Happy New Year from Penjual Gorengan

Hai…

Baru teringat, ternyata aplikasi WordPress telah tersedia gratis di Blackberry ringkih di genggaman saya. Dan semalam, alih – alih untuk menulis resolusi tahun baru, saya terjebak dalam hiatus terpanjang dibanding malam – malam pergantian tahun sebelumnya.

Saya berada puluhan kilometer dari rumah. Berada di tempat baru, dengan sahabat baru, dan suasana yang sepertinya jelas akan menggambarkan posisi gaya hidup saya sepanjang tahun 2015 ini.

Enam bulan lalu, saya memimpikan untuk bisa pergi ke Kalimantan Selatan. Tepatnya, Banjarmasin. Dan sekarang, tanpa diduga, saya justru melampaui keinginan tersebut, dengan berada di sebuah kamar mandi di rumah seorang sahabat di sebuah daerah di Kalimantan Tengah. Bahkan waktunya pun terhitung mundur satu jam ke belakang. Waktu Indonesia bagian Barat.

Minggu lalu, di tengah liburan sekolah, saya menggunakan waktu saya untuk berlibur. Tidak perlu jauh. Masih satu pulau. Yang lebih saya inginkan adalah, bagaimana membunuh penasaran yang terus meronta untuk melihat Banjarmasin dengan berada di tengah-tengahnya. Ada apa?

Tepat hari Natal, saya memutuskan untuk menggunakan bus menuju ke kota seribu sungai itu. Berangkat pukul 2 siang, melewati Balikpapan, saya berhenti justru di kota yang jauhnya 4-5 jam jarak tujuan saya. Yaitu Kandangan.

Ini karena sebuah pesan WhatsAp dari sahabat yang berisi ajakan untuk mengikuti Festival Rakit Bambu di Loksado.
Dan tebak, saya menyetujuinya. Padahal ini sama sekali tidak ada di dalam itinerary.
Ceritanya nanti – nanti saja deh. Nunggu ada kompetisi blog. #diinjekmassal

Selama lebih kurang tiga hari di Loksado, dan menikmati keseruan acara di sana, akhirnya saya pun harus memisahkan diri menuju Banjarmasin. Sementara teman – teman yang lain, berbalik arah menuju Samarinda.

Perjalanan dari Kandangan menuju Banjarmasin saya lalui bersama dengan tiga kenalan baru. Aris, Bangkit, dan Ridho. Dengan menggunakan motor, kami berempat menembus dan membelah dingin gelapnya malam… (((MENEMBUS-MEMBELAH))) *pret banget* #terwirosableng

Setelah berencana melihat keadaan pasar terapung yang setiap harinya tersaji pada saat subuh, saya kembali teralihkan dengan ajakan Aris untuk menuju Kapuas, daerah di mana dia tinggal.

Ajaib, saya kembali menyetujuinya tanpa pikir panjang.

Fine. Mulai sore sebelum keberangkatan ke tempat Aris, saya diajak berkeliling kota Banjarmasin. Tepatnya, ini adalah semacam keberuntungan demi melihat dari dekat Toko roti Min-Seng, Klenteng Soetji Noerani, hingga rumah adat Gajah Manyusu. Cerita sejarah seperti terbuka lembar demi lembar mengenai kebudayaan kota dengan nopol kendaraan DA ini.
Cerita selengkapnya, kali lain aja deh… Hihihi.

Dan tahun baru ini, ketika banyak orang mengheningkan cipta sejenak untuk para kerabat dan saudaranya yang terkena musibah, saya pun demikian. Bukan lantas saya menjadi seorang motivator dangdut. Yang membuat seminar, dan membangkitkan kepercayaan diri orang – orang melalui kata mutiara dan pengalaman sedihnya, kemudian ditebus dengan nominal puluhan juta. Bukan.

Mengheningkan cipta yang saya lakukan adalah bersyukur, bahwa kaki saya disanggupkan untuk melangkah lebih panjang. Napas yang tidak terburu-buru mengejar waktu. Dan para sahabat yang bermunculan, seolah mengingatkan kita tidak sendirian. Itu cukup. Let it flow.

Hidup bukan untuk dilawan, ikuti pergerakannya. Seperti saya yang menyerahkan diri untuk terlempar bersama dengan perjalanan tak terduga. Apapun yang terjadi, silakan. Saya tak sibuk menghitung berapa jumlah keringat yang dikeluarkan, karena saya tahu, hal itu pasti akan menuntun saya untuk bertemu dengan pengalaman baru.

Yang menikmati tiupan terompet, yang gembira menerbangkan lampion, yang terjebak di kemacetan, yang berpesta barbeque bersama keluarga, yang memesan makanan layan antar, yang hanya berdua bersama pasangan di kos-kosan, yang menikmati kue sisa kemarin, yang mengupdate status semu agar dikira gembira, yang lagi tepar setelah meneguk Flaming Bikini, yang terkaget dengan ledakan kembang api, yang menemukan tautan hatinya, yang berpura-pura mengikrarkan hubungan di awal tahun, yang berlomba – lomba menciptakan resolusi yang tak kunjung ditepati, yang berencana akan bunuh diri, yang lebih memilih menjadi simpanan daripada tali pernikahan, yang akan bertobat bulan depan dan depannya lagi, yang sedang bersiap jujur mengatakan orientasi seksualnya kepada orangtua, yang menonton tayangan picisan berdurasi gila-gilaan, dan kalian…

Yang sedang membaca tulisan ini,

Selamat Tahun Baru Masehi 2015.

Mengembiklah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s