Angel Has Fallen

Dua pekan menjelang dan sesudah pergantian tahun, saya habiskan waktu berada di luar rumah. Mulai dari pergi ke rumah teman yang jaraknya berkilo – kilometer, hingga ke derah Kalimantan Tengah dengan moda transportasi yang jauh banget dari kata nyaman. Kita urut saja, dari nyeker, motor, dan bis antar propinsi. Mau menggunakan jasa tour untuk menyamankan diri? Jangan harap, jendral.

No free lunch. Compensation is a valid. Kelakuan saya untuk menghemat budget di segala lini, harus ditebus dengan satu hal yang bikin bete untuk para traveler. Yaitu, sakit.
Sakit yang seperti dulunya kita tulis di surat keterangan untuk guru, bahwa “Kesehatan si anu terganggu”.

Cuaca kota Samarinda akhir – akhir ini seperti tokoh ibu pemilik kontrakan di film Kungfu Hustle yang sedang PMS. Parah banget. Nggak tentu. Kadang panasnya ampun – ampunan, kadang hujan yang baru setengah jam udah bikin banjir di perempatan. Saya yang berada di tengah-tengahnya pun akhirnya harus menyerah dengan keadaan.

Flu.

Terhitung Kamis pagi, saya mulai merasakan gejalanya. Penglihatan ke arah benda menjadi ganda, penciuman sudah tak bisa membaca aroma, hingga organ penyesap mendadak mati terhadap rasa.

Santaaaaai, hanya rasa masakan, bukan rasa cintaku padamu.

Malamnya, semakin menjadi – jadi. Batuk yang biasanya hanya berdehem anggun, berubah mendadak menyerupai dengkingan hewan penggonggong. Napas yang tadinya teratur keluar dari hidung, kali itu terasa seperti dijepit ragum karatan. Sesaknya nggak main-main.

Tubuh saya mengeluarkan alarm. Dia capai. Limit saya telah terpenuhi. Uyuh. Exhausted, jar urang Banjar. 🙂

Flu itu berasal dari virus. Dan virus hanya bisa dilemahkan, bukan dimatikan. Saat kita pertama kali terkena flu, saat itulah virusnya bersarang di tubuh kita. Ia menunggu saat yang tepat untuk muncul lagi. Yaitu, pada saat kondisi daya tahan tubuh kita lemah. Atau, mungkin saya lelah…

Jum’at pagi tadi, bagaimanapun juga, pekerjaan mengharuskan untuk pergi ke sekolah, untuk mengajar anak-anak asuhan saya. Selain karena saya masih bisa menghandle sakit saya, batuk dan pening semalam tiba – tiba menghilang entah kemana. Saya anggap itu pertanda bagus.

Berbekal masker penutup mulut, dan sebotol minyak kayu putih, saya bisa berinteraksi dengan mereka, walaupun dengan banyak pengecualian. Seperti tidak ada salam cium tangan, ngobrol akrab, hingga pelukan yang biasanya mereka lakukan ketika bersama dengan saya. Ditambah, harus menjelaskan dengan sabar kenapa tampilan saya tadi menyerupai dokter bedah, kepada anak-anak.

Saya sedang sakit. Saya tidak berhak untuk menyakiti mereka.

Hari ini Sabtu, besok Minggu. Semoga saja waktu dua hari ini cukup untuk menyembuhkan luka batin #JDAR! Eh, pilek yang diamanahkan untuk saya kali ini.

Pilek itu amanah? Coba runut. Pilek itu penyakit, penyakit itu ujian, ujian itu bisa menjadi berkah, berkah itu titipan, titipan itu amanah. See?

Saya belum terbiasa dengan obat buatan pabrik. Lagipula, pilek atau flu itu justru dianjurkan untuk bed rest. Istirahat. Banyak minum air, dan menyantap hidangan bergizi. Kalau boleh rikues, yang panas, pedas, dan berkuah. (Dan tiba-tiba dikasih muncratan ludah presenter acara gosip. Eeewwwhh!)

Akhirnya, ada beberapa agenda yang harus dilewatkan karena kondisi stamina saya tidak memungkinkan. Salah satunya adalah kemping bareng. Jadi maaf, buat rekan – rekan yang ajakannya untuk bermalam di bukit biru tempo hari lalu saya iyakan.

Sekarang saya ambil baiknya saja, mungkin vakum kegiatan berat selama dua hari, adalah proses restart atau refresh pada tubuh ini. Saya bisa beristirahat dengan cukup. Dalam artian, guling-gulingan seharian. Bisa nonton koleksi DVD hingga tayangan murahan. Dan tentu saja, ide menulis yang bermunculan disaat seperti ini. Aneh-aneh aja sih.

Saya menulis cerita ini juga, karena saya sedang sakit. Yang memang butuh waktu. Waktu untuk beristirahat. Waktu untuk kembali men-charge daya tahan tubuh saya. Waktu untuk berpikir, bahwa saat seorang pejalan terserang penyakit, mungkin setelah sembuh nanti, tubuhnya akan kembali bugar dan siap untuk mengukur jalan lebih jauh lagi. Aamiin.

Apa yang saya lakukan sekarang? Menonton saluran lucu di youtube, memgang smartphone, dan mendengarkan lagu Enya, sayup – sayup.

“… Who can say where the road goes, where the time flows? Only time…”

Selamat beristirahat. Malaikat gadungan ini telah terkapar tampan. 🙂

Posted from WordPress for BlackBerry. @T_onSKY

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s