Day 5 : Keep It Unlock – Labuan Cermin, Biduk-Biduk, Berau

Apa yang ada di benak kalian, jika saya menyuguhkan gambar seperti ini?

Caught the sun at dawn.
Caught the sun at dawn. Priceless

Menarik, atau, biasa saja?

Beruntunglah buat yang menjawab biasa saja. Berarti kalian termasuk orang yang sering jalan-jalan, dan tidak terlampau terpukau dengan pemandangan seperti ini. Untuk yang menjawab menarik, tidak usah berkecil hati. Ini masih di Indonesia, saya mendapat gambar ini atas bantuan Oom Rudi Ramli di sekitar homestay yang kami inapi (rame-rame, bukan berdua doang) selama di dua hari Biduk-Biduk, Kalimantan Timur.

Dengan berbekal gambar seperti ini, saya bisa saja mengaku mendapatkannya di pelosok Lombok, Pulau Weh, Karimunjawa, atau Wakatobi. Toh, tidak ada landmark yang mengatakan saya telah berada di suatu tempat. Hanya ada bayangan saya (guess who?), hammock yang terbentang (di antara dua pohon kelapa), dengan latar belakang matahari yang menjelagai cakrawala dengan semburat jingga. Serta awan yang mendominasi.

Next, bagaimana dengan yang satu ini?

We're Jumping
Ishom, Wina, Rere, Nanda, dan Malaikat

Ini adalah kebetulan yang terarah. Directly coincidence. Gaya sejuta umat. Melakukan levitasi berkali-kali dengan harapan ada satu momen yang sempat untuk dijepret melalui lensa kamera. Tidak di pantai, tidak di taman, tidak di pegunungan, tidak di depan gedung, atau di landasan helipad lantai di ketinggian 400 meter, sebagian besar ‘pejalan’ pasti pernah melakukannya. Yang membedakan hanyalah waktu dan tempat pengambilan. Bonusnya, seperti gambar di atas. Semuanya dalam keadaan prima. Lokasinya di pier Teluk Sulaiman. Tenang, ini masih di Berau.

Ehm,

No pic, hoek.
No pic, hoek. Hwueeeeeeek!

Waaaah, touchdown.

Iya. Saya sudah sampai ke sini. Tujuan utama saya memang ke Danau Dua Rasa. Karena inilah yang membuat saya harus meluangkan dan merelakan waktu selama tiga hari demi sebuah fenomena alam. Saya bangga. Pertama, karena tidak semua tempat di Indonesia, bahkan dunia, mempunyai keistimewaan yang sering disebut oleh para ilmuwan sebagai, Halocline. Kedua, tempatnya berada di propinsi Kalimantan Timur, provinsi yang saya tinggali sekarang. Ditempuh selama delapan belas jam – normalnya – dengan menggunakan mobil dari Samarinda, atau kurang dari delapan jam jika menggunakan transportasi udara dari Balikpapan.

Labuan Cermin
Did you ever thought that Mosasaurus lived here? Nope. JK.

Danaunya biasa saja kok. Tidak lebih bagus dari Pantai Cermin yang bernama Hall Sulamadaha, di Maluku Utara. Hijaunya juga belum bisa mengalahkan gradasi warna di perairan distrik Misool, Raja Ampat. Tapi pertemuan air dua rasa-lah, yang membuat saya bersama dengan beberapa teman, mengunjunginya. Membunuh penasaran, dan mencoba pengalaman.

Wina.
Eh, ada Wina. Pic taken by : Ishom

Airnya dingin. Itu kesan pertama yang saya dapat ketika mencelupkan badan di danau ini. Dasar danau di beberapa spot pun bisa terlihat dengan mata telanjang. Saya sih maunya, menggunakan peralatan diving lengkap dan iseng membuka mulut di kedalaman tertentu dan ingin mencicipi air asinnya. Take it as positive option, saya harus mengunjunginya lagi, no?

Sesuai dengan yang saya singgung di atas, ini adalah danau tempat bertemunya air asin dan air tawar. Meskipun tidak setenar Cenote Angelita yang sempat menghebohkan  netizen dua tahun lalu. At least, negara kita mempunyai satu tempat menakjubkan di antara tujuh belas ribuan pulau yang dimilikinya. Wisata kami tidak berhenti sampai di situ saja. Masih ada Pulau Kaniungan, Teluk Sumbang, mencicipi kuliner Mie Bubur, dan pelbagai hal menarik lainnya.

Kalian menyangka saya dan teman-teman sedang mengeksplor? Menjelajahi? Berpetualang? Sama sekali tidak. Buat saya itu terlalu berlebihan. Kami murni turis. Wong apa-apa semuanya disedian kok. Mulai dari mobil yang disewa, homestay, kita menggunakan sistem share cost. Aksesnya juga dimudahkan. Tidak perlu meminta izin dan mendapatkan stempel dari dinas terkait. Atau harus menunggu sekian bulan untuk sampai ke sana. Cukup sediakan dana yang tidak mencapai satu juta, jika dari Samarinda. Itu pun masih ada angsul*.

