Impian Akhir Tahun.Part I : Blog

Menjelang akhir tahun, impian saya mendadak menggunung. Seperti tahun – tahun sebelumnya, akhir tahun adalah waktu tepat untuk mewujudkan seluruh impian. Sesulit apapun itu.

Karena ritual akhir tahun pasti akan merepresentasikan apa yang sudah saya capai belakangan sekaligus mempersiapkan diri di tahun depan.

Pertama, ialah keinginan untuk membuat blog baru. Blog lama saya sendiri sudah berganti berkali – kali. 

Diawali dengan multiplydotkom yang kolaps setahun lalu, membuat saya enggan kembali untuk membuat blog bertema perjalanan. Kemudian ada blog standar yang menceritakan pengalaman hidup saya, kemudian ada blog yang menceritakan pekerjaan saya, kemudian ada blog yang menceritakan daerah tempat saya tinggal, kemudian ada blog gratisan dari situs – situs portal berita, dan kemudian membuat saya lelah.

Lelah untuk menghapal username dan password yang dengan bodohnya saya buat berbeda – beda. Lelah untuk memposting tulisan yang kadang muncul kadang enggan seperti orang terkena diare. Belum lagi untuk mengecek berapa jumlah viewer, notifikasi yang kerap muncul di email, dan lain sebagaianya.

Maka dari itu, tulisan ini saya buat untuk menjadi blog pertama menjelang akhir tahun 2014. Saya putuskan ini adalah blog yang merangkum seluruh tagar dalam setiap sesi hidup saya belakangan atau ke depan.

Membuat blog baru pun harus disertai dengan kekonsistensian luar biasa. 

Wait… Saya hampir terkena demam vickinisasi.

Harus bisa berkomitmen dengan para pembaca. Ini kalau blog saya benar – benar dibaca, bukan hanya melihat layout-nya saja. 

Betul – betul harus diniatkan.

Selanjutnya adalah tantangan ke depan yang mengharuskan saya untuk menuliskan minimal 300 kata per hari. Ini semacam kompetisi dengan diri sendiri, bahwa menuliskan kata – kata sebanyak itu adalah hal yang bisa dilakukan. Mudah bagi sebagian orang, lhah saya sendiri? Mengetik di atas keyboard komputer yang dilakukan berdasarkan tingkat mood. Jadi, ini adalah alasan kedua.

 

Di blog saya saya sebelumnya yang Alhamdulillah bertahan selama dua tahun lamanya, hampir tidak ada kotak komentar yang saya sediakan. Tagline yang saya buat kala itu adalah : My blog, my mind, my adventure. Terkesan egois dan mau – maunya sendiri. Nggak boleh ada yang komen. Kali ini, sesusai dengan tipe blog sejuta umat, maka komentar pun disediakan seluas – luasnya, selebar – lebarnya. Ini menjadi alasan ketiga,

Masih seputar blog. Dan masih menjadi impian pertama di akhir tahun. Saya sengaja menghidupkan kembali blog saya yang mati suri, dengan username Penjual Gorengan. Nama itu dipilih, lantaran kemudahan pengucapan, dan tanpa perlu tendensi apa – apa untuk diartikan. 

Penjual ya, penjual. Gorengan ya, gorengan. 

Dua kata yang berarti Penjual Gorengan. 

Orang yang menjual gorengan. 

Pribadi yang berdagang gorengan. 

Psst… yakin, mau nerusin pembahasan gorengan, nih? Bisa ra uwes uwes.

 

Oke, sekarang saya berada di sebuah kafe,  yang menyediakan waifai gratis dan passwordnya ditebus dengan secangkir kopi, serta kentang… Goreng.

 

 

Iklan

2 comments

  1. yang perlu dibenahi semua untuk kedepannya ada’ah keseriusan lo untuk lebih fokus untuk apa yg lo mau capai kedepannya.FOKUS ama yang udah dipilih, and once again!!!be responbilate person!!!atas apa yang udah lo jalaniiiiiii…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s