Day 2 : Petrichor

Hujan mengacaukan segalanya.

Konspirasi alam terjadi hari ini untuk mereka yang sengaja menurunkan level produktifitasnya di bulan Ramadhan (atau mungkin di hari dan bulan yang lain). Begitu menyelesaikan sahur yang sengaja saya nikmati lebih awal dua jam sebelum Imsak, gangguan terbesar ialah menahan kantuk yang mulai menggila. Liukan adzan dari Masjid terdekat pun tak sanggup membuka mata barang sekejap. Ditambah, bunyi hujan menderu dan menderas, semakin menghanyutkan diri untuk membenamkan tubuh ke dalam selimut. Sekali lagi, saya terbangun menjelang pukul sebelas siang. Setan.

Terburu-buru ketika mandi, terburu-buru menyiapkan baju koko dan sarung, terburu-buru menuju mesjid, untungnya tidak terburu-buru melakukan sholat. Saya masih sempat mendengarkan khutbah sholat Jum’at tentang – sebentar – sesuatu yang diurutkan. Seperti clickbait. Kemudian terburu-buru mengetik di netbook, terburu-buru mengirimkan artikel hari ini, terburu-buru ketika mengingat ada janji yang lain, sorenya agak sedikit terburu-buru menyiapkan diri untuk berbuka puasa bersama dengan seorang kawan. Anehnya, ketika dalam keadaan terburu-buru, saya tak lupa untuk mengeposkan barang satu atau dua hal di Path.

Pencitraan yang saya lakukan hari ini adalah bersikap seperti semua biasa saja. Sebenarnya sih iya, biasa saja. Karena waktu liburan, otomatis pekerjaan saya juga jauh berkurang. Studio yoga meniadakan kelas malam, kegiatan di Paket B pun diundur hingga bulan September. Waktu luang saya pun masih seputar kegiatan tulis menulis. Ketik mengetik. Sementara itu, negara api tawaran untuk magang pun amblas, ketika  saya bepergian ke Jogja seminggu lalu. Undangan dari Dinas Pariwisata pun terlewatkan. Yaelah, keadaan seperti ini membuat saya terlihat seperti kutubusuk tengil yang songong. Hujan mulai berkurang curahnya ketika sore.

Seperti biasa, Jum’at malam adalah waktu berkumpul para writers di undas.co, situs tempat saya bernaung. Dan hari ini, kita sepakat mengambil tempat di Kopikumana, sebuah kedai kopi. Sebelumnya, rencana untuk berbuka puasa dan membeli cheesecake dari seorang teman, terpaksa batal karena beberapa hal. Tak hilang akal, rencana pun berubah untuk menikmati kue cubit bertopping macam-macam di Angkringan Mas Juns. Sekaligus menikmati paket murah meriah promo bulan puasa, nasi ayam kremes + es teh manis + sepiring takjil seharga 25 ribu. Mulai random? Iya. Hujan benar-benar berhenti saat itu.

Tepat jam sembilan malam, Undas’s writers berkumpul. Wait, ternyata ada seseorang bernama Christina Lois yang harus saya wawancarai demi artikel Selasa depan. Baiklah, berbekal ingatan yang kuat, kopi yang diracik dan dibuat sendiri, saya mulai menggali obrolan dengannya. Gadis yang menarik. Menarik untuk dilihat dan menarik untuk diajak bertukar nomer hape pikiran. Baca saja artikelnya.

Hujan kembali menggerimis.

Saya baru teringat, proyek menulis pribadi saya belum terselesaikan. Tulisan ini. Padahal tadi sewaktu keluar rumah sore hari, netbook sudah dimasukkan ke dalam tas, berikut chargeran dan kawan-kawan. Tetapi mengapa saya belum menulis juga? Apakah karena acara untuk berbuka puasa di rumah teman tadi mendadak batal? Apakah karena saya terlalu asyik mengobrol bareng? Atau karena waktu yang saya miliki kurang? Tidak juga. Kuota waktu yang diberikan tiap orang sama. Saya runut dari belakang, ternyata ada yang harus saya salahkan.

Hujan.

********

Dua tahun lalu, saya berkenalan dengan Petrichor. Satu istilah keren di samping istilah berawalan P yang lain. Sejajar dengan Pareidolia, dan Palyndrom. Artinya sendiri lebih kurang adalah aroma tanah yang basah oleh air hujan. Pernah, bukan? Kita sempat atau bahkan tergila-gila dengan aroma setelah hujan itu? Banyak dari kita yang tahu rasanya, tapi tidak tahu namanya. Sekarang saya kenalkan, namanya adalah Petrichor. Namanya tidak terpisah oleh hujan. 

Kata ini adalah gabungan dari dua kata bahasa Yunani, petros yang berarti batu, dan ichor, cairan yang mengalir di pembuluh para dewa dalam mitologi Yunani. Petrichor didefinisikan sebagai “bau mencolok yang mengiringi hujan pertama setelah kekeringan panjang”.

Istilah ini dicetuskan tahun 1964 oleh dua peneliti Australia, I. J. Bear dan R. G. Thomas, untuk artikel jurnal Nature. Dalam artikelnya, mereka menjelaskan bahwa bau tersebut berasal dari minyak yang dikeluarkan oleh tumbuhan tertentu saat cuaca kering. Minyak tersebut diserap oleh tanah dan batuan yang terbentuk dari tanah liat. Ketika hujan turun, minyak tersebut dilepaskan ke udara bersama senyawa lain bernama geosmin…

RIBET! KLIK AJA DI WIKIPEDIA GIH!

Saat petrichor bertemu dengan saya, terciptalah karya maha besar. Mbangkong sejadi-jadinya di tempat tidur, atau mulai menyetel lagu-lagu semacam Enya, Adiemus, Gregorian, atau The Piano Guys, sambil bergaya seolah-olah saya adalah model video klip. Mengambil pose standar, di deket jendela sembari merenung, dan menempelkan telapak tangan, lalu menghitung bulir hujan. Pathetic.

Dan itu pulalah yang membuat saya harus mengejar tulisan hari kedua dengan sengebut-ngebutnya tengah malam ini. Hujan membuat saya harus mengulur waktu. Waktu jualah yang membuat saya harus meminta kepada Tuhan agar saya diberikan akses unlimited beraktifitas (ya think?). Dan terakhir, petrichor yang menghipnotis saya agar lebih lama mengundur tugas yang harus diselesaikan secepatnya.

Sebelum hujan dan turunannya mengguyur kota Samarinda pukul dua dinihari ini, saya mengeposkan tulisan ini.

Regards,

Procrastinate ft Denial 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s