Lantas, jika ada yang bertanya, apa maksud saya menyodorkan gambar-gambar seperti ini? Mau pamer? Mungkin. Tidak semua orang mendapat kesempatan ke sini. Bener, kan? Iyakan saja. Saya traveler pemula, bukan pencari filosofi macam-macam seperti Santo Augustine. Terus, kalau kita mengunggah pemandangan sebuah tempat wisata, nantinya kan banyak orang datang ke sana. Nantinya kan, banyak yang nyampah di sana. Nantinya kan, banyak yang merusak. Nantinya kan, tempat wisatanya jadi nggak cantik lagi, bukan hidden paradise lagi.

Halah… halah… Makan tuh nantinya-nantinya. I’d be like, “So, What?”

Saya mau mengatakan, bahwa negara kita, Indonesia, memiliki banyak tempat yang indah, eksotis, menakjubkan, membahana, memesona, secuil surga, dan ungkapan hiperbola lainnya. Dan ini baru sepetak kecil saja di belahan tengah negara yang terkenal dengan ke-bhineka-annya. Lantas, apa masalahnya? Selagi masih sanggup menegur teman seperjalanan untuk tidak membuang sampah sembarangan, melarang mereka untuk membawa bintang laut untuk dibawa pulang, berbuat vandalisme, atau berpose di luar batas kewajaran, buat saya itu sudah cukup. Kalian juga bisa melakukan hal yang sama.

Banyak pencopetan di area Menara Eiffel, juga di Pasar Tanah Abang. Banyak pelecehan seksual yang terjadi di jalanan ibukota India, Saudi Arabia, atau di bus Transjakarta. Sampah menumpuk di Ranu Kumbolo, Pulau Sempu, atau Pulau Derawan. Tapi apakah kita harus menyalahkan seluruh pengunjungnya? Memusnahkan mereka? Atau, paling anyar, menyudutkan para travel writer karena mengekspos tempat wisata. Pekerjaan paling gampang itu memang mencari-cari kesalahan orang lain. Apalagi di negeri Gemah Ripah Loh Jinawi ini. Padahal, it’s about state of mind.

Kalau memang pada dasarnya seseorang adalah pribadi yang suka buang sampah sembarangan, senang jika nama-nama pacar atau gengnya terukir di situs sejarah, gemar mengambil sebagian juga utuh hewan/biota laut yang dilindungi, menuliskan nama pacar/teman di sebuah kertas di tempat indah kemudian dibiarkan berserakan demi sebuah foto, ya mau gimana lagi?

Bisa, gitu, menceramahi mereka, dengan keseimbangan ekosistem alam? Menasehati mereka agar bisa membedakan kategori hewan yang dilindungi satu per satu? Atau memerintahkan mereka satu per satu untuk memungut seluruh sampah di sepanjang jalur pendakian gunung? Hehehe. Hehehe.

Kerusakan yang terjadi adalah tanggung jawab kita semua. Bukan sepenuhnya tanggung jawab petugas kebersihan, pemerintah, penikmat wisata, atau penulis perjalanan. Dan semua bermuara kepada salah satu jawaban yang saya benci, “Kembali pada individu masing-masing. Tergantung“.

Tempat wisata itu untuk dinikmati semua orang. Tidak perlu egois untuk menyimpan keindahan Indonesia untuk diri sendiri. Ngapain pelit dengan benda yang bukan miliknya? Tidak perlu ditutup, atau dilarang-larang. Just, keep it unlock. Buka saja aksesnya. Kemudian piliah dan pilih, jika ada satwa yang dilindungi, situs berharga, daerah berbahaya, ya landasi dengan hukum. Baik hukum negara atau hukum adat.

Kalau punya teman, saudara, atau pacar yang hobinya bikin rusuh di tempat wisata? Gampang, nggak usah diajak lagi. Atau kamu sendiri yang suka bikin rusuh? Punah aja deh. Betapa beruntungnya, kemarin travelmate satu mobil adalah orang tidak suka membuang sampah sembarangan, berenang pun seadanya, tidak melakukan akrobat gila-gilaan, dan jauh dari kebosanan. Kecuali, saat kita terbanting-banting di dalam mobil, menunggu kapan kita menemui jalan beraspal.

Bayangan saya ke depannya. Entah kapan, jika seseorang mengunggah sebuah tempat wisata aduhai di media sosial, kemudian sebagian besar mengomentari : “Been there, done that!” *wink*

Tidak lupa terima kasih untuk Rudi Ramli, atas foto-fotonya. Beliau ada di gambar di bawah ini. Bersama mereka juga, saya juga menyaksikan ikan hiu kepala martil dan jenis thrasher yang diasinkan dan dijual bebas di sebuah desa. Saya simpan ceritanya untuk nanti. Have fun!

Friends
Hayo tebak, mana Rudi Ramli?

Regards,

The Sanguine Tripper

Ket:

* : Kembalian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s