Day 1 : Bersih-Bersih

Ini adalah hari pertama proyek menulis saya yang diberi nama #30HariTanpaPencitraan, dan waktu saya menulis mulai pukul setengah empat sore. Shoot!

Rencana awalnya, setiap postingan akan selalu saya publish di pagi hari setelah sahur. Karena di waktu-waktu tersebut, menurut situs yang pernah saya baca adalah waktu prima otak untuk bekerja. Namun entah kenapa, pagi tadi saya melewatkan Subuh dengan terhempas di karpet ruang tamu, akibat kelelahan yang luar biasa. Lelah makan sahur.

Terbangun pada pukul sebelas. Mengecek berita di smartphone. Ada beberapa postingan meme lucu di Path. Ada berita menarik seputar kemenangan wakil Indonesia di ajang Asia’s Next Top Model di Twitter. Ada teman yang menjual cheesecake di Facebook. Pembicaraan masih seputar puasa di beberapa grup WhatsApp. Ada beberapa pose yoga yang terlihat mudah dan bisa diikuti di gambar Instagram. Sementara BBM masih belum pulih dari gangguan tiga hari yang lalu. Email yang saya tunggu belum masuk, selain penawaran dari beberapa maskapai penerbangan, yang entah kapan punya kesempatan untuk menggunakannya. Dan terakhir, saya membuka aplikasi LINE.

Pelan-pelan. Apalagi dari grup bernama undas.co

Membuka aplikasi asal Jepang, yang dirilis empat tahun lalu ini, buat saya bisa menimbulkan multi dampak. Macam-macam. Mulai dari tersenyum melihat kekonyolan obrolan, terkaget karena ada jenis high level gossip, bahasa atau istilah asing buat saya yang memang termasuk ‘orang kebanyakan’, dan yang lumayan menyebalkan, disindir oleh Editor in Chief. Apalagi kalau bukan artikel yang telat dikirimkan.

Sebentar saya lanjutkan. Adzan Ashar memanggil.

—————————————————————————————————

Oke, sampai di mana saya tadi? Grup di LINE. Iya.

Hingga sore ini, denting bunyi pemberitahuan dari aplikasi tersebut masih bertubi-tubi. Kasihan sekali smartphone saya yang tidak seberapa. Jika akhirnya seperti ini, mau tidak mau, saya harus memutuskan, aplikasi mana yang akan saya pertahankan, atau dibuang. Saya harus bisa memilih. Meskipun tindakannya tidak semudah sebuah ucapan. Tapi satu, dan itu pasti, dalam jangka waktu bukan sekarang, LINE masih harus tetap ada.

Untuk hari ini, saya memilih foto sepatu kanvas yang entah keberapa, dan harus dibuang karena sudah bulukan. Diabadikan pada bulan Agustus 2013.

Koleksi sepatu saya tidak sebanyak Mariah Carey, Celine Dion, atau Imelda Marcos. Koleksi sepatu saya hanya mencakup untuk kebutuhan kerja, rekreasi, dan olahraga. Tapi karena itulah, alas kaki saya hanya beberapa pasang. Karena bagi saya, mencari sepatu dengan pas sesuai hati dan harga itu butuh seni dan ketrampilan khusus. Sekali menyukai satu jenis, misalkan berbahan kanvas, tentu akan saya pakai selama mungkin.

Pernah bekerja di Department Store, di tempat semua karyawannya diharuskan memakai sepatu dengan heel. Baik pria waupun wanita. Saya sendiri menggunakan sepatu dengan bagian tumit ditinggikan tiga sentimeter. Sejam pertama kelebihan yang saya rasakan adalah perasaan bertambah tinggi secara instan. Tetapi di jam berikutnya, urat di betis mendadak ngeringkel dan kecetit. Alamak. Beruntung, di tempat saya bekerja sekarang, malah saya dibebaskan dengan Converse idaman pemberian kakak. Betapa indah bekerja dengan aturan pakaian “bebas tapi sopan”.

Eiya, saya masih bingung, aplikasi mana yang harus saya buang? Saya harus mulai belajar bersih-bersih loh.

Membersihkan aplikasi ponsel yang memberatkan. Membersihkan hati dengan tidak membalas percakapan menganggu. Selalu membersihkan cache, jika tidak ingin menggunakan incognito window, apalagi kalau ingin berburu tiket promo. Membersihkan karpet berbulu di ruang tamu. Membersihkan daftar teman di media sosial. Membersihkan lemari pakaian yang saat rapinya masih minim dibanding berantakan. Membersihkan pikiran dari makanan-makanan stiker LINE (Efeknya kok bisa menggoda gitu, ya?)

Setelah membersihkan, kemudian merapikan.

Saya sendiri mengetik tulisan ini, sembari merapikan buku-buku yang sudah dan nantinya akan saya baca.

Kesimpulannya, so far, saya masih menikmati waktu dengan aplikasi LINE. Dan sekarang, saya harus berhenti, karena sudah memasuki wilayah waktu disuruh-suruh ke supermarket membeli bahan-bahan berbuka puasa, oleh kakak tercinta. Sekian.

Regards,

Consistency

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s