TUPPERWARE ILANG, GAK BOLEH PULANG!!!

Alkisah, ada seorang tukang jalan yang akan pergi ke sebuah pulau. Sembari menunggu kapal yang akan memberangkatkannya, ia pun istirahat sejenak di sebuah kedai tak jauh dari situ. Memesan sepiring nasi goreng pedas, tanpa minuman. Karena ia membawa tumbler berisi air minum yang dikeluarkan dari tasnya sendiri.

Tak lama setelah ia selesai makan, kapal yang ditunggu akhirnya muncul juga. Dan ia pun segera naik, dengan hati riang gembira syalala abrakadabra.

Kesenangan itu terganggu oleh, ketika ia akan minum lagi, tumbler air minumnya raib. Ia baru teringat, tak sengaja ia meninggalkannya di rumah makan tempat ia menghabiskan seporsi nasi goreng tadi.

Celakanya,
Kapal yang ia tumpangi sudah berlayar menjauh.
Pulau yang ia tuju tak ada sinyal.
Merek tumbler air minum itu… Tupperware.
Punya kakaknya.

Dalam hati, ia berjanji berkali-kali untuk mengambil kembali sepulang ia dari pulau. Tapi apa mau dikata, jika janji dalam hati itu tingkat akuratnya minim sekali.

Sekembalinya dari pulau, begitu menginjak dermaga, ia berlari untuk melihat kedai tempo hari, di tempat ia meninggalkan tumblernya. Padahal saat itu masih pagi. Terlalu pagi untuk kedai manapun di sekitar tempat itu membuka dagangannya.

Tak menyerah, ia menunggu kedai yang dimaksud, dibuka. Sembari menunggu, ia beristirahat di sebuah tempat sahabatnya. Setelah itu, ia pun pulang menuju rumahnya yang letaknya tiga jam perjalanan.

Ia langsung… Pulang?
Apa kabar Tupperware yang ia tinggalkan di kedai?

Oh, CRAP!!!
Ia mengingatnya begitu perjalanan sudah mendekati rumahnya.
Apa yang ia lakukan?
Ia menempuh perjalanan kembali ke tempat ia meletakkan tumbler air minumnya. Iya, kedai makan itu. Yang jaraknya akan memakan waktu tiga jam.

Melelahkan.

Semua dilakukan demi sebuah tempat air minum.

———————————————-

Sewaktu saya menceritakan dengan awalan ‘Alkisah’, itu tidak lantas menyatakan cerita ini sudah berumur ratusan tahun. Satu kata kunci di sini adalah Tupperware. Hitung aja tahunnya. Wadah yang terbuat dari plastik istimewa dengan trademark ‘Burping Seal’ ini ditemukan pada tahun 1946 oleh Earl Tupper. Jadi, cerita di atas berumur kurang dari 60 tahun.

Saya sendiri bukan pengoleksi tupperware seperti wanita-wanita di keluarga saya sekarang. Kalau pengguna, iya. Hanya sebatas itu. Mengingat wadah ini mempunyai harga dalam kategori ‘tidak santai’ untuk ukuran orang Indonesia kebanyakan. Saya sendiri cukup dengan jenis tumbler air minum sederhana untuk dibawa kemana-mana. Itu aja hasil ‘pinjaman’ kakak tercinta.

Ngomongin soal ‘pinjaman’ kakak tercinta, tidak lantas berhenti di situ saja. Sejak tahun 2002, saya selalu tidak berhasil menginventarisir berapa jumlah kerugian yang diderita olehnya akibat kecerobohan yang saya buat. Mulai dari barang-barang yang officially dia berikan hingga operasi penggondolan diam-diam di penjuru kamarnya.

Ada cincin emas yang langsung saya gadaikan ke ibu kos, padahal sudah diwanti-wanti, agar digunakan kalau keadaan sudah mendesak. Kemudian ada koleksi kaset, novel-novel Sidney Sheldon, dan powerbank serta sekutunya. Yang paling parah, adalah N-Gage Classic kesayangannya saya hilangkan medio November 2009.

Ia tidak menegur saya selama lebih kurang dua minggu. Tapi atas nama hubungan adek kakak, ia kembali memaafkan saya.

Gadget berlambang apel cowak pernah hilang di kos-kosan tahun 2011, kemudian terulang lagi akhir Maret 2014 di mobil travel. Hadeeeuh. Kurang apalagi ceroboh saya?

Sebenarnya, ingatan saya baik-baik saja. Tidak seperti ingatan jangka pendek Drew Barrymore yang harus direfresh berkali-kali oleh Adam Sandler di sebuah film. Malahan, gini-gini saya mampu mengingat jumlah teman sekelas dan nama mereka sewaktu sekolah di SD Hang Tuah Surabaya dulu.

Kecerobohan, kelupaan, keteledoran seperti akan melekat menjadi nama tengah saya. Mudah-mudahan tidak. Karena terakhir kali, keteledoran saya meninggalkan dompet di jok motor adalah bukti bedebahnya seminggu penuh harus dihabiskan dengan mengurus kartu dan surat penting. Dompet yang hilang itu adalah pemberian kakak saya (lagi).
See? Unbelievable!

Tumbler Tupperware di sini saya anggap sebagai alert point. Hanya tempelan. Betapa kakak saya menganalogikan tanggungjawab dan ketelitian melalui satu barang. Itu yang terpenting.

Sense of belonging saya terhadap benda sepertinya harus diupgrade. Agar tidak ada lagi barang tercecer, berkurang jumlahnya, rusak, atau hilang ketika berada dalam genggaman saya. Semuanya dimulai dari benda kecil. Namanya Tupperware.

Saya membawa wadah tersebut kemanapun ketika sedang jalan-jalan. Maka dari itu, saya selalu menjaganya dengan pengawasan maksimum. Satu tingkat di atas ketatnya Dementor menjaga Azkaban. Selera saya bisa ngedrop mendadak jika tahu, Tupperware tidak dalam pandangan mata.

Bagaimana jika hilang? Tenang, saya mampu kok membelinya berkali-kali lipat. Kakak saya juga belum tentu tahu, jika wadahnya diganti dengan yang baru. Bukan lantas, menghilangkannya sama dengan saya tidak bisa pulang.
Tetaplah, bisa pulang ke rumah, namun ada satu yang tidak bisa saya perjuangkan lagi dengan susah payah.
Namanya kepercayaan.

Mau lihat seperti apa penampakan Tuppperware keramat saya? Sekali-kali ketemuan ngopi, atau jalan bareng saya aja.
Tapi kamu yang traktir.

THE END.

Whooops!
Saya sempat mengira, kalimat di atas ini akan menjadi kalimat penutup. Tapi saya lupa sesuatu. Jika kamu menanyakan, siapa tokoh utama dalam cerita di awal postingan ini, itu adalah saya.

Thankie.

Posted from WordPress for BlackBerry. @T_onSKY

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s