingan, Saboyang, Sabakatang, Samataha, Seloan, Labia, Malambir, Ambo, Tapilagan, dan Gusdur. Bahkan menurut mereka, ada Pulau Lamudaan, di situ keindahan terumbu karangnya menjadi favorit turis mancanegara.

Dengan jadwal liburan yang hanya dua hari, rasanya mustahil untuk menjejakkan kaki di pulau-pulau yang mereka sebutkan. Maka, mengikuti rute yang sudah ditentukan Mas Doni, dan Mas Putu, juragan Open Trip ke Balabalagan, kita akan mengunjungi dua pulau tak berpenghuni, yaitu Sumanga, dan Lalungan. Dan beberapa spot terumbu karang yang oke punya.

(Salah satu spot terumbu karang di kedalaman kurang dari tiga meter. Gambar diambil oleh Mas Doni)

As the following picture above, I’d like to tell ya sumthin…

Perempuan yang memeakai wetsuit adalah Ike. Saya kaget sewaktu mendapati dia akan ke Balabalagan dengan menggunakan koper unyu gonjreng segede gojila. Apakah dia nggak tahu, kalau kita kan enggunakan kapal kayu? Hellaaaw! Eh, ternyata dia akan meneruskan perjalanannya ke Bali setelah dari Balabalagan. Hehehe.

Kedua, lihat perempuan dengan kerudung jingga? Dia adalah Mbak Ana. Saya dengan senang hati akan menjadi sponsornya jika ada pemilihan Duta Indomaret. Secara obrolah yang dia lontarkan setiap setengah jam adalah, sapaan khas, sistem kerja, SOP, dan lain sebagainya tentang minimarket tersebut. Mentang-mentang bekerja di situ. Curiga, jika saya bertemu dengan dia di trip selanjutnya, dia akan memberikan kuliah umum bagaimana caranya bekerja di Indomaret. Padahaaaaal, dia baru dua minggu bekerja! *jawdrop*

Ada juga Mbak Olvy, yang menggunakan kacamata hitam. Kita fokuskan ke kacamatanya saja. Bukan ke area yang lain, apalagi badannya. Jangan. Dia sering bikin iri dengan catatan perjalanannya yang sudah kemana-mana. Etapi tidak juga sih, secara dia pergi kan abidin, alias atas biaya dinas #evillaugh. Dan, pasti masalah pekerjaan. Bukan holidei kayak kite-kite.

Terus ada tiga serangkai Rere (kerudung merah), Dita (kerudung biru), dan Helen (berdiri), yang sudah kelihatan ramenya sewaktu satu mobil berangkat dari Samarinda menuju Balikpapan. Mereka sepertinya punya bahan obrolan apa saja. Mulai dari punya atasan yang gaptek, menonton konser SuJu, hingga gosip standar yang membuat saya menyunggingkan senyum beberapa kali.

Mas Ajiboy, Mas Fauzy, Tio, dan Paijo eh, Andre, adalah sekian dari 45 peserta trip ini yang baru saya kenal. Tapi lihatlah, kita bisa melakukan keseruan dengan cara kita masing-masing.

—————————————————————————————————-

Terlepas dari masalah wilayah ini yang pernah disengketakan oleh pemerintah provinsi Sulawesi Barat dan Kalimantan Timur, saya rasa ini adalah alternatif paling baik untuk melakukan aktifitas di seputaran pantai seperti snorkeling ataupun diving selain di Kepulauan Derawan.

Keindahan wisata dan keramahtamahan masyarakat Pulau Popoongan membuat saya seperti terlempar belasan tahun ke belakang. Saat kesopanan dan tata krama belum dilindas oleh kekurangajaran dengan tameng globalisasi apalah-apalah.

Saya menyebut Kepulauan Balabalagan sebagai salah satu pecahan kecil surga di Nusantara.
Terlalu berlebihan menyebut surga? Belum tentu. Semuanya soal selera.
Jika anda kebetulan adalah tipe pejalan seperti saya. Mungkin kita mempunyai definisi surga yang sama.

Memang, masih banyak surga-surga pantai lain dengan keindahannya yang luar biasa, spektakuler, dan lebih menggoda. Entah dengan akses mudah, bisa upload foto secara real time, maupun derasnya informasi dan promosi dari pihak pariwisatanya.

Tapi , apakah kita hanya terpaku dengan keelokan Pantai di Raja Ampat, Wakatobi, Bunaken, Morotai, Ora, atau Derawan? Sementara negara kita mempunyai belasan ribu pulau.

Jika anda tidak setuju dengan pernyataan saya di atas. Saya mengajak anda untuk memulainya dari Balabalagan.

Salam Ukur Jalan.

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s