Jeda di Antara Dua Cangkir Kopi

Sesapan terakhir kali ini terasa berbeda.
Ampasnya nyata terikut serta.
Pahit.
Seperti cerita kita yang rumit. Berbelit.

Kedai ini ramai, masih seperti biasa.
Hanya saja, kau tidak lagi duduk di kursi yang sama.
Tepat di hadapanku, kita menertawai dunia.

Jalan menuju ke sini pun masih seperti biasa.
Tetapi aku merasa hampa.
Tak ada lagi iringan kaki berirama.
Aku memelankan, kau melajukan.
Kita berdua tahu, kapan harus bersisian.

Semburat senja pun masih seperti biasa. Berpendar dari planet dengan racun memesona.
Kau tahu tempat tepat agar aku tergiring melihat terbenam sang surya.
Dari pojok dekat peturasan meja kedua.
Dan kita sering berkejaran dengan waktu.
Siapa yang tiba terlebih dahulu.
Tak ada pemenangnya.
Hanya kita.
Berdua.
Dulu.

Lagu yang terputar masih sama, seperti biasa.
Bukan dari seniman bayaran.
Melainkan berasal dari pemutar musik genggaman,
Kemudian dibesarkan dengan pengeras suara murahan.
Dan kepalamu mengangguk teratur, ketika aku sibuk bertutur.
Kau mencukupiku dengan indera pendengaranmu.

Aku merunduk pelan.
Cairan hitam pekat itu tidak lagi bersisa.
Hanya ada cerita yang tak sanggup untuk kukais semuanya.
Kau melepaskanku menjelajah satu demi satu bilik waktu yang tak kutemui ujungnya.
Dan sekarang aku terkapar, menggelepar.

“Aku akan hadir bersama dengan seduhan kopi yang kau hirup.
Lepuhkanlah lidahmu agar aku bersemayam dalam ingatanmu,
lebih lama dari detak saga di cakrawala.”

Kau berujar.
Kadang, aku gusar bila kau benar.
Ingatan tentang dirimu tak pernah samar.

Tidak sekali kau menghempaskanku
Meninggikanku sembari memalingkan muka
Meyakinkanku tentang campur tangan waktu
Yang kau sendiri pun enggan untuk bertaruh dengannya

Suatu hari.
Kelak.
Akan ada saatnya.
Mungkin kapan.
Saatnya akan tiba.
Waktu itu.
Kali lain.
Pada.
Manakala.
Itu adalah janji, aku akan menebasmu dalam ingatan panjangku.

From my encephalon…

Bukan hari ini.
Bukan.
Karena aku akan kembali lekat nenikmatimu.
Hingga tiada lagi yang bisa terjumput.
Dengan cara yang kau tak pernah kau bayangkan.
Sebentar, sesaat lagi…

“KOH! KOPI HITAM TANPA GULA, SATU CANGKIR LAGI, YA?”

Hei, aku menang.

 

Samarinda, 11 Februari 2015
Posted from WordPress for BlackBerry. @T_onSKY

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s