Masih Tetap Terjaga

Aku tahu.
Kau tak pernah menyapa saat mentari terjaga, aku menganggap itu adalah kelalaian waktu untuk menegurmu.
Kau menguap saat senja begitu indah dinikmati, aku menganggap itu adalah semburat cakrawala yang tidak pantas disajikan kepada kita.

Aku lantang menyalahkan ruang, jarak, dan dimensi, kalau itu tak membuatmu bertahan sedikit lama di dekatku.

Kutunggu saga menjadi jelaga jika itu adalah pilihan.
Bahkan gulita pun tak mampu menyesatkan, saat aku merangkak ke arahmu.

………………………..dan kau memilih memunggungiku…………………………..

Berlalumu tak hanya menyakitkan, namun mematikan.
Tak hanya satu, tapi laksa kemungkinan yang kucoba pertahankan ikut tertelan.
Ingatanku menukik tajam ke arah kalbu, berharap ada celah yang bisa kutuding.

Jika saja sekarang aku menuturkan merinduimu,
— pada tiap detakan jantung,
— pada tiap embusan nafas,
— pada tiap kedipan mata,
semudah menyeberangi segara bara,
Akan kulakukan.

Aku kembali mengiba pada esok agar menggerakkan putaran waktu dengan perlahan, tak perlu terburu-buru.
Aku ingin kau menoleh ke arahku.
Meski sepersekian kepakan sayap lebah, tak mengapa. Itu menggenapkan.

Aku menghabiskan malam ini untuk kembali memikirkanmu.
Memilih kesakitan menunggu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s