Day 3 : Fokus

Ada yang bilang, jika kita kehilangan dengan sesuatu hal, niscaya sesuatu hal yang hilang itu akan diganti oleh semesta, dengan hal yang sama, bahkan lebih bagus. Saya sendiri sih, cukup mengaminkan aja. Aamiin. Dengan penarikan yang panjang. AAAAAAMIIIIIIN…!

Pagi dimulai seperti biasa (kesiangan. Kan puasa), sampai ada notifikasi dari grup WhatsApp, kalau saya punya janji untuk mengantarkan salah satu rekan backpacker dari Banjarmasin untuk berkeliling di Samarinda. Karena saya baru punya waktu yang longgar sore hari, agendanya cukup mewakili. Yaitu berburu makanan berbuka di sekitaran Tepian Mahakam, melakukan sholat Isya plus Tarawih di Masjid Baitul Mutaqien atau lebih dikenal dengan Islamic Center, dan diakhiri dengan salah satu kafe yang berada di puncak Samarinda.

Setelah selesai berbuka, dan menyelesaikan sholat Isya, saya bersama sang teman, berniat melepas lelah sementara di pelataran Masjid. Iseng, saya ingin mencoba untuk memosting keberadaan saya di medsos. Setelah beberapa lama saya mengaduk dan mengeluarkan isi tas, ternyata ponsel yang saya cari belum juga ditemukan. Pikiran saya mendadak kosong tidak karuan. Mendadak saya ingin mngeluarkan seluruh makanan berbuka tadi, tapi urung. Perasaan seperti ini bukan hanya sekali saja terjadi. Gejala ini muncul kalau sesuatu barang kepunyaan saya lenyap.

PONSEL SAYA HILANG.

!@$*)*^$@!$^*&%##^&$#@@!!!

Ingin saya berteriak sekejer-kejernya, menangis, meraung. Tapi nggak jadi. Ini masjid, bukan area pemakaman,

Dua menit kemudian, dengan langkah gontai, saya kembali ke tempat berbuka puasa setengah jam yang lalu. Kesana kemari mencari alamat menanyakan keberadaan ponsel saya ke beberapa penjual yang ada di situ. Jawaban yang saya dapat beragam. Menanyakan apa bentuknya, mereknya, ucapan kasihan, dan peringatan untuk lebih berhati-hati. Aelah, dalam keadaan kayak gitu sepertinya yang kita butuhkan adalah dibantuin buat nyari, atau do something better lah. Kalau cuma nasehat doang mah, makhluk alien juga bisa. Hey, emang saya siapa? Mereka juga lebih mentingin untuk jualan, jendral!

Cerita saya hentikan sampai di sini. Sebelum drama saya semakin menjadi-jadi.

Sekarang. Saya sudah tersenyum. Saya bukan tersenyum bukan karena ada bayangan, bahwa ponsel saya akan diganti dengan yang baru. Bukan. Saya tersenyum untuk satu hal yang selama ini saya sering abaikan. Yaitu, Fokus.

Janji saya untuk : menyelesaikan tulisan lebih cepat, membuat artikel tak terlalu larut, menyusun daftar administrasi rancangan program belajar, membuat sequence dan flow yoga, hingga konsisten membuat blog, kembali hancur karena distraksi yang tak penting. Saya menjadi orang yang tidak bisa memusatkan perhatian kepada satu hal yang saya kerjakan. Dan sebagian besar datang dari media sosial dan pesan instan. Semuanya bermuara kepada satu benda. Ponsel pintar. Smartphone.

Seringkali kegiatan yang mengharuskan untuk bisa fokus bisa kalah telak dengan lamanya tatapan saya pada layar ponsel. Sebenarnya, benda itu sangat membantu apabila saya kesulitan untuk mencari informasi, lokasi,  dan menyelesaikan beberapa tugas. Tapi bila dibandingkan dengan banyaknya saya menanggapi suara “trang tring kedap kedip trang tring”, tentu jumlah manfaat tadi akan kalah jauh dengan mudharat.

Keinginan saya nggak terlampau menjulang. Saya hanya butuh kefokusan saya laiknya seorang koki yang menguliti dan memasak Tetraodontidae. Hewan yang umumnya dipercayai kebanyakan orang sebagai hewan bertulang belakang paling beracun nomer dua di sunia, setelah Katak Racun Emas. Pernah menonton di National Geographic channel, untuk bisa memasak hewan ini, seorang koki harus mempunyai sertifikat khusus. Karena di hampir setiap bagian tubuhnya mengandung unsur mematikan. Namanya sering kita sebut sebagi Ikan Fugu. Atau Ikan Buntal.

Sekarang, pilihan kembali ke saya lagi. Apakah mengganti ponsel dengan spesifikasi canggih dan multitasking, atau tetap menggunakan ponsel lama yang internetnya bisa berjalan hanya dengan bantuan wi-fi, namun bisa mengajak saya tidak secara langsung untuk bisa memusatkan perhatian, atau fokus? Seandainya saya memilih fokus, tentu saya akan banyak, sangat banyak malah, ketinggalan informasi ter-update. Namun, rasa-rasanya, akan terlihat lebih bodoh lagi, jika saya bersikeras untuk memaksakan kehendak untuk memiliki ponsel yang baru. Dan itu justru, saya menjadi tidak produktif.

Nah, boleh kita kembali ke kalimat pembuka di atas. Silakan di-scroll lagi.

Saya percaya saja. Hari ini saya mungkin kehilangan benda ajaib dengan kemampuan primer mengirimkan pesan dan menelpon. Di lain sisi, saya menemukan suatu hal yang jauh lebih berharga.

Namanya, waktu.

Regards,

Time

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